Fiksi Sejarah : Sultanah Safiatuddin

6 komentar

Terbersit ide untuk menuliskan kisah Sultanah Pertama Kesultanan Aceh, namun saya lalu menjadi ragu ketika menyadari batasan antara fakta dan imajinasi menjadi semakin kabur. Ada kekhawatiran akan terjadinya penyimpangan sejarah atau malah saya merubah karakter asli sang sultanah dan tokoh lain menjadi sebuah kebalikan.

Sultanah Tajul Alam Syafiatudin Syah.

Berita mangkatnya Sultan Iskandar Tsani Al-lauddin Mughayat Syah terbawa angin keluar Istana Darud Dunya, bergerak menyapa setiap telinga. Arakan mendung dengan cepat menyelimuti langit Kesultanan Aceh. Titik hujan menderas, menumpahkan rasa kehilangan. Kelembutan hati sang Sultan memberikan rasa kasih meruah dari rakyatnya. Meski semasa hidupnya kelembutan itu juga yang dianggap ancaman, sebuah kelemahan yang harusnya tak ada dalam menghadapi perang dan ragam intrik kekuasaan. Kelembutan yang jelas berkebalikan dari otoritas yang ditampakkan sultan sebelumnya, sang legenda, Sultan Iskandar Muda. Ayah mertua yang dengan hati kekar pernah memerintahkan hukuman mati kepada putra kesayangannya Seri Sultan Perkasa Alam Johan Berdaulat yang terbukti melakukan perbuatan mesum dengan salah satu istri pejabat kesultanan. Di depan dewan hakim dengan lantang ia meneriakkan “Mate aneuk meupat jirat, mate adat pat tamita” ~Mati anak jelas kuburan, mati adat-istiadat tak akan jelas keberadaannya~.

Sultan Iskandar Muda pula yang mengangkat Sultan Iskandar Tsani yang adalah orang asing sebagai anak, merawat dan mendidiknya dengan kasih, hingga mewariskan tak hanya tahta kesultanan namun juga menikahkannya dengan sang puri, Safiatuddin. Dan setelah Iskandar Tsani meninggal, tak ada lelaki yang tersisa dari keluarga istana.

Safiatuddin, ia bukan wanita lemah, telah bertahun terbiasa dengan hiruk pikuk istana. Meski alur airmata masih terbentuk di pipinya ia tahu ia harus melakukan sesuatu. Singgasana yang kosong harus segera diisi. Ia tak punya banyak waktu untuk meratapi kejandaannya. Maka ditanggalkannya pakaian berkabung, ditegakkannya badan melangkah ke balairung, tempat para hulu balang dan pejabat Kesultanan berkumpul. Ia bisa mendengar suara-suara yang keluar dari dinding balairung. Riuh, saling menimpali dan berbalas. Sepertinya mereka juga menganggap perkabungan usai sudah.

Langkahnya terhenti di depan pintu ketika sang guru Syekh Nuruddin Ar-raniry muncul dari ujung lorong arah berlawanan. Sosok itu mendekat memperlihatkan gurat wajah tenang dengan mata sejernih telaga di belantara sana yang belum pernah terjamah. Sang guru menatapnya.

“Apa yang kau lakukan disini? Kupikir kau tak perlu mendengar diskusi mereka.”
“Mereka membicarakan kesultanan. Aku harus dengar.”

Sang guru mengangguk, membuat tangan Safiatuddin mantap mendorong pintu kayu yang terasa berat itu. Spontan semua mata teralih kepadanya. Tak hanya para hulu balang, bersama mereka juga para Ulama dan Wujudiah. Suara-suara yang tadi bergemuruh terhenti. Ia masuk, dengan rasa percaya diri yang ia tahu harus ia tunjukkan.

“Aku akan mengambil tempat itu, duduk sebagai Sultanah kalian, menggantikan suamiku, mewarisi tahta dari ayahandaku.” Tak butuh waktu lama, suasana ruangan bergemuruh, memanas dengan ragam respon. Ia seakan baru saja menarik pematik granat dan melemparkannya ke mereka.

“Tak mungkin Safiatuddin, kau tak akan sanggup dan kami tak akan rela.”
“Tak ada dalam sejarah, kita dipimpin wanita!’
“Singgasana sudah selayaknya diserahkan kepada keputusan hulu balang. Kita pilih ulang sultan kita. Tak apa tak memiliki darah Iskandar Muda.”
“Merugilah kita jika urusan kaum kita dipegang oleh wanita!”

Tak ada basa-basi atau kalimat diplomatis. Penolakan langsung itu mewakili semua isi kepala di ruangan ini, mungkin juga seluruh negeri. Musyawarah mencapai titik didih menghasilkan emosi. Pikiran tak jernih, lebih mengedepankan ego maskulin berbalut syariat. Ragam dalil dilemparkan, hanya untuk satu keputusan, Safiatuddin tak boleh menjadi pemimpin mereka. Safiatuddin tetap menolak mundur, ini adalah warisan, dan menyerahkannya kepada keputusan Hulu Balang bukan yang ia inginkan. Ia hanya perlu mencari dukungan.

Lalu beberapa dari mereka mengangkat tubuh dari kursi-kursi, pergi meninggalkannya tak merasa harus melanjutkan musyawarah. Meski tetap menebarkan gerutuan ke sesama mereka di belakang punggung Safiatuddin. Sang putri sangat keras kepala, kata mereka.
Tak semua pergi. Beberapa masih duduk disitu, seakan bisa melihat harapan dari sisi yang berbeda. Mereka mencoba membuka kepala dan hati. Syekh Nuruddin Ar-raniry juga tetap disana. Ia tahu kini banyak telunjuk yang diarahkan ke wajah sang murid.

“Mereka tak ingin aku menjadi sultanah. Kau belum berkata apapun. Bagaimana menurutmu Syekh?”

Syekh Nuruddin Ar-raniri, sudah menjadi gurunya sejak ia masih 7 tahun. Bersama Sultan Iskandar Tsani dan semua putri pejabat Kesultanan, ia diajarkan tentang ilmu pengetahuan umum, pengetahuan Agama juga sastra.

“Wanita memang terlarang menjadi imam Sholat, namun menjadi sultanah tak ada larangan.”

Cukuplah kalimat itu baginya untuk tak menghentikan langkah, untuk menghadapi siapa saja yang menentang. Orang-orang yang tersisa disana mengangguk, hati mereka menjadi kuat untuk mendukung Safiatuddin.

Karakter keras yang ia warisi dari sang ayah muncul ke permukaan. Sudah kepalang tanggung, bara yang digenggam biar sampai jadi arang. Ia merasa tak lagi ada waktu untuk bimbang dan memenuhi keinginan suara yang berharap ia mundur. Langkahnya akan terus maju hingga nyawa terlepas. Tak ada jaminan jika ia mundur negeri akan kembali berjaya. Malaka baru saja jatuh ke tangan Belanda menyebabkan perdagangan dan hubungan kerjasama dengan Kesultanan Aceh merenggang. Berton-ton lada yang akan dikirim ke Malaka dikembalikan. Para hulu balang kaya terlalu asik dengan kemewahan, tak semuanya mau ambil pusing.
Ia memang wanita, namun ia peduli dan mau melakukan hal yang akan dilakuakan seorang sultanah. Pundaknya memang akan berat menyandang gelar Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Syah, namun itu sesuatu yang bisa ia pikul.
Maka, ia segera menyiapkan jiname atau serupa mahar untuk menjadi sultanah berupa emas murni 32 kati, uang tunai seribu enam ratus ringgit, berpuluh ekor kerbau, dan beberapa gunca padi. Semuanya ia serahkan untuk dimanfaatkan bagi rakyat. Tak ada lagi yang boleh membantah, ia berhak atas keris dan cap Kesultanan Aceh. Namanya menjadi panjang dengan gelar Sultanah Tajul Alam Syafiatudin Syah


6 komentar :

Posting Komentar

Purple Bookish yang bikin iri!

18 komentar
Bagiku salah-satu blogger yang bikin iri adalah Book Blogger. Iri pada banyaknya buku yang telah mereka lahap, iri pada cerita-cerita yang mereka nikmati –terutama fiksi- juga iri pada betapa cerdasnya mereka melihat sisi kelebihan dan kekurangan buku yang mereka review dan mengungkapkannya kepada khalayak dengan santun.

Aku punya cita-cita ingin menjadi Book Blogger. Sayangnya, itu masih di lapis kesekian cita-cita yang belum lagi tergerak untuk dieksekusi karena penyakit sok sibukku yang kronis. ..huhu..

Makanya, mengenal seorang Book Blogger adalah semacam pemantik untuk tak jauh-jauh dari dunia buku, jadi tahu update-an buku yang asik buat dibaca juga semacam penyadaran untuk lebih memilih membeli buku dibanding baju baru.. upss!


Header Blog yang manis dan warna-warni.
Salah-satu book blogger yang aku kenal melalui sebuah grup GamInong Blogger adalah Cut Lilis Rusnata pemilik blog http://www.purplebookish.com/ 

Dan, postingan kali ini aku tulis khusus untuk ‘nggosipin’ Icut hihi. Tentu berdasarkan data dan fakta hasil ngobrol-ngobrol dan kepo-kepoin akun medsosnya. Yes, I am a stalker! But I only stalk people I admire!

Dari namanya yang dimulai dengan Cut pasti tahu dong kalau doski wanita asal Aceh? 
Icut menghabiskan masa kecilnya di Meulaboh, Aceh Barat. Dulu tak banyak toko buku dan pustaka besar di lingkungan rumah Icut. Namun Icut beruntung karena ayahnya yang seorang guru sering membawa pulang buku-buku untuk Icut baca. Ketika ia bersekolah di MIN, sepulang sekolah ia sering mampir di Perpustakaan Daerah dan disanalah ia menemukan kalau dirinya tak bisa lepas dari buku. Sekarang Icut bermukim di Medan demi sebuah pengabdian. Untung juga ya Cut... di Medan pasti lebih mudah mendapatkan buku.

Blog khusus yang mereview buku milik Icut ini sudah eksis sejak 2012, namun mulai aktif lagi tahun 2014 lalu.  Bukan blog pertama karena sebelumnya Icut juga menulis di blog pribadi. Ia adalah blogger sejak lulus SMU. Meski Icut sudah malang melintang di dunia per-blogging-an, Icut tetap santai dan ngeblog kapan mau saja. Mereview dan bikin postingan pun tak ada target waktu khusus. Sama lah kita ya Cut ^^ Yeayyyy hidup blogger suka-suka!!!.  

Sedikit info tentang Purple Bookish :

Purplebookish.com adalah tempat saya menulis semua hal-hal yang berkaitan dengan buku. Review Buku di purplebookish.com merupakan pendapat pribadi yang berdasarkan penilaian subjektif terhadap buku yang saya baca, lebih tepatnya sih curhat buku ^^. Dalam mereview saya menyertakan identitas buku, rating buku, isi buku secara garis besar, hal-hal yang saya sukai dari buku tersebut dan jika ada saya juga menyertakan hal-hal yang kurang saya sukai yang tentunya saya sampaikan dengan bahasa yang baik dan sopan.  

Blog Purple Bookish dibuat sebagai pelepasan passion Icut sebagai penikmat buku. Ia senang membaca, membicarakan dan membahas buku. Buku adalah candu yang tanpanya dunia tak bewarna... Aissshh mesranya. ^^

"I was Born with a reading list i will never finish." (Maud Casey).

See, quotes yang dikutip Icut ini sudah menjelaskan seberapa candunya ia akan buku.

Setelah beberapa kali berkunjung ke blognya Icut lalu chit-chat di bbm, semakin ketauanlah kalau Icut pembaca buku segala genre namun lebih menggemari fiksi bergenre romance.
  • Rachel Hawkins
  • Hyun Go Wun
  • Ilana Tan
  • Karla M.Nashar
  • Dahlian
  • Christian Simamora
  • Orizuka
  • Windry Ramadhina
  • Dan Brown
  • Enid Blyton 
  • Nina Ardinanti
  • Prisca Primasari
  • AliaZalea
Adalah sederet penulis favoritnya Icut yang apabila mereka menerbitkan buku baru, Icut selalu tergoda untuk pre order atau membeli langsung tanpa banyak pikir. Duh, beruntungnya mereka!

Icut berkeinginan agar semua postingannya bisa dibaca oleh semua umur dan kalangan.Makanya icut memilah dan memilih buku yang 'aman' bagi konsumsi publik.

Selain anggota GamInong Blogger Icut juga anggota Blogger Aceh Suka Buku dan Blogger Buku Indonesia yang kesohor itu. Icut aktif melakukan blog tour buku baru, mereview beberapa buku dari penerbit dan bergaul bersama book blogger lainnya melalui komunitas. 

Dan kalau kamu tahu dimana bisa mendapatkan tiga judul buku ini :
  1. Lapis-Lapis Keberkahan - Salim A Fillah
  2. Kastil Es & Air Mancur yang Berdansa - Prisca Primasari
  3. Bilangan Fu - Ayu Utami
tolong kabari Icut ya, karena itu adalah book wishlist yang dicari Icut.

Ok, sekian dulu gosipnya, kalau mau berkenalan silahkan ya kunjungi blognya Icut http://www.purplebookish.com/ 

Happy life! Happy Blogging!
Haya 

18 komentar :

Posting Komentar

Tebu Jawa di Mauritius!

32 komentar
Satu sudut pemandangan Port Louis

Saya tak menduga akan mendengar nama Jawa disebutkan oleh salah-seorang penduduk Mauritius, sebuah negara kepulauan di sebelah barat daya Samudera Hindia, berjarak sekitar 900 km sebelah timur Madagaskar. Ketika itu taxi yang kami sewa melaju santai pada jalanan basah karena hujan yang menggerimis. Di kiri kanan kami hamparan perkebunan tebu yang luas. Dan sang supir dengan bahasa Inggris berlogat creol mengatakan bahwa tebu yang ditanam di Mauritius bibit awalnya dibawa dari Jawa, hingga berhasil menjadikan Mauritius satu dari penyuplai tebu terbesar bagi industri gula dunia. Meski setelah beberapa dekade berlalu, kini industri gula tak lagi memakai tebu sebagai satu-satunya bahan baku dan Mauritius harus rela mengurangi lahan tebu mereka dan beralih ke sektor lain. Namun tebu Jawa masih mereka kenang sebagai penyokong perekonomian negara kecil seluas 2.040 km2 tersebut. Meski saya bukan orang Jawa, namun Jawa adalah Indonesia dan wajar saya ikut bangga mendengarnya.

Perkebunan tebu yang kami lewati

Saya dan teman-teman sengaja menyempatkan diri berkunjung ke Mauritius karena jarak tempuhnya yang tidak sampai tiga jam penerbangan dari Madagaskar. Kami sampai ketika hari sudah gelap dan langsung menuju penginapan Casa Florida di Pereybere, Grand Baie. Penginapan ini terletak dekat pantai namun juga tak jauh dari keramaian kota. Penginapan ini milik keluarga suami seorang WNI lohhh. Emang ada orang Indonesia di negara ini? Lumayan lahhh kabarnya banyak yang bekerja di beberapa pabrik atau juga awak kapal selain WNI yang menikah dengan penduduk Mauritius tentu saja. Dan senang sekali melihat ada sentuhan Indonesia yang ditampilkan di penginapan ini melalui Spa ala-ala Jawa dengan iringan musik dan dekorasi Jawa. Namun sayangnya di Mauritius belum ada Kedutaan Besar Indonesia, mungkin suatu saat nanti ya.

Karena sesama orang Indonesia, kami betahlahh di penginapan bergaya bungalows ini. Empat malam kami menginap disini.

Ruang Spa di Hotel Casa Florida


Kemana kami esok harinya? 

Jelaslah tur keliling ibukotanya yang bernama Port Louis. Kota ini sangat cantik dan tenang. Ok, sekejap saya sempat berdoa andai bisa menetap di kota ini alangkah indahnya hidup.. Kota maju dengan jalanan rapi, penduduk yang tak terlalu padat berwajah ramah, alam berbukit hijau juga dikelilingi pantai berpasir putih. Negara yang tak luas, namun mampu membangkitkan segala potensi dan pesonanya ~setidaknya di mataku~. Terlihat sempurna sebagai kota impian. Yah, meski ada juga beberapa keluhan yang dikeluhkan penduduknya.

Lalu tebu Jawa?

Untuk berkeliling ibukota kami memilih untuk menyewa taxi dengan harga yang telah kami sepakati. Dan kami melewati perkebunan tebu yang luas.. Saat itulah saya tahu, bahwa zaman kolonialis dulu Belanda membawa pekerja-pekarja dari Indonesia juga bibit tebu untuk ditanam disini. Tanaman-tanaman berasa manis itu tetap ada hingga saat ini.

Melewati perkebunan tebu, kami memasuki jalanan yang tertata rapi dengan bangunan-bangunan kuno di beberapa sudut kota juga bangunan-bangunan modern di tempat yang lain. Wajar, jika negara ini masuk dalam negara maju dan makmur di antara negara-negara Afrika.

Sayangnya kami tak sempat mengunjungi pabrik tebu ataupun museum yang merekam cerita awal mula tentang adanya industri tebu di Mauritius. Untunglah seorang teman yang pernah berkunjung kesana meminjami foto museum, juga data untuk tambahan cerita disini.. Tengkiyuu dear friend!^^

Pada 8 November 1639, Gubernur Belanda, Adriaan Van der Stel, tiba di Mauritius bersama kapal uap yang datang dari Batavia (Jakarta). Ia berlabuh di pelabuhan besar dengan aneka bibit biji-bijian dan bibit aneka buah juga binatang : kelinci, rusa, domba, angsa, merpati dan lain-lain. Sayangnya data rincian tumbuhan yang dibawa besertanya hilang, namun beberapa tahun kemudian padi dan tebu tumbuh subur di pulau ini.

Benarkah tumbuhan ini dibawa dengan kapal uap? Sangat mungkin! Untuk mengkonfirmasi hal ini, Badan Pertanian Mauritius mengkontak badan Arsip di Jakarta, juga menghubungi La Haye di Belanda pada tahun 1950. Kedua pihak yang dihubungi tersebut membenarkan, kalau tebu memang dibawa dan diperkenalkan pada sekitar bulan Desember 1639.


Museum Tebu, foto milik teman.

Museum ini terletak di Pamplemousses, berbentuk gedung bercorak kuno yang dulunya adalah pabrik 'Beau Sugar Estate' yang memproduksi gula mentah. Setelah 177 tahun beroperasi, pabrik ini diubah fungsi menjadi museum populer 'L'Aventure du Sucre'. Museum yang merepresentasikan segala kisah menarik dari industri gula di Mauritius. Di dalamnya diciptakan suasana otentik yang menjelaskan tahapan produksi gula : dari mulai pembudidayaan tebu hingga menjadi produk yang siap untuk dieksport. Bahkan mesin asli, pipa-pipa dan tong atau wadahnya masih dipajang di museum ini termasuk dua lokomotif pengangkut gula ke Madagaskar yang kabarnya berlayar terakhir kali pada tahun 2000. 

Setelah berkunjung ke berbagai sudut museum, pengunjung juga diperbolehkan mencicipi aneka hasil olahan tebu.


Foto from http://blog.airmauritius.com/historical-buildings-mauritius-beau-plan-sugar-estate-laventure-du-sucre/#!prettyPhoto
Industri gula adalah industri utama yang menggerakkan perekonomian Mauritius sebelum munculnya industri pariwisata dan tekstil pada tahun 1960-an.  (http://blog.airmauritius.com/historical-buildings-mauritius-beau-plan-sugar-estate-laventure-du-sucre/#!prettyPhoto)

Menyesal juga tidak menyempatkan diri berkunjung ke museum tersebut, semoga ada waktu lain kali ^^.. Aamiin...aamiin...!!!
 
Port Louis, sang ibukota dan Caudan Waterfront.

Port Louis adalah ibukota, pusat pemerintahan, pusat perekonomian juga pelabuhan utama terbesar di Mauritius. Disini dibangun terminal dan dermaga bagi masuknya barang import dan keluarnya barang eksport yang juga diawasi oleh kapal National Coast Guard. Dekat kawasan pelabuhan ini dibangun mall pusat perbelanjaan terbesar bernama Caudan Waterfront, maka kelayapanlah kami dari toko souvenir ke toko pakaian lalu ke toko perhiasan. Cuci mata saja sebenarnya, karena dengar-dengar harga disini lebih tinggi dari di tempat lain. Dan kami masih punya hari lain untuk membeli oleh-oleh :D

Port Louis sudah dijadikan kota pelabuhan sejak tahun 1638 yang lalu dibawah pemerintahan Perancis pada tahun 1735 menjadi kota administratif. Letaknya yang strategis menjadikan pelabuhan ini menjadi tempat persinggahan kapal-kapal perancis dari lintasan Asia dan Eropa. Nama nya sendiri diambil dari nama Raja Perancis yaitu Raja Louis XV. Karena dikelilingi oleh pegunungan Moka, Port Louis relatif aman dari cyclone yang kerap melewatinya.

Asiknya di Port Louis, restoran berlabel sertifikasi halal mudah ditemukan. Supir taxi yang menemani kami juga seorang Muslim. Ia menjelaskan tentang restoran cepat saji yang bisa kami datangi untuk mengisi perut ketika lapar. Juga menunjukkan beberapa mesjid yang kami lewati di sekitar kota. Kerukunan beragama di Mauritius patut diacungi jempol. Hindu sebagai agama mayoritas lalu Kristian, Muslim dan Budha hidup rukun berdampingan.
Bar and Resto terapung, sepertinya tidak halal, kami tidak makan disini meski suasananya cocok buat makan sambil melamun santai.

Penduduknya multi etnis juga multi bahasa. Mereka bisa berbicara dengan bahasa Inggris, Perancis, juga bahasa Kreol Morisien yang adalah perpaduan bahasa Inggris dan Perancis namun berlogat mirip-mirip India.. Dialek yang sebenarnya enak didengar. Dan penilaian sekilas secara subjektif, wajah dan karakter mereka mirip India : kulit coklat gelap, rambut hitam legam, hidung mancung dan berparas tampan atau cantik. Selain ada juga ada yang berperawakan Asia (Cina) dan Afrika.


Kapal-kapal yang tampak dari kawasan Caudan Waterfront

Kawasan diluar Mall Caudan Waerfront.
Bukan hanya Caudan Waterfront yang memperindah Port Louis, ada banyak bangunan kuno dan modern lainnya.. 

Persimpangan jalan di Port Louis

Tuhhh, orang-orangnya mirip India kan?

Masih banyak sebenarnya sudut kota lain, ada China town juga pasar tradisional yang tak serapi ini namun juga menarik untuk didatangi. Tapi, ini dulu aja ya.. ^^


Mohon saran dan perbaikan jika di antara pembaca menemukan kesalahan data atau informasi.
Happy life, happy blogging!
Haya


Referensi :
https://en.wikipedia.org/wiki/Port_Louis
https://en.wikipedia.org/wiki/Mauritius
http://blog.airmauritius.com/historical-buildings-mauritius-beau-plan-sugar-estate-laventure-du-sucre/#!prettyPhoto

32 komentar :

Posting Komentar

Tamiang : Tempat untuk Pulang (2)

11 komentar
Jalan kecil di Mauritius, bukan Tamiang!
Setelah sedikit cerita tentang Kuala Simpang, mari kukenalkan sebuah tempat yang mungkin terdengar asing di telinga kalian, namun bagiku tempat itu melekat erat serupa darah yang mengalir di pembuluh, serupa dua bola mataku yang tetap di dalam tempurungnya. Tempat itu bernama Pulau Tiga, kemana pun aku pergi, ia tetap ada di dalam memori otakku.

Nun untuk mencapainya setiap liburan kuliah,  aku dulu harus memburu waktu. Tak boleh lewat jam lima sore karena jika terlambat hanya terminal kosong di sudut kuala simpang yang aku temui, tanpa ada lagi mobil-mobil yang kami sebut ADT terparkir.  Mungkin para supir tak mau ambil resiko kemalaman di jalan, mungkin biasanya memang tak lagi ada penumpang di bawah jam lima. Jadi, masa-masa mudik dari kuliah dulu, kami harus bergerak sepagi mungkin dari Banda Aceh, agar 'tak ditinggal' ADT ke Pulau Tiga.

Perjalanan dari dan menuju Pulu Tiga lah yang menjadikanku pengkhayal. Ada banyak cerita khayalan yang berputar-putar di kepalaku ketika mobil berguncang-guncang melewati jalanan rusak dengan pemandangan deretan pohon sawit dan karet di kiri kanan jalan. Dulu, khayalan-khalan itu hanyalah serupa adegan-adegan sinetron yang berakhir manis, cerita cinta-cinta monyet atau keinginan-keingina terpendam yang mungkin membuatku tampak aneh bagi siapa saja yang mau memperhatikan `karena sering tersenyum-senyum sendiri~. Tapi sepertinya tak ada yang repot-repot memperhatikan~

Perbukitan dengan pohon-pohon sawit menciptakan warna hijau, namun debu-debu yang beterbangan di udara saat musim panas, memberikan sentuhan kelabu. Itu lebih baik dibanding musin hujan yang menciptakan lubang-lubang berlumpur serupa kubangan, membuat perjalanan menjadi lebih lama.

Tapi tak apa,  karena di sebalik perbukitan dan perkebunan sawit itulah kami bermukim. Ada surga sederhana ~istilah yang sedikit memaksa~ tempat aku dan kelima saudariku tumbuh dan berkembang.

'Gapura' perdusunan kami akan dibuka dengan lapangan bola yang luas. Lapangan yang ramai ketika Agustus tiba dan sepi di bulan lain. Lapangan itu dikelilingi rumah gedong bergaya kolonialis dengan pondasi batu besar, tembok kokoh dan aneka tanaman hias di berandanya. Rumah-rumah gedong itu sepertinnya ditinggali oleh para pejabat perkebunan. Terkadang ada mobil-mobil jeep yang terpakir di depannya. Penghuni rumah itu sepertinya berganti-ganti. Mereka adalah orang-orang kota yang ditugaskan mengurus atau mengawasi aktivitas perkebunan sawit di tempat kami. Tak jauh dari situ juga ada kompleks perumahan para pegawai atau pekerja perkebunan. Beberapa teman SD ku tinggal di kompleks itu tapi aku tak terlalu mengerti kehidupan mereka karena aku bukan anak kompleks, aku anak keude! Oya, di seberang lapangan bola tadi ada pohon beringin yang telah hidup bertahun-tahun.. Pohon itu besar dengan sulur bergantungan. Dulu pohon itu diisukan seram, banyak hantu atau jin segala jin. tapi tak sekalipun aku bertatap muka dengan mereka. jadi aku anggap itu adalah cerita berlebihan.

Sampai di simpang tiga, yang adalah pusat dari segala aktivitas kesibukan dusun itu, aroma sate padang dari gerobak sepeda bang ... ~maaf lupa nama si abang~ akan memenuhi udara dan singgah di penciuman. Dulu, itu adalah jajanan favoritku. Ketupat yang digantung di pinggir gerobak akan dibelah, lalu dipotong serupa dadu dan dituangkan dalam bungkus picuk daun pisang. Tusuk-tusuk sate yang telah disusun di atas arang, dikipasi hingga matang dan beberapa bagiannya kehitaman lalu disusun di piggir potongan ketupat, bumbu kental berwarna kuning akan disiram di atasnya lalu taburan bawang goreng sebagai pelengkap akhir. Harganya tak mahal!. Udara sekitar akan bercampur dengan aroma lain : aroma mie Aceh nan pedas, uap-uap dari bijih kopi yang diseduh air panas, mie bakso bergelimang di udara. Jika pagi hari tentu juga akan ada aroma nasi gurih yang menggoda. Ok, aku rindu semuuaaaaa jajanan itu sekarang!!


Di depan deretan ruko, ada sebuah mesjid dengan menara tinggi. Mesjid itu dibangun ketika aku masih SD dan selesai sepertinya ketika aku sudah duduk di tsanawiyah. ~kalau tidak salah ingat~ Mesjid itu adalah tempat dimana segala bakat kami anak-anak dusun dikeluarkan. Latihan puisi, azan (bagi anak laki-laki), hafalan-hafalan surat pendek, shalawat, doa-doa juga praktek sholat.

Podium Mesjid itu juga menjadi saksi aku remaja yang gemetar namun bersuara lantang ketika menunaikan tugas 'khutbah' berbekal selembar kertas dari pondok pesantren setiap libur Ramadhan tiba. Tugas yang kunikmati karena ketika itu aku bisa melihat binar Bapak di shaf pertama, juga lalu obrolan singkatnya kepada teman-temannya. 'Si Aton, ka carong i pidato!'

Ya, begitu, Pulau Tiga adalah tempat kuhabiskan masa kecil yang penuh kenangan... masih banyak kenangan lain, cerita lain dari sudut tempat yang lain, tapi takutnya kalian bosan membacanya :D






11 komentar :

Posting Komentar

Tamiang : Tempat untuk pulang.

19 komentar

Ada beberapa tempat yang bisa kujadikan pilihan untuk pulang. Salah-satunya : Tamiang!

Kubayangkan aku akan menapaki tanahnya setelah turun dari angkutan umum L300 di sebuah terminal tak terurus. Udara panas dengan debu jalanan tentu akan menyapa kulit dan tubuh penatku. Setelah sekitar tiga jam lebih perjalanan dari Medan aku merasa butuh mencuci muka. Tapi di terminal itu, hanya ada toilet kotor dengan pintu kayu yang tak bisa dikunci dan keran bermulut kering menempel di dindingnya yang terkelupas. Tak ada air, tak setetes pun. Jadi, lebih baik membeli sebotol air mineral dan menuangkannya ke tisu untuk cuci muka ~tentu karena aku tak pernah punya tisu basah~.

Deretan Pertokoan di Antananarivo, Madagascar

Lalu, segala kehiruk-pikukan kota Kuala Simpang hadir membangkitkan memori bertahun lampau. Deru becak mesin yang dulu kerap menjadi andalanku dalam menjangkau satu tempat ke tempat lainnya, juga mobil-mobil ADT dengan pintu samping terbuka dan deretan bangku bersarung senada. Deretan ruko dengan terasnya yang dipenuhi pejalan kaki. Juga kios-kios kayu di pajak tempat berjualan aneka barang. Lalu suara-suara berirama Tamiang, membuai telinga ~Ah, betapa aku rindu irama itu~ cengkok Melayu yang mempengaruhi bahasa Tamiang akan bercampur dengan logat Batak, logat Jawa, beberapa logat Aceh Pidie atau Aceh Utara juga Cina dan Padang. Suara-suara dan wajah-wajah di Tamiang lebih beragam. Tamiang begitu ramah dengan pendatang. Siapa saja bisa hidup, menghirup udaranya dan meminum air dari aliran sungai tamiang. Tamiang menjadi Aceh di perbatasan yang dulu ketika konflik memanaspun tetap dengan ketenangannya yang sahaja.

Aku akan berjalan menyusuri deret toko-toko itu. Lalu terpana pada beberapa papan nama toko dengan nama yang familiar. Toko mas Rapi tempat mamak dulu biasa memesan aneka bentuk perhiasannya, toko Jakarta yang di dalamnya berderet toples kaca berisi aneka kueh kering juga permen-permen aneka warna, bentuk dan rasa. Favoritku dulu adalah kue kering yang terbungkus serupa lumpia kecil yang di dalamnya menggumpal abon udang berasa gurih. Lalu di depan toko-toko kain aku seolah melihat diriku dalam sosok kanak-kanak, berdiri di depan pintunya, jelas tampak tak sabar. Aku akan menarik-narik tangan mamak agar beranjak dari sana, tapi tampaknya mamak masih sibuk dan bersemangat memilih-milih kain yang akan ia jahitkan menjadi pakaian. Biasanya ada bangku kayu di samping pintu, ketika mamak tak juga selesai dengan keperluannya aku akan duduk di bangku itu dengan wajah cemberut. 

Jika ke Kuala Simpang bersama Bapak, maka tujuan kami sangat jelas. Begitu sampai kami akan berjalan tergesa keToko Saudara yang adalah suplier utama barang-barang komoditi keudeu Bapak. Aku akan kepayahan mengikuti langkah besar Bapak. Tapi Bapak tak akan memperlambat langkah. Setiap menit bagi Bapak adalah berharga. Sampai di dalam, toke Cina dengan kaos singlet putih dan celana buntung sedengkul menyambut kami bersama beberapa pekerjanya yang semua telah mengenal Bapak. Abang-abang pekerja itu biasanya telah bewarna dan beraroma sesuai isi toko. Warna dan aroma toko kelontong. Kipas besar terus berisik berputar di atas kepala kami, karena Tamiang sering bercuaca terik. Bapak akan menyodorkan selembar atau dua lembar kertas lusuh yang sedari di rumah telah ia tulis : daftar belanja. Beberapa karung besar dan kecil beras, karung-karung terigu, karung-karung gula, kopi, teh, mie instan, aneka sabun cuci dan mandi, mentega dan barang-barang kebutuhan lain yang akan muat memenuhi mobil bak terbuka. Bapak tak akan menunggu barang-barang itu dikeluarkan dari gudang, ia hanya menunggu penghitungan total harga lalu meletakkan segepok uang di atas meja toke Cina tadi. Si toke akan menghitung cepat mengembalikan beberapa lembar atau malah menulis angka-angka baru di buku hutang-piutang miliknya. Semua ia lakukan sambil bersuara keras dalam bahasa cepat. Kertas lusuh Bapak tadi akan berpindah tangan ke abang-abang pekerja. Bapak segera keluar toko, terkadang terlupa ada aku yang masih mengikutinya. Berjalan beberapa meter, masuk ke deretan toko yang kali ini terletak menyempil di belakang deretan toko lain, Toko Muda, menjual bahan-bahan perlengkapan 'kereta'. Adalah sebuah ide cemerlang bagaimana Bapak bisa memiliki keudeu kelontong yang juga menjual sparepart kereta ~Oya mungkin kalian sudah tahu, kalau di Aceh kami menyebut sepeda motor dengan kereta~. Maka kali ini catatan lain dikeluarkan Bapak bertulis nama-nama busi segala nomor, ban dalam, ban luar, jari-jari kereta, pelumas mesin, aneka onderdil dan lain-lain yang aku tak terlalu mengerti. Prosesnya sama cepat karena Bapak adalah laki-laki tanpa basa-basi, segepok uang juga berpindah tangan.

Tengah hari, Bapak akan selesai dengan segala keperluan belanjanya. Aku harus mengingatkannya untuk masuk ke toko tas dan perlengkapan sekolah.Karena untuk itulah aku dibawa. Membeli tas untuk sekolah karena tas lamaku telah bolong di beberapa bagiannya. Bapak akan memilih satu tas yang menurutnya cukup kuat dengan harga miring, namun aku menolak dan mengambil tas sesuai dengan model yang aku inginku. Kami akan berdebat sebentar, biasanya Bapak yang menang namun kali itu aku akan keluar toko dengan senyum terkembang memeluk tas pilihanku. Dompet Bapak tentu telah semakin tipis. :D 
 
Lalu kami harus bergegas, dengan barang-barang yang telah rapi dimuat di bak terbuka mobil, kami kembali ke rumah di sebuah dusun bernama Pulau Tiga. Nama yang aneh, karena tak ada lautan yang bisa membuat dusun itu cocok disebut pulau. Juga membingungkan karena tak pernah bisa ditemukan pulau satu atau pulau dua di sekitarnya. Tapi memang itu namanya, Pulau Tiga, bagian dari kecamatan Tamiang di bagian hulu. Yang tersembunyi di antara deretan pohon-pohon kelapa sawit juga pohon-poon karet.


...bersambung....


19 komentar :

Posting Komentar

Buku yang kubaca berulang

19 komentar
Ada beberapa buku yang betah kubaca berulang-ulang. Membaca kali pertama, aku hanya mengejar jawaban dari cerita yang terjalin, namun membaca ulang untuk kedua, ketiga dan seterusnya adalah upayaku memuaskan diri akan taburan diksi yang indah juga kenikmatan dalam mencemburui penulisnya yang mampu menghadirkan jalinan kalimat serupa itu. Tak hanya kalimat namun ide-ide yang terkadang memenuhi halaman per halamannya. Dan tak perlu lagi membaca runut sesuai bab. Aku akan melompat sesuka hati. Membuka halaman secara acak untuk lama memutuskan membaca ulang bagian cerita yang mana. Maka, buku-buku pilihan itu kadang akan terus berada di bawah bantalku. Menjadi teman pengantar mimpi dalam tidur.

Bab Pertama dari And the Mountains echoed-nya Khaled Hosseini menggodaku untuk menulis serupa dongeng rakyat Afghan. Maka berkali-kali kupelajari gaya bertuturnya. Meski, tetap saja rasanya aku sangat kelelahan dan berada jauhhhh di belakang untuk bisa menyamainya. Luka and the Fire of Life-nya Salman Rushdie juga sama. Menggoda untuk ditiru namun membuat napasku tersengal ketika mencobanya.

Thurston House-nya Danielle Steel juga betah di dalam tas untuk beberapa minggu kubawa kemana-mana, dengan sesekali mencuri kesempatan untuk membaca ulang : ketika menunggu teman, di dalam mobil atau menunggu pesanan makanan sampai di sebuah tempat makan. Kisah romantis, cara penggambaran tokoh yang hidup dan konflik yang kuat membuatku terpancing menulis cerita manis yang sama.

Laskar pelangi-nya Andrea Hirata. menceritakan kehidupan sederhana yang lugu berbalut kearifan lokal dengan ringan namun menggelitik, segar. Novel ini pertama kali aku baca sekitar tahun 2008, dan sampai sekarang aku masih suka membuka acak lembaranya. Belajar menulis secara ringan namun cerdas dan beda. Dan... juga belum berhasil.

Ada beberapa judul lain karya-karya Pramoedya Ananta Toer, Dee Dewi Lestari juga JK Rowling. Untuk buku memoar perjalanan ada Selimut Debu dan Garis Batasnya Agustinus Wibowo.

Hasilnya... aku serasa menjadi pemilik kepribadian ganda! Dalam hal ini ingin menulis multi-gaya serupa mereka semuanya. Jelas, aku kepayahan. Siapa aku? Cuma penulis 'want to be!.

Mungkin aku hanya butuh menjadi diri sendiri? menulis tanpa target menjadi sehebat mereka? Namun diri sendiri yang mana? Seseorang yang ingin menulis namun belum punya bukti apa pun akan kepiawaian dalam menulis fiksi? Rasa penasaran menggentam dada dengan pertanyaan 'Apa aku bisa menulis?, Apa tulisanku bagus untuk standar sebuah novel? Kenapa susah sekali untuk menerbitkan buku? Apa aku harus menyerah saja?' Dan jawabannya adalah... 'terlalu tanggung untuk berhenti!'
 
Ok, ini semacam kegalauan. :(

19 komentar :

Posting Komentar

Tentang Kita (Puisi)

Tidak ada komentar


Tentang kita yang hampir melupakan masa lalu
Tentang mereka yang belum lagi dilahirkan
Ada benang, terhubung, tersambung.
Kita menjejak bumi yang sama
Sama namun tak terus sama
Bumi berubah,tergatung tangan kita.

Antananarivo, 24 Juli 2015

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Kamu ya!

22 komentar
Neny tak pernah memanggilku dengan 'kamu' maka ketika suatu sore ia melakukan itu, aku jadi curiga dan berpikir 'jangan-jangan neny lagi mabok?'

Neny dan Dadabe, foto dipasang setelah izin keduanya :D

Hari itu Sabtu sore, ketika Dadabe baru saja pulang dengan menyembunyikan wajahnya. Biasanya jika ia menghilang ke rumahnya di bagian belakang rumahku tanpa menyapa, ada sesuatu yang ia sembunyikan. Bukan benda atau barang, namun wajah merah dan mulut beraroma alkohol murahan yang ia teguk entah di hotely (warung) mana. Masalah ini dulu di awal-awal Dadabe bekerja dengan kami telah coba kami selesaikan. Tapi namanya saja sudah kebiasaan dan jamak dilakukan oleh orang-orang di sekitar mereka... Kadang-kadang Dadabe masih saja mengulangnya meski tak separah dulu.Setidaknya sekarang jika ia mabok, ia akan 'disembunyikan' neny di kamar... harus tidur dan tak menceracau apalagi mengamuk. Mereka memang suami-istri.

Nah, Sabtu ini malah neny yang bersikap aneh..

'Kamu ya.. jangan makan banyak-banyak cabe. Pedas! Sakit perut kamu!.. Kasihan... ibu kamu jauh. Kalau sakit, tak punya ibu.."

Kalimatnya berulang-ulang dengan mata besar... Neny memanggilku 'kamu?' biasanya ia selalu memanggil 'ibu' atau 'madame'.

Ia lalu keluar sibuk dengan jemuran yang baru ia angkat, naik ke atas meletakkan beberapa pakaian yang sudah ia setrika...

'Kamu ya... makan nasi banyak! Jangan sakit perut.. masuk angin..angin lagi nakal!' Neny kembali dengan nasehatnya lagi ketika melihatku masih di dapur, menyiapkan menu buka puasa.
'Iya Nen, iya!', aku harus menjawab iya dengan cepat... karenan tatapannya memaksa.

Dan setelah ia keluar menghilang ke rumahnya.. aku tutup pintu dan kunci rapat... tiba-tiba menjadi paranoid.. Meski tak ada bukti neny mabok, namun tingkahnya berbeda dari biasa. Mungkin ia memang gemas dengan hobiku yang suka sekali makan pedas? Mungkin ia sedang menunjukkan perhatian terhadap beberapa keluhanku akhir-kahir ini tentang angin yang berkumpul di perutku?. Bisa jadi.. tapi tetap terasa aneh.

Tentang perhatian dan keceriwisan.. Neny memang serupa orang tua bagi kami. Pernah, aku telah bersiap keluar rumah, neny menatapku lama lalu memintaku berganti celana.. alasannya celanaku tampak kusut di bagian bawah. 'Nanti ibu malu' alasannya ketika itu. Pernah juga suamiku yang ketika itu akan berangkat ke sebuah acara semi resmi dengan sepatu yang menurutnya kurang pantas... Dan suamiku pun mengganti sepatunya sambil senyum-senyum..


Sekarang ia sudah bersikap biasa..memanggilku dengan ibu dan tak menatap tajam.. Tapi aku tak juga menemukan kalimat untuk memastikan sikapnya kemarin.

22 komentar :

Posting Komentar

Na, ada sesal di sini.

28 komentar

Beberapa hari ini perasaan sendu, blues..bergayut. Musim dingin dengan udaranya yang menggigit membuat sedih datang mendadak.. tak jelas karena sebab apa..Rumput yang mengering kuning berpadu langit Antananarivo yang kelabu..


Kamis kemarin juga terasa sangat berbeda. Berangkat ke pengajian di KBRI terburu-buru...migraine yang menyerang, flu yang datang membuat sulit bernapas, mata mengantuk meski telah cukup tidur, gamis merah yang kupakai terasa menggantung dengan batas kaos kaki yang terlihat.. sangat tidak serasi dengan jaket hitam kebesaran dan sepatu pink dekil yang kupakai... membuatku aneh.. tidak rapi dan tak percaya diri, hingga cicitan marmut di halaman rumah pun terasa mengganggu.Oh, Tuhan padahal mereka hanya binatang kecil yang mungkin sedang lapar..


Dan berita itu datang menjelang maghrib di sini, melengkapi segala perasaan biru.. Menyentak sedih menghasilkan tangis. Iya, Na.. aku menangisimu.. Kamu pergi..benar-benar pergi?


Kita belum pernah bertemu..obrolan kita pun hanya sedikit sekali. Tentang kamu, tentu aku tak banyak tahu kecuali kalau tulisan-tulisanmu sangat indah. Kamu sendiri yang bilang kalau tulisanmu berwarna gelap, namun aku begitu menikmati gaya bertuturmu yang melankolik romantis, yang manis dan cerdas dan bertanya-tanya.. mengapa kamu sering sekali membicarakan tentang kematian?.

Common thought kak, Na biasa berpikir tentang mati. Toh pada akhirnya kita semua mati.

Na lelah dgn segala cemas panik galau yang Na nggak bisa Na kendalikan.

Rasanya yang namanya masalah panik itu ga mo hilang, ngikut diem2 kemana Na pergi. Begitu ada jalan mereka menggila. Asli capek banget.

tapi Na ga papa kok.

i'm fine :)
Benar kamu baik-baik saja Na? Mungkin ummi dan Wempy yang tahu banyak hal tentang kamu..

Kita hanya orang asing yang saling berbagi kisah di blog... Adalah sebuah cara yang canggih bagaimana kita seolah saling kenal lewat tulisan-tulisan kita. Dunia maya katamu... namun percayalah Na, rasa sayang dan kagum ini nyata. Kagum bagaimana caramu menghidupkan setiap kisah di 'Dunia Kaca Nana'. Dan aku masih sangat berharap akan ada kelanjutan tulisan di sana... Namun kamu pergi Na..

Innalillahi wainna ilaihi rajiun.

Harusnya di saat-saat terakhirmu.. aku menyapa...menanyakan kabar. Harusnya aku lebih peduli dan menjaga komunikasi denganmu... Harusnya setelah kau bagikan tulisan terakhir itu aku bisa menangkap ada isarat perpisahan di sana... Harusnya aku bisa lebih peka.. Harusnya.... Ahhh ada sesal di sini Na. Aku benar-benar akan merindukanmu...

Maaf..
Maaf...


28 komentar :

Posting Komentar

Mohandas Karamchand 'Mahatma' Gandhi

25 komentar
Foto dari http://www.finewallpaperes.com/great-indian-person-mahatma-gandhi-photo-gallery-2nd-october-gandhi-jayanti/mahatma-gandhi-quotas-with-natural-wallpaper-wide-wishes/
In a gentle way, you can shake the world

Ketika di dunia terlalu banyak kebencian yang diumbar, saling hujat dan mencari celah untuk terus berdebat dan berselisih, harusnya kita kembali melihat pada ajaran kedamaian yang didengungkan beratus tahun lalu oleh Mohandas Karamchand Gandhi. Sosok inspiratif dan yeahhhh dengan dada berdesir kudaulat menjadi satu dari sekian pahlawan dunia yang aku kagumi. Dan aku bukan satu-satunya pengagum beliau, pasti ada ratusan juta... atau lebih....bukan hanya orang India namun seluruh dunia. Bapu (salah-satu panggilan beliau yang artinya bapak) telah membuktikan kalau ia mampu menggerakkan dunia dengan kelembutan. 'In a gentle way, you can shake the world', Dengan kelembutan, kamu bisa mengguncangkan dunia!

Dan kalau kamu termasuk yang suka berdebat tentang apa saja di media sosial, merasa yang kamu perdebatkan adalah kebenaran lalu dengan mengerahkan segala intelektual rasional juga kemampuan retorika yang kamu miliki untuk menyerang dan melecehkan lawan debatmu, maka please dehhhh baca atau nonton kiprah Bapu, kamu akan menemukan cara damai untuk berjuang! (Maaf, kalau ini terdengar meletup-letup ya friends.. :D )

Dalam rentang kehidupannya (2 October 1869 – 30 January 1948), Bapu juga menghadapi ragam 'kekacauan' dunia : penjajahan kolonialis, Perang Dunia juga kebencian antar ras : kulit gelap-kulit putih, pribumi-kolonialis, Muslim-Hindu-Kristian.

Ketika pertama kali datang ke Afrika Selatan sebagai pengacara para pedagang Muslim di Pretoria, ia diturunkan di jalan karena menolak pindah dari gerbong yang diperuntukkan hanya untuk orang Eropa berkulit putih, sedangkan kulit Indianya berwarna coklat.. Namun esoknya ia melakukan protes hingga berhasil naik ke gerbong yang sama di hari yang berbeda. Ia juga diperlakukan diskrimatif ketika memilih penginapan bahkan ketika berjalan di trotoar, ia melawan dengan gaya diplomasi karena ia adalah lawyer lulusan Hukum dari University College of London. Ia keras kepala mengatakan kalau semua orang memiliki hak yang sama.

 Di Afrika Selatan, ia mendirikan komunitas India yang mengabaikan segala kasta. Bahkan istrinya bertugas membersihkan toilet umum untuk menunjukkan persamaan itu. Karir politik dan kepopulerannya di Afrika Selatan menjadikannya tokoh nasionalis India yang memiliki pengaruh secara Internasional.

Kembali ke India tahun 1915, ia melihat betapa menyedihkan nasib kaumnya. Ia bepergian ke setiap bagian India, melihat dengan matanya sendiri, merasakan jiwa nasionalisnya bergelegak. Pemerintahan, kemiliteran bahkan tanah-tanah dikuasai oleh Inggris. 

Ia melakukan kampanye 'Non-cooperatif movement' yang dipadukan dengan 'Non-violent civil disobedience' yaitu kampanye menolak patuh pada peraturan kolonialis Inggris dan pembangkangan rakyat tanpa kekerasan ke setiap bagian India. Melawan, menolak patuh namun tanpa kekerasan!. Ide hebat namun terdengar impossible. Bagaimana bisa menghadapi para tentara Inggris bersenjata lengkap juga para tuan tanah arogan berdarah dingin tanpa kekerasan? Bagaimana untuk tidak terpancing emosi ketika dilarang menjual hasil tanah sendiri? Bagaimana tetap menahan ego ketika berkali-kali dipukul dengan popor senjata karena menolak mengakui peraturan penguasa yang jelas tak berprikemanusiaan?. Bagaimana untuk tidak menyerah ketika begitu banyak moncong senjata berhulu ledak telah diarahkan ke dada karena menolak membayar upeti dari hasil tanah yang paceklik?.

Salah-satu cara melawan yang dikampanyekan Bapu adalah aksi damai, melakukan mogok kerja pada segala aktivitas di desa dan di kota hingga melumpuhkan perekonomian kolonialis, berpuasa tak makan apapun.. dan memang ia memiliki karisma luar biasa.. hingga jutaan orang begitu patuh mengikuti caranya?.

Ia sendiri hidup sangat sederhana..terus mengkampanyekan untuk berhenti membeli barang-barang luar negeri.. 'Tenun pakaianmu sendiri! Makan dari hasil tanahmu! Maka kita akan punya harga diri!' begitu kira-kira pesan kampanyenya. Hanya kira-kira, karena itu kalimatku :). Melawan kolonialis dengan menunjukkan kemandirian ekonomi. Apa yang ia lakukan membuat Inggris geram hingga bolak-balik memasukkannya ke penjara dengan tuduhan mengganggu ketenangan dan memprovokasi.


Ia bahkan menenun sendiri pakaiannya. Sumber foto : https://en.wikipedia.org/wiki/Mahatma_Gandhi

Dalam bukunya yang terkenal Hind Swaraj (1909) Gandhi menyatakan bahwa pemerintahan Inggris didirikan di India dengan kerjasama dari India dan selamat hanya karena kerjasama ini. Jika India menolak untuk bekerja sama, pemerintahan Inggris akan runtuh dan kemerdekaan akan datang. [90]

Sebagai Hindu yang hidup di negara mayoritas Hindu, ia mampu merangkul kalangan Muslim dan Kristian. Terus mengajarkan dan memberi solusi atas kedamaian. Namun kerusuhan dengan pertumpahan darah seringkali tak terelakkan. 

Setelah Inggris pergi, meletus konflik Muslim-Hindu. Pembentukan negara Islam Pakistan membuatnya sedih, karena menurutnya Muslim dan Hindu bisa hidup damai dan rukun dalam satu negara. Ketika kedua umat beragama tersebut saling bunuh, ia melakukan aksi protes dengan 'tak akan makan sampai semua senjata diletakkan'. Ketika itu ia telah menua, meski ketika muda ia terbiasa melakukan aksi protes puasa, kali ini tubuhnya tak sekuat dulu.. Pencernaan, jantung, paru dan ginjalnya sampai bermasalah karena aksi protesnya itu. Namun ia bergeming, ia memilih tinggal di rumah seorang teman Muslimnya, menunjukkan kalau Muslim dan Hindu harus saling melindungi. 

Ketika massa yang marah mulai mereda, seorang Hindu mendatanginya untuk membujuknya makan, ia melempar senjatanya ke tanah dan dengan sedih mengaku telah membunuh seorang anak kecil seukuran pinggangnya dengan membantingnya ke tembok. Bapu bertanya 'mengapa kau lakukan itu?', sang lelaki Hindu menjawab karena anaknya yang seumur itu juga terbunuh di tangan Muslim. Bapu memintanya untuk mencari seorang anak lelaki seumur anaknya untuk dirawat, dan pastikan anak itu Muslim. Rawat ia dengan cara Islam, dan hilangkan dendam!.


"An eye for an eye will make the whole world blind.”
 

Mahatma Gandhi bersama Muhammad Ali Jinnah, tokoh Muslim India pendiri negara Pakistan.

Namun orang baik tak hanya memiliki banyak teman dan pengagum namun juga memiliki musuh yang tak sedikit. Suatu pagi ketika Bapu akan melakukan sembahyang di Birla Bhavan New Delhi sebelum melakukan kunjungan ke negara Pakistan, ia ditembak tiga kali di daerah dada oleh pembunuh suruhan kelompok Hindu yang tak senang sikap damainya kepada Muslim. Ia meninggal di usia 78 tahun. Berjuta-juta manusia menangis dan berkabung untuknya.



25 komentar :

Posting Komentar

Hira Gasy : Tarian Pemuja Leluhur

43 komentar
Salah-satu kesenian pertunjukan rakyat Malagasy yang populer adalah Hira Gasy yang juga dikenal dengan sebutan Vakondrazana atau tarian pemuja leluhur. Tak hanya ditampilkan pada acara-acara penting negara namun juga pada pesta pernikahan, acara kematian atau pun selingan pidato para kandidat tokoh politik dalam kampanye-kampanye pemilihan umum. Menonton pertunjukan ini bagiku sama dengan menonton aksi teatrikal. 
 
Sabtu pagi, udara panas, matahari bersinar terik. Aku lupa, tepatnya malas mengenakan topi dan kacamata hitam seperti orang-orang di sekitarku. Untungnya jilbab yang kukenakan cukup menjadi pambatas paparan matahari agar tak membakar ubun-ubun. Ini kali pertama aku akan melihat Hira Gasy.

Menurut sejarah, Hira Gasy sebagai pertunjukan tradisional masyarakat Malagasy diciptakan menjelang akhir abad ke-18 oleh Raja Andrianampoinimerina. Ketika itu sang raja ingin agar para rakyatnya mendengarkan pidatonya, ia meminta para musisi untuk datang menampilkan pertunjukan musik yang ia selingi dengan pidatonya. Perpaduan pidato, lagu dan musik menjadikan Hira Gasy serupa pertunjukan teater. Setelah itu, selama masa penjajahan Perancis juga beberapa masa pergantian kekuasaan Hira Gasy tetap dipertahankan sebagai penarik kumpulan massa. Dan hingga kini fungsinya tetap dipertahankan malahan lebih dikembangkan sebagai seni pertunjukan rakyat dengan lebih lugas dan ekspresif.

Kali ini Hira Gasy ditampilkan dalam rangka perayaan Tahun Baru Malagasy yang jatuh pada bulan Maret. Aku disana, berada diantara para penonton yang tak banyak. 

Deretan bangku lipat di bawah tenda tampak banyak yang kosong, kecuali beberapa deretan depan yang ditempati oleh tamu kehormatan dan deretan paling belakang yang bisa ditempati siapa saja.. Bangku panjang yang terbuat dari semen di seberang kami juga hanya diduduki oleh beberapa orang, yang mungkin hanya kebetulan lewat atau tinggal tak jauh dari sini. Padahal kegiatan ini telah disiarkan melalui radio berulang-ulang, sebagai pesta rakyat. Mungkin, banyak yang lebih memilih untuk melakukan kegiatan lain bersama keluarga. Bagi rakyat setempat Hira Gasy sudah sering mereka tonton.

Beberapa penari laki-laki dengan pakaian seragam berwarna terang bergegas menempati posisi mereka di tanah lapang yang luas tadi, mengabaikan panggung tinggi di samping lapangan. Mereka berjongkok menunggu MC membuka acara juga menunggu beberapa kalimat sambutan para tokoh selesai di atas panggung.  Lalu Hira Gasy pun dimulai :



Awalnya, beberapa dari mereka akan memainkan alat musik, menarik perhatian para penonton. Bisa saxofon atau drum dengan irama serupa musik pembuka  kemiliteran. Sementara penari wanita tampak di luar lapangan, merapikan dandanan dan pakaian.

Lalu, Mpikabary, julukan bagi pembawa kabar, biasanya yang juga adalah pemimpin rombongan akan melepas topi jerami miliknya dan mengumuman dimulainya pertunjukan. Ia akan mengundang para penari wanita untuk memasuki lapangan sambil menjelaskan tema (miditra indray) pertunjukan mereka dengan bahasa puitis dan peribahasa Malagsy (ohabolana).


Lalu, Renihira berupa nyanyian-nyanyian akan terdegar diiringi musik (penyanyi berdiri, musisi duduk). Biasanya para penyanyi akan bersikap seolah menyampaikan pesan dengan ekspresi dan gerakan tangan yang sesuai.

Lalu, Dihy berupa tari-tarian yang diselingi dengan pertunjukan akrobatik yang konon memiliki kemiripan dengan kesenian tari dan seni bela diri dari Asia Tenggara.

Apa pesan yang bisa aku tangkap dari pertunjukan hari itu? Ini tentu tentang perkawinan dan nilai-nilai dalam berumah-tangga. Tampak jelas dari adegan :

Lelaki separuh baya yang memerankan seorang lelaki yang pulang ke rumah dalam kondisi mabuk. Ia marah kepada semua wanita di rumahnya, melakukan adegan kekerasan dalam rumah tangga. Namun wanita yang berperan sebagai sang istri tak tinggal diam, meski telah menerima beberapa pukulan, ia bangkit, mengucapkan serupa syair pembelaan. Ia menatap keras melawan sang suami.. lalu bersikap mengusir suaminya dari rumah. Syairnya perpaduan kegeraman dan kesedihan. Ia menatap kepada penonton, mengatakan yang aku tangkap sebagai pesan 'Jangan mau dikasari lelaki mabuk. Kita, wanita juga berhak memilih kehidupan rumah tangga yang baik, berhak diperlakukan adil'. Ok, got it! Pertunjukan ini memang sesuai dengan kondisi masyarakat sekarang. Kasus KDRT di Madagascar temasuk tinggi. Lalu di akhir kisah sang suami, menyesali perbuatannya dan meminta maaf pada istrinya.
  
Dan, Zanakira atau Vakondrazana atau simpulan dari pertunjukan tadi. Disampaikan oleh sang pemimpin pertunjukan.




Bentuk pertunjukan Hira Gasy tak selalu serupa dengan yang aku tonton tadi, akan berbeda-beda tergantung tema dan pesan yang akan disampaikan. Bisa mengenai masalah kehidupan sosial masyarakat lainnya, masalah pertanian, politik juga perdagangan. 



Referensi :
http://www.goethe.de/ins/za/prj/wom/osm/en9575566.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Hiragasy 

Happy Blogging!
Haya

43 komentar :

Posting Komentar