Chute de la Lily , Ampefy.

18 komentar


Setelah puas bermain air, luluran dan massage dengan tanah lumpur berwarna kuning di Analavory Geyser, kami bergerak kembali menuju pinggiran danau Itasy. Tujuannya jelas, perut lapar minta diisi. Sudah pukul dua lebih, makan siang yang sudah sangat telat. Tapi anak-anak tak ada yang mengeluh, cemilan cukup mengganjal perut. ^^

Mobil kembali melewati jalanan tanah yang berlubang dan becek, membuat badan terayun-ayun sekitar dua puluh menit, lalu meluncur tenang di jalanan beraspal. Sayang lupa ambil foto jalanannya, harusnya lebih keren :D. 
Tak lama kami berhenti lagi, sebuah pamflet di pinggir jalan La fromagerie de l'Itasy, pabrik keju membuat kami ingin tahu.


Sempet2nya foto2


Pabrik keju ini hanyalah bangunan tinggal yang tak terlalu besar. Sekitar rumahnya terlihat bersih meski aroma sapi menggelitik olfactory tajam, sesekali lenguhan sapi juga terdengar dari pekarangan belakang. Aku bukan penikmat keju, satu-satunya keju yang pas di lidah adalah K***t Che***r, tapi keju buatan mereka ini rasanya legit dan gurih. Katanya telah disesuaikan dngan lidah Malagasy. Ada beberapa varian yang mereka produksi namun aku tak terlalu ingat yang aku ingat dan sempat cicipi hanya keju varians rosemary. Wanginya khas dan terasa gurih di lidah. Teman-teman membeli beberapa potong untuk oleh-oleh. Aku tidak, karena stok keju di rumah masih ada.^^

Anak-anak menunggu di trotoar seberang jalan.
Lalu kami bergerak lagi meneruskan perjalanan. Tak lagi lapar sebenarnya :D tapi makan siang rame-rame memang selalu istimewa, dan bisa memancing kembali selera. Nasi kotak isi rendang dan ayam bakar.. sambalnya juga mantap.. ditambah lagi hasil bakar-bakaran di tempat : ikan, sosis dan sate ayam. Menunya kebanyakan sih sebenarnya untuk kategori piknik, tapi rejeki ya, alhamdulillah.

Hari semakin sore, langitpun terlihat mendung. Cuaca beberapa hari ini memang tak terlalu bagus, cerah di siang hari dan hujan deras berangin di sore hari. Setelah sholat kami berunding sebentar rencana selanjutnya : mau lanjut ke tempat lain atau mau langsung pulang. Akhirnya dipilih langsung pulang. Kami bergerak pulang ke arah Antananarivo.
Di tengah jalan, kami merasa sayang jika tak jadi mengunjungi Chute de la Lily yang menurut teman tak terlalu jauh hanya sekitar 5 kilometers. Diskusi singkat, kami memilih berbalik arah kembali mencari jalan menuju Chute de la Lily. Hanya kami saja, teman-teman yang lain tetap pulang ke Antananarivo. 
Dannnn jalanannya lebih parah dibanding yang menuju Analavory Geyser. Lubangnya lebih besar dengan air tergenang yang membentuk kubangan. Mendungpun mulai mengirimkan rintik-rintik airnya ke bumi. Aku ragu kami bisa kembali ke jalanan raya sebelum hari gelap. Jalanannya juga terlihat lebih sepi dan lengang, tepat untuk aksi kejahatan pikirku. Uupppsss.  Terseok-seok beberapa kilo ke depan seorang pemuda dengan pakaian lusuh yang terlihat besar di tubuh kurusnya mengejar mobil kami. berbicara dengan supir menawarkan diri menjadi pemandu. Antara curiga dan kasihan kami setuju. Ia berlari dengan alas tanpa kaki di belakang mobil, hingga kami menyuruhnya memanjat bagian belakang mobil, bergelantung. Sebenarnya bisa saja kami suruh duduk di jok bangku paling belakang tapi sikap hati-hati kami yang berlebihan khawatir kalau ia bisa saja bermaksud jahat.
Lalu setelah melewati tanah perkebunan yang sepi, rumah-rumah berwarna merah dan kuning tanah mulai terlihat. Ada juga sapi dan hewan ternak lainnya yang terlihat sedang merumput atau sedang digiring untuk pulang. Sepertinya penduduknya tak ramai hanya beberapa rumah yang membentuk perkampungan. Kebayang bagaimana para penduduk berjalan kaki segini jauh untuk mencapai kota. Gerobak-gerobak dorong biasanya digunakan untuk mengangkut hasil kebun. Alat transportasi lain adalah sepeda. Ah, Malagasy memang termasuk pejalan kaki hebat. sanggup menempuh beberapa kilometers. Alam yang membentuk kebiasaan mereka tentunya.


Begitu sampai, gerimis harus kami lewati untuk sampai ke air terjun. Tiket yang harus kami bayar tak terlalu mahal, termasuk harga wajar. Harga untuk penduduk lokal lebih murah dengan turis asing.  Ada sebuah hotel restoran yang sayangnya sedang tak berfungsi karena sedang direnovasi. Hotel resto inilah yang membagikan listrik ke penduduk sekitar dengan kincir air sederhana yang dimilikinya. Dan setelah berjalan kaki kami melihat aliran sungai jernih di bawah sebahu jembatan. Tak lama terlihat orang-orang yang berkumpul di bawah pohon-pohon besar. tentu mereka juga adalah pengunjung, namun penjual souvenir dan penduduk lokal lebih ramai.
Dan yang membuat senang adalah, ternyata ada teman kami yang juga menyusul kemari.Jadi, tak lagi khawatir kalau kembalinya nanti sudah gelap di jalan.
Kami harus turun ke bawah untuk melihat jelas Chute de la lily. Dan... voila! 




Chute de la Lily adalah nama yang baru diberikan sekitar empat puluh tahun ini. Sebuah cerita mengatakan kalau ada keluarga vazaha atau keluarga asing berkulit putih yang memiliki seorang anak perempuan bernama Lily. Suatu hari Lily menghilang, tak berhasil ditemukan meski telah dicari kemana-mana. Penduduk berpikir kalau air terjun inilah yang mengambilnya. Dan mereka memutuskan untuk menyebut air terjun ini dengan nama gadis tersebut. Selanjutnya nama sungai yang mengalir tersambung dengan air terjun juga dinamai Lily.







Para penjual souvenir mengerubungi dengan ramahnya yang terlalu memelas. Mereka adalah anak-anak kecil, wanita muda juga beberapa terlihat lansia. Menenteng keranjang berisi souvenir yang terbuat dari sejenis batu apung berwarna hitam. Bentuknya macam-macam dan lucu-lucu. Sebenarnya aku memang ingin membeli tapi semua berebut mengatakan kalau mereka yang terlebih dahulu menawarkan barang.Jadi belinya harus dibagi-bagi, agar mereka tak ada yang sedih.



Ini adalah keluarga besar kura-kura yang kami bawa pulang. Lucu ya, warnanya juga unyu-unyu ^^. Ada batu gosok juga buat membersihkan badan. :D



Happy Blogging!
Haya



18 komentar :

  1. Aiiiiih....souvenirnya lucuuuu dan unyu-unyuuu

    BalasHapus
  2. Lalu apakah si lily benar-benar hilang tidak ditemukan ya mbak?
    Souvenir kura-kuranya dari batu juga? Lucu ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. ggak ketemu mbak, mungkin kebawa arus kali ya... Iya dari batu hitam kayak batu apung gitu mbak, ringan.

      Hapus
  3. Kak, itu kura2 ya suvenirnya? Lucu bangett! Disana lagi musim dingin juga kak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kura2.. lagi musim hujan Nyak, musim dingin sekitar Juni-September.

      Hapus
  4. itu suvenir kura2nya lucu banget :)

    BalasHapus
  5. Saya kok sedih ya sejak membaca paragraf yang menyebutkan seorang pemuda mengejar-ngejar mobil, berlari-lari di belakang mobil, hingga anak-anak yang berjualan soovenir. Hidup mereka susah banget ya HIKS... para penjajah itu kok ya tega ya... menjajah mereka ratusan tahun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kabarnya dulu waktu masa penjajahan jalanan malah lebih bagus mbak... sekarang politiknya lagi nggak stabil juga sih.. Yang miskin memang hidupnya prihatin banget yang kaya yahhhhh gitu deh, kesenjangannya tinggi banget.

      Hapus
  6. Mbak Haya, pengalaman yg seruu yah... souvenirnya juga cantik2 ;)

    BalasHapus
  7. asyik banget ya jalan-jalannya

    BalasHapus
  8. air terjunnya nggak tinggi ya mbak,nggak usah bingung ari souvenir,diman2 ada salnya hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Hanna nggak terlalu tinggi :D Tapi cukuplah buat manjain mata dan nge-refresh pikiran disini :D

      Hapus
  9. Hihiii nggak beda jauh dg kampung2 di sekitar obyek wisata di Ind ya mak? Sayangnya kita udah terbiasa dg gambaran yang mengerikan dr penduduk kulit hitam di film2 hollywood.

    BalasHapus
  10. Cakep cakep anak Malagasi yaaa. Tadi aku sempet scroll baca lagi ke atas, Chute de la Lily ini tempat apaan sih hahaha... oh ternyata nama air terjun toh...

    BalasHapus