Yang terpinggir dan terpusat

12 komentar
Seorang tunawisma dengan pakaian berwarna kelabu, celana yang robek besar di bagian kakinya berjalan di sisi taxi yang aku tumpangi. Tangan kanannya memegang cangkir enamel kecil yang telah sompel di beberapa bagian, sementara tangan kirinya menggenggam sendok kecil. Tentu ia satu dari beberapa tuna wisma yang tinggal di jalanan kota Antananarivo. Jalanan merayap macet. Saat itu sekitar pukul enam sore, termasuk jam padatnya rute yang aku lalui. Tak sengaja aku melihat ia merunduk ke tanah dan... mengambil air di kubangan aspal yang warnanya telah sangat kotor kehitaman. Dengan sendoknya ia memasukkan air itu ke cangkir kecilnya.. Untuk apa? tanyaku. Ia lalu berjalan dan aku sudah sangat penasaran tentang apa yang akan ia lakukan. Mobil bergerak sedikit, tunawisma masih berada di sisi kami, ia berhenti di dekat tumpukan sampah dan aku tak tahu apa yang ia ambil dari sana. Namun 'sesuatu' itu juga ia masukkan ke dalam cangkirnya. Lalu aku bisa melihat sendok itu ia angkat mendekat ke wajah dan masuk ke mulut. 'Sesuatu' yang jelas bukan makanan yang akan dimakan oleh orang kebanyakan. Miris dan menyedihkan nasibnya.


Di jalan yang sama berselang beberapa menit kemudian, sirene polisi terdengar meraung dengan lampu merah menyala-nyala garang dari dua motor besar yang dikendarai polisi berseragam. Isarat yang memerintahkan mobil-mobil lain atau siapapun yang berada di jalan untuk menyingkir ke pinggir. Di belakangnya beberapa mobil bagus dengan plat pemerintah tampah gagah hendak melintas. Taxikupun menaiki trotoar sedikit, membuat tuna wisma lebih terpinggir, tersudut mepet ke dinding toko.... Mobil lain juga melakukan hal serupa, memberi jalan bagi mobil pejabat yang sosok di dalamnya tak tampak karena kacanya berwarna gelap.  Mungkin ia satu dari beberapa orang yang beberapa waktu lalu menyebar-nyebar foto wajahnya dalam spanduk-spanduk kampanye. Dulu begitu ingin terlihat cerdas dan berempati, kini terkadang enggan melihat.

Kesenjangan klasik, masalah yang jamak di bagian dunia yang belum lagi sejahtera.

12 komentar :

Posting Komentar

Pingin Tidur

11 komentar

Perjalanan jauh dengan mobil biasanya membuat kita mengantuk dan setidaknya ada waktu-waktu untuk jatuh tertidur. Apalagi perjalanan panjang yang menghabiskan waktu berjam-jam. Tapi tidak bagiku, dan ini sedikit mengganggu. Harusnya aku tidur agar bisa beristirahat sebentar, bukannya terus terjaga dengan pikiran berloncatan kelayapan kesana kemari. Kantuknya sih datang, tapi semengantuk apapun dan sekeras apapun usahaku dengan memejamkan mata, pikiranku tak bisa terbuai untuk lelap. Meski mobil terasa nyaman dengan AC yang dinginnya pas atau kadang jendela terbuka membebaskan angin segar masuk tetap saja tak semenitpun aku tertidur, setidaknya sampai sekarang entah juga besok-besok. Dulu mungkin karena selalu bepergian dengan anak, jadi harus selalu siaga agar mereka nyaman : siap kalau ada yang haus atau ada yang mabuk perjalanan, mules atau tertidur di pangkuan. Mungkin karena terbiasa dengan rutinitas bertahun-tahun dulu itu, sampai sekarang jadi terbawa kebiasan tak tidur.


Jadi, mari ambil untungnya saja dengan menikmati segala yang tampak di kanan-kiri jalan, depan dan atas langit. 


Selasa sampai Senin kemarin aku, suami dan anak-anak melakukan perjalanan jauh. 10 jam dari Antananarivo ke Menabe, lalu ditambah 11 jam dari Morondava ke desa terpencil bernama Bekopaka. Perjalanan yang membuat pikiranku terbuka lebar dan sadar kalau pulau ini sangat lenggang. Perbukitan hijau, hutan, sungai, sawah, kebun dan padang rumput mendominasi, hanya beberapa kota atau desa kecil dengan perumahan yang tak juga banyak tampak menyelingi setiap beberapa kilometers. Lahhhh kenapa pada hidup 'nyempil' di Antananarivo jika di bumi Madagascar begini membentang luas?. Pertanyaan klasik dengan jawaban klasik : ibukota selalu menggoda dengan janji manis untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Benar?. Yah, seperti masalah kita yang juga pada berlomba untuk menjadi masyarakat urban di kota-kota besar. Padahal jika kehidupan lebih baik itu dipindahkan kemari, sekolah-sekolah didirikan dengan kualitas merata, misalnya, tentu alasan untuk 'nyempil' akan berkurang.

Karena tidak tidur, aku punya banyak waktu untuk mengkhayal. Isi khayalannya macam-macam. Lihat deretan perbukitan dengan tanah-tanah merahnya aku berkhayal kalau di bawah bukit itu ada permata mahal mungkin ruby atau safir atau emerald. Dan jika aku bisa menemukan beberapa bongkah besar aku bisa kaya raya. Uang bukan lagi masalah dan segalanya jadi mudah. Hahahaha!. Aku bisa ke Mekkah, Madinah, Mesir menyusuri jejak-jejak Islam, Alaska, Greenland atau Iceland mencari kesempatan melihat Aurora Borealis yang cakepnya kebangetan, atau ke Grand Canyon atau ke Capetown atau ke Maldives atau ke Swiss juga bolak balik pulang ke Aceh. Tentu endahnya dunia!. 

Lalu Anas dan Azzam akan berkali-kali menyela isi lamunanku dengan ulah kanal-kanak mereka. Tak apa, tawarin biskuit atau permen, minum atau makan buat mereka nyaman lalu lanjut....



Namun ketika melihat masyarakat lokal yang berjalan dengan kaki telanjang kepanasan menempuh jarak yang tentu tak dekat, atau melihat mereka yang berdiri di sebuah tempat yang mereka sebut rumah atau melihat mereka yang berkeringat menggiring sapi untuk menepi dari badan jalan aku jadi merasa khayalanku tadi terlalu 'tak berempati' dengan mereka. Hidup mereka, tanpa perlu survey-pun aku tahu begitu sulit. Mungkin hanya berkisar pada bertahan hidup, mencari makan, membangun sendiri rumah dari bahan yang ada.Ya Tuhan, bagaimana kalau tiba-tiba aku yang menjadi mereka?. Alakazam! aku duduk di atas tanah yang warnanya serupa dengan pakaianku dengan anak-anakku yang perutnya terlihat buncit, mata cekung dan wajah belepotan ingus?. Atau aku tiba-tiba menjadi satu dari gadis di desa tersebut yang terpana pada mobil-mobil bagus pendatang yang lalu lalang dengan gejolak cemburu di dada namun tak pernah punya kesempatan untuk meninggalkan desa?.  Betapa aku ingin ada happy ending untuk mereka. Bagaimana caranya? Tak tahu!. kecuali me-reka dan menciptakannya dalam fiksi khayalku. Mengkhayal lagi. Lebih baik bongkahan permata yang aku temukan tadi untuk mereka saja. Aku ridha.

**

11 komentar :

Posting Komentar

Mystical Road.

2 komentar

#TFP Ronde 60
Gumam syukur, harap dan pinta terhantar padaNya yang membentangkan jalan
PadaNya yang maha mencipta segala indah.


Kami terpana, aura ajaib di sekitar kami telah terasa bahkan ketika kami belum lagi melangkah keluar dari mobil. 'Ini keren! lebih keren dari segala bayangan yang aku pikirkan.' Segala cerita yang pernah dituturkan teman yang telah berkunjung ke mari, foto-foto yang telah berkali-kali aku lihat di internet, gambar-gambar di kartu pos juga di brosur-brosur iklan agen perjalanan tak ada apa-apanya!. Yang terasa segala indraku ini yang nyata dan aku tahu pemandangan ini selalu akan membuatku rindu untuk kembali.

Allée des baobabs di Morondava, Madagascar yang kami kunjungi tepat tahun lalu adalah kawasan cagar alam yang di tumbuhi 30-an pohon Baobabs berusia 800-an tahun. Pohon-pohon itu tertanam berbaris mengapit jalanan tanah yang dipertahankan serupa itu oleh penduduk lokal. Turis-turis pemburu keeksotisan Pulau Merah inipun betah berlama-lama disana. Pohon-pohon warisan leluhur Madagascar itu telah menyihir hati-hati kami senja itu.

Foto ini diikutsertakan dalam  turnamen-foto-perjalanan-ronde-60
yang diselenggarakan oleh Yudi Randa

2 komentar :

Posting Komentar

Ulasan Buku : Thurston House

7 komentar


Judul                  : Thurston House
Penulis               : Danielle Steel
Penerbit              : PT.Gramedia Pustaka Utama
Penterjemah       : Threes Susilastuti
Kategori             : DEWASA

Ini adalah buku Danielle Steel ketiga yang saya baca setelah Message from Nam dan Jewels. Ketiga buku ini mungkin tak akan saya baca kalau saya berada dekat dengan toko-toko buku yang menjejerkan banyak buku lain untuk dipilih. Disini saya membaca buku yang ada, tak banyak pilihan :D. Jika saya sedikit kecewa dengan Message from Nam, novel Thurston House ini memuaskan saya kecuali pada beberapa bagian yang membuat saya risih karena terlalu dewasa. Iya, ini novel luar yang budayanya berbeda dengan Indonesia hanya saja untuk novel terjemahan mungkinkah dilakukan pemangkasan adegan?. Namun diluar masalah itu, novel ini sangat menarik.. saya suka..saya suka… ^^ Romance abisszz.

Saya terpesona dengan keindahan ‘aliran ceritanya’ bahkan sejak lembar-lembar pertama. Gaya bertuturnya detail menggambarkan setting tempat dan waktu. Detail namun tidak berlebihan hingga pembaca tak akan ditunjukkan kepada sesuatu yang tak penting atau sama-sekali tak perlu. Tanah pertambangan, tanah-tanah pertanian anggur, rumah di Hava dan rumah Thurston yang menjadi tempat dimana tokoh-tokohnya memiliki pengalaman masing-masing. Kedua rumah indah yang dibangun dengan alasan khusus oleh Jeremiah Thurson adalah rumah yang indah, digambarkan secara detail yang membuat kita ingin berkunjung dan menjadi penghuninya --setidaknya itu keinginan saya---.

Buku setebal 634 halaman ini mengajak pembacanya untuk mengenal Jeremiah Thurston, orang-orang disekitarnya lalu juga anak dan cucunya.
Karaktek-karakternya yang digambarkan secara kuat membuat emosi saya terpancing. Kemanjaan dan ‘kematrean’ Camille, kesederhanaan Mary Ellen, keteguhan Sabrina, keegoisan Jonathan dan betapa baik hatinya Andre. Juga karakter tokoh-tokoh lain yang muncul dalam bab per babnya.

Konflik yang diceritakan memacing emosi saya namun lalu terasa ringan dengan segala kemelimpahan harta para tokoh.  Kisah cinta, kebanggaan keluarga juga pengkhianatan semuanya tersaji apik.. dan saya memberikan empat bintang setengah dari lima bintang.



7 komentar :

Posting Komentar

Puisi : Kabar Senyap

7 komentar





---Kabar Senyap---


Kapan waktu datang berita duka

Terselip diantara bingar ragam suara

memenuhi rupa-rupa beranda

menyentil rasa perduli di nurani milik kita

Lalu senyap…. 

Teredam impian yang lebih memacu fantasi

Hidupkan kembali pesta.          
                                             

                                                             Antananarivo, 9 April 2015


     
                                                            

7 komentar :

Posting Komentar