Pingin Tidur

11 komentar

Perjalanan jauh dengan mobil biasanya membuat kita mengantuk dan setidaknya ada waktu-waktu untuk jatuh tertidur. Apalagi perjalanan panjang yang menghabiskan waktu berjam-jam. Tapi tidak bagiku, dan ini sedikit mengganggu. Harusnya aku tidur agar bisa beristirahat sebentar, bukannya terus terjaga dengan pikiran berloncatan kelayapan kesana kemari. Kantuknya sih datang, tapi semengantuk apapun dan sekeras apapun usahaku dengan memejamkan mata, pikiranku tak bisa terbuai untuk lelap. Meski mobil terasa nyaman dengan AC yang dinginnya pas atau kadang jendela terbuka membebaskan angin segar masuk tetap saja tak semenitpun aku tertidur, setidaknya sampai sekarang entah juga besok-besok. Dulu mungkin karena selalu bepergian dengan anak, jadi harus selalu siaga agar mereka nyaman : siap kalau ada yang haus atau ada yang mabuk perjalanan, mules atau tertidur di pangkuan. Mungkin karena terbiasa dengan rutinitas bertahun-tahun dulu itu, sampai sekarang jadi terbawa kebiasan tak tidur.


Jadi, mari ambil untungnya saja dengan menikmati segala yang tampak di kanan-kiri jalan, depan dan atas langit. 


Selasa sampai Senin kemarin aku, suami dan anak-anak melakukan perjalanan jauh. 10 jam dari Antananarivo ke Menabe, lalu ditambah 11 jam dari Morondava ke desa terpencil bernama Bekopaka. Perjalanan yang membuat pikiranku terbuka lebar dan sadar kalau pulau ini sangat lenggang. Perbukitan hijau, hutan, sungai, sawah, kebun dan padang rumput mendominasi, hanya beberapa kota atau desa kecil dengan perumahan yang tak juga banyak tampak menyelingi setiap beberapa kilometers. Lahhhh kenapa pada hidup 'nyempil' di Antananarivo jika di bumi Madagascar begini membentang luas?. Pertanyaan klasik dengan jawaban klasik : ibukota selalu menggoda dengan janji manis untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Benar?. Yah, seperti masalah kita yang juga pada berlomba untuk menjadi masyarakat urban di kota-kota besar. Padahal jika kehidupan lebih baik itu dipindahkan kemari, sekolah-sekolah didirikan dengan kualitas merata, misalnya, tentu alasan untuk 'nyempil' akan berkurang.

Karena tidak tidur, aku punya banyak waktu untuk mengkhayal. Isi khayalannya macam-macam. Lihat deretan perbukitan dengan tanah-tanah merahnya aku berkhayal kalau di bawah bukit itu ada permata mahal mungkin ruby atau safir atau emerald. Dan jika aku bisa menemukan beberapa bongkah besar aku bisa kaya raya. Uang bukan lagi masalah dan segalanya jadi mudah. Hahahaha!. Aku bisa ke Mekkah, Madinah, Mesir menyusuri jejak-jejak Islam, Alaska, Greenland atau Iceland mencari kesempatan melihat Aurora Borealis yang cakepnya kebangetan, atau ke Grand Canyon atau ke Capetown atau ke Maldives atau ke Swiss juga bolak balik pulang ke Aceh. Tentu endahnya dunia!. 

Lalu Anas dan Azzam akan berkali-kali menyela isi lamunanku dengan ulah kanal-kanak mereka. Tak apa, tawarin biskuit atau permen, minum atau makan buat mereka nyaman lalu lanjut....



Namun ketika melihat masyarakat lokal yang berjalan dengan kaki telanjang kepanasan menempuh jarak yang tentu tak dekat, atau melihat mereka yang berdiri di sebuah tempat yang mereka sebut rumah atau melihat mereka yang berkeringat menggiring sapi untuk menepi dari badan jalan aku jadi merasa khayalanku tadi terlalu 'tak berempati' dengan mereka. Hidup mereka, tanpa perlu survey-pun aku tahu begitu sulit. Mungkin hanya berkisar pada bertahan hidup, mencari makan, membangun sendiri rumah dari bahan yang ada.Ya Tuhan, bagaimana kalau tiba-tiba aku yang menjadi mereka?. Alakazam! aku duduk di atas tanah yang warnanya serupa dengan pakaianku dengan anak-anakku yang perutnya terlihat buncit, mata cekung dan wajah belepotan ingus?. Atau aku tiba-tiba menjadi satu dari gadis di desa tersebut yang terpana pada mobil-mobil bagus pendatang yang lalu lalang dengan gejolak cemburu di dada namun tak pernah punya kesempatan untuk meninggalkan desa?.  Betapa aku ingin ada happy ending untuk mereka. Bagaimana caranya? Tak tahu!. kecuali me-reka dan menciptakannya dalam fiksi khayalku. Mengkhayal lagi. Lebih baik bongkahan permata yang aku temukan tadi untuk mereka saja. Aku ridha.

**

11 komentar :

  1. Asyik sekali menelusuri Madagascar. Haa, masalah nggak nyaman di perjalanan saya paling suka bermasalah. Pas naik kapal laut ke Sabang dihadang ombak besar, atau pas naik "si bising yang suka telat" dalam perjalanan ke Jakarta untuk pertama kalinya. Tapi yang menjadi oleh-oleh tetaplah foto-foto yang buat kita mau balik lagi ke sana. Hehe ... Asyik kali liat gambar header di blog ini Kak. Keren ... Baru ya??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Toss!! tapi ya gitu... tidur tidur malah bisa menikmati semua yang tampak mata ya Azhar.

      Hapus
    2. Eh iya.. Headernya baru, dibikinin kak Eqi :D

      Hapus
  2. Kalo lihat pemandangannya asik banget ya mba. Tapi sepertinya akses kemana-mana susah ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada angkutan umum tapi tidak banyak mbak Kania. Masyarakat lokal seringnya berjalan kaki, bersepeda atau ada sejenis pedati yang ditarik sapi sebagai alat transportasinya. Untuk desa yang lebih terpencil lebih susah lagi mbak.. jalanan tanah yang kadang terputus jika banjir atau hujan atau ada juga desa yang harus menyeberangi sungai besar untuk sampai ke kota.

      Hapus
  3. Dulu dulu ketika umur lebih muda dr sekarang saya bisa betah dg sedikit tidur selama perjalanan, smakin menua begini sering kantuknya tak tertahankan saya beberapa kali melewatkan pemandangan pedesaan sepanjang jalan menuju Paris.
    Fotonya bagus-bagus, lamunan/khayalan mbak haya bikin saya trenyuh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama kita mbak, faktor 'U' juga ternyata ya :D
      Wahhh pinginlah ke desa-desa di paris! Pasti cantik-cantik ^^

      Hapus
  4. aku kalau nggak tidur,pas di mobil biasaya sering foto2 jalanan,kalau nggak lihatin pemandangan luar aja. hehehe,anas sama azam jadi penggoda khayalan ya mbak hehehe, mama...minta permennn^^

    BalasHapus
  5. Aku juga jarang bisa tidur klo dijalan kak jadi ya nikmati penandangan..foto2..nah klo malem yg bingung mo apa hihihi...

    BalasHapus
  6. negara ini cantik walau masih ada kekurangan di sana sini ya..
    aku pun selalu mencoba terjaga di perjalanan..banyak hal menarik yang bisa diserap ya

    BalasHapus
  7. Aku suka bacanya mbak...
    Dari khayalan ke khayalan... lalu ternyata ceritanya menyambung di satu titik...

    Btw, semoga jd kenyataan, aamiin.. :)

    BalasHapus