Hira Gasy : Tarian Pemuja Leluhur

43 komentar
Salah-satu kesenian pertunjukan rakyat Malagasy yang populer adalah Hira Gasy yang juga dikenal dengan sebutan Vakondrazana atau tarian pemuja leluhur. Tak hanya ditampilkan pada acara-acara penting negara namun juga pada pesta pernikahan, acara kematian atau pun selingan pidato para kandidat tokoh politik dalam kampanye-kampanye pemilihan umum. Menonton pertunjukan ini bagiku sama dengan menonton aksi teatrikal. 
 
Sabtu pagi, udara panas, matahari bersinar terik. Aku lupa, tepatnya malas mengenakan topi dan kacamata hitam seperti orang-orang di sekitarku. Untungnya jilbab yang kukenakan cukup menjadi pambatas paparan matahari agar tak membakar ubun-ubun. Ini kali pertama aku akan melihat Hira Gasy.

Menurut sejarah, Hira Gasy sebagai pertunjukan tradisional masyarakat Malagasy diciptakan menjelang akhir abad ke-18 oleh Raja Andrianampoinimerina. Ketika itu sang raja ingin agar para rakyatnya mendengarkan pidatonya, ia meminta para musisi untuk datang menampilkan pertunjukan musik yang ia selingi dengan pidatonya. Perpaduan pidato, lagu dan musik menjadikan Hira Gasy serupa pertunjukan teater. Setelah itu, selama masa penjajahan Perancis juga beberapa masa pergantian kekuasaan Hira Gasy tetap dipertahankan sebagai penarik kumpulan massa. Dan hingga kini fungsinya tetap dipertahankan malahan lebih dikembangkan sebagai seni pertunjukan rakyat dengan lebih lugas dan ekspresif.

Kali ini Hira Gasy ditampilkan dalam rangka perayaan Tahun Baru Malagasy yang jatuh pada bulan Maret. Aku disana, berada diantara para penonton yang tak banyak. 

Deretan bangku lipat di bawah tenda tampak banyak yang kosong, kecuali beberapa deretan depan yang ditempati oleh tamu kehormatan dan deretan paling belakang yang bisa ditempati siapa saja.. Bangku panjang yang terbuat dari semen di seberang kami juga hanya diduduki oleh beberapa orang, yang mungkin hanya kebetulan lewat atau tinggal tak jauh dari sini. Padahal kegiatan ini telah disiarkan melalui radio berulang-ulang, sebagai pesta rakyat. Mungkin, banyak yang lebih memilih untuk melakukan kegiatan lain bersama keluarga. Bagi rakyat setempat Hira Gasy sudah sering mereka tonton.

Beberapa penari laki-laki dengan pakaian seragam berwarna terang bergegas menempati posisi mereka di tanah lapang yang luas tadi, mengabaikan panggung tinggi di samping lapangan. Mereka berjongkok menunggu MC membuka acara juga menunggu beberapa kalimat sambutan para tokoh selesai di atas panggung.  Lalu Hira Gasy pun dimulai :



Awalnya, beberapa dari mereka akan memainkan alat musik, menarik perhatian para penonton. Bisa saxofon atau drum dengan irama serupa musik pembuka  kemiliteran. Sementara penari wanita tampak di luar lapangan, merapikan dandanan dan pakaian.

Lalu, Mpikabary, julukan bagi pembawa kabar, biasanya yang juga adalah pemimpin rombongan akan melepas topi jerami miliknya dan mengumuman dimulainya pertunjukan. Ia akan mengundang para penari wanita untuk memasuki lapangan sambil menjelaskan tema (miditra indray) pertunjukan mereka dengan bahasa puitis dan peribahasa Malagsy (ohabolana).


Lalu, Renihira berupa nyanyian-nyanyian akan terdegar diiringi musik (penyanyi berdiri, musisi duduk). Biasanya para penyanyi akan bersikap seolah menyampaikan pesan dengan ekspresi dan gerakan tangan yang sesuai.

Lalu, Dihy berupa tari-tarian yang diselingi dengan pertunjukan akrobatik yang konon memiliki kemiripan dengan kesenian tari dan seni bela diri dari Asia Tenggara.

Apa pesan yang bisa aku tangkap dari pertunjukan hari itu? Ini tentu tentang perkawinan dan nilai-nilai dalam berumah-tangga. Tampak jelas dari adegan :

Lelaki separuh baya yang memerankan seorang lelaki yang pulang ke rumah dalam kondisi mabuk. Ia marah kepada semua wanita di rumahnya, melakukan adegan kekerasan dalam rumah tangga. Namun wanita yang berperan sebagai sang istri tak tinggal diam, meski telah menerima beberapa pukulan, ia bangkit, mengucapkan serupa syair pembelaan. Ia menatap keras melawan sang suami.. lalu bersikap mengusir suaminya dari rumah. Syairnya perpaduan kegeraman dan kesedihan. Ia menatap kepada penonton, mengatakan yang aku tangkap sebagai pesan 'Jangan mau dikasari lelaki mabuk. Kita, wanita juga berhak memilih kehidupan rumah tangga yang baik, berhak diperlakukan adil'. Ok, got it! Pertunjukan ini memang sesuai dengan kondisi masyarakat sekarang. Kasus KDRT di Madagascar temasuk tinggi. Lalu di akhir kisah sang suami, menyesali perbuatannya dan meminta maaf pada istrinya.
  
Dan, Zanakira atau Vakondrazana atau simpulan dari pertunjukan tadi. Disampaikan oleh sang pemimpin pertunjukan.




Bentuk pertunjukan Hira Gasy tak selalu serupa dengan yang aku tonton tadi, akan berbeda-beda tergantung tema dan pesan yang akan disampaikan. Bisa mengenai masalah kehidupan sosial masyarakat lainnya, masalah pertanian, politik juga perdagangan. 



Referensi :
http://www.goethe.de/ins/za/prj/wom/osm/en9575566.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Hiragasy 

Happy Blogging!
Haya

43 komentar :

Posting Komentar

Andravoahangy, Pasar Batu Tradisional

12 komentar
Rentang bulan Desember-Maret hujan bisa turun kapan saja sesukanya. Matahari yang berbagi terik bisa saja mendadak pergi, tertutup selubung awan gelap nan berat bermuatan air yang siap tumpah hingga malam. Tapi kami sudah merencakanan untuk ke pasar Andravoahangy beberapa hari lalu. Apa harus batal karena hujan?.Temanku menggeleng 'Mari pergi! Semoga gerimis ini tidak menjadi deras.'

Dan sudah dipastikan gerimis membuat jalanan licin dan mobil-mobil merayap. Apalagi kami berangkat sekitar pukul 13-an siang, jam istirahat pegawai kantor dan para pekerja. Mendekati pasar mobil kami juga kesulitan mencari tempat parkir karena pedagang sayur yang merangsek maju mengambil badan jalan. 'Sengaja, biar mobil tidak parkir disini dan menutupi dagangan kami,' ujar pedagang sayur yang kami tanya. Padahal lapak penjual sayur sudah ditertibkan di dalam kawasan pasar. Namun mereka lebih suka menyongsong pembeli di 'garda depan' ternyata. Jadilah mobil pencari parkir seperti kami berderet, mencipta macet. Butuh beberapa menit untuk mendorong sebuah gerobak barang dan memasukkan mobil di celah yang tersedia. Kami masuk ke kawasan pasar dengan rintik air yang kali ini tidak romantis namun perlu disyukuri karena tidak menderas.

Pasar Andravoahangy ini sebenarnya bukan hanya tempat penjualan batu, namun aneka barang lainnya. Kami harus melewati pedagang sayur, ikan asin, pedagang aneka perabot dapur juga barang-barang kerajinan tangan untuk sampai di kawasan pedagang batu yang berupa deretan kios papan berlorong-lorong. 

Karena gerimis dan jam istirahat tak semua kios buka. Dan melihat wajah-wajah penjual yang tak bersemangat, sepertinya 'bisnis' mereka tak lagi bagus. Mungkin ada hubungannya dengan krisis ekonomi, harga barang yang meningkat sedang nilai mata uang yang terus turun dibanding uang dunia membuat penduduk tentu lebih memilih membeli kebutuhan pokok, dibanding batu perhiasan.



Awal tiba di Madagascar sekitar tiga tahun yang lalu, aku tidak terlalu tertarik dengan batu-batu ini, meski banyak yang bilang cocok dijadikan cendramata sampai berita boomingnya batu akik di Indonesia mempengaruhiku. Yah, tak apalah, sekedar punya pikirku.

Madagascar memiliki kekayaan mineral hasil alam termasuk batu mulia jenis  berlian, aquamarine, zamrud, garnet, ruby, safir, amethys, citrine, turmalin, amonitte dan beberapa jenis lain yang namanya sangat banyak.

Pasar Andravoahangy menawarkan aneka batu : dari batu mentah, batu asahan (akik), batu yang telah di-cutting juga batu yang telah berupa ragam perhiasan dengan harga yang jauh lebih murah dibanding toko perhiasan ber-etalase cantik. Namun disini tak ada jaminan berupa sertifikat keaslian. Jadi, mata harus benar-benar jeli memilih, meneropong keretakan yang bisa ditolerir atau yang menjadi 'cacat', melihat gradasi warna juga kepucatannya. Lalu ketika dapat yang sepertinya cakep : warna keren, retak tak banyak, cutting-an rapi ehhh ternyata batunya sudah dipanaskan untuk mendapat warna yang lebih terang, tak lagi alami. Tapi kalau pintar, sabar memilih dan lagi beruntung, bisa dapat juga batu dengan kualitas bagus dan harga miring.



Selain perhiasan, batu-batu ini juga dibentuk dalam beragam pajangan yang tak kalah indah. Tentu saja bukan pilihan bagiku untuk dibawa pulang ke Indonesia, karena beratnya akan melebihi 'jatah' bagasi di pesawat. Meski beberapa teman bisa membawa pulang dengan kargo barang.


Nah, kalau yang berupa meja ini... aku pingin banget yang motif kayu coklat itu, tapi jelas lebih berat kan ya? Juga, harganya bikin mulut decak-decak!. Kata penjualnya meja itu terbuat dari kayu batu yang telah berupa fosil. Proses mem-fossil itu telah berjuta-juta tahun dan harga seperti itu adalah kepantasan, katanya.

Kami berada di pasar sampai waktu asar tiba dan alhamdulillah hujan tak turun.

Happy Blogging, Happy Life!
Haya

12 komentar :

Posting Komentar

Camp Croco di Desa Bekopaka.

17 komentar
Turun dari mobil sekitar kami gelap, gelap sebenarnya tanpa polusi cahaya. Langit kelam bertabur bintang, banyak sekali. Aku lupa kapan terakhir melihat langit seindah ini. Tentu tidak di langit Jakarta yang pendar lampu kota lebih semarak dengan kerlipnya, juga tidak di langit Banda Aceh yang juga tak kalah ramai, pun tidak di langit Antananarivo yang mulai bersolek di setiap sudutnya. Langit serupa ini pernah aku nikmati berselang puluhan tahun lalu di desa Usi Dayah, Aceh Pidie Jaya. Ketika itu aku dan mamak berjalan dalam gelap menuju mesjid di ujung desa. Yah.. saat itu langit Usi Dayah juga indah. Lampu hanya temaram dari beberapa rumah besar, sama sekali tak ada lampu jalan. Ternyata kami telah melewati hutan dan masuk ke sebuah desa kecil bernama Bekopaka. Perjalanan 10 jam yang melelahkan dan kami butuh beristirahat.

Di dekat kami mobil 4WD parkir tak beraturan. Di teras rumah panggung yang keseluruhannya terbuat dari kayu, berjejer tenda-tenda kanvas berwarna putih tulang. Apakah kami akan bermalam disini?. Melihat jumlah mobil yang tak sedikit aku ragu dan khawatir tak kebagian tempat bermalam. Hardy supir kami pergi mencari penanggungjawab penginapan. Kami menunggu beberapa menit hingga seorang bocah mungkin seusia Anas menghampiri kami. Suaranya terdengar lebih dahulu ketimbang sosoknya. Ia memiliki rambut keriwil gelap dan kulit yang juga tak kalah gelap dengan sekitar kami yang sama sekali tak memiliki penerangan listrik. Ia berbicara tak terlalu jelas, namun bersikap selayaknya orang penting yang akan membantu kami mendapatkan penginapan disini. Kami berjalan di dalam gelap memasuki kawasan dengan pohon-pohon besar. Lalu seseorang yang lebih dewasa datang di belakang bocah tadi, memperkenalkan diri sebagai penanggungjawab camp.
"Welcome to Camp Croco!" Ini adalah camp, jadi jangan berharap mendapat layanan lebih selayaknya penginapan, itulah sambungan kalimat yang tersirat dari sambutan hangatnya.

"Disini tak ada listrik, namun kami akan menghidupkan generator dari pukul tujuh hingga sembilan malam," sambungnya menjelaskan.

"Ok, no problem"  Jawabku mengambang. Lalu aku tak terlalu khawatir ketika ingat kami membawa lampu emergency yang telah kami cas penuh di Morondava. Dan gerung mesin generator pun terdengar.

Victor membawa kami ke sebuah pondok. Tak lama setelah kami meletakkan barang-barang kami yang membuat pondok semakin sempit, lampu menyala. Dan kami baru bisa melihat jelas kalau Victor memiliki senyum yang manis dan hangat.


 

Ada dua tempat tidur kayu ukuran single dengan kelambu jaring terpasang, dua helai selimut tebal yang tak akan kami pakai karena udara yang sudah cukup gerah dan beberapa tikar tradisional Malagasy berbentuk bundar sebagai alas kami duduk di lantai papannya.

Pondok ini, dibangun dari segala material yang mudah ditemukan di desa atau hutan. Dindingnya dari anyaman sejenis rumput yang aku tak tahu namanya, atapnya juga. Anyaman itu disusun pada bambu kecil sebagai rangkanya. Nyamuk, kecoak juga serangga lain sangat welcome! baikkan kami ^^

Toilet dan kamar mandi terletak terpisah, kami harus berbagi dengan penghuni camp lainnya.  Tak apa, baik juga bagi Anas dan Azzam untuk merasakan tinggal di desa serupa ini. Kalau aku? Ahh aku dulu kecilnya juga tinggal di desa kok!. Jadi, mari nikmati!.



Pagi harinya kami baru tahu kalau kamp ini terletak di depan aliran sungai Manambolo. Sungai yang akan kami jelajahi untuk melihat pesonanya.Kabarnya di dalam airnya yang keruh beberapa buaya hidup bebas. Kabarnya lagi, camp kami karena dekat hutan sangat ramah dengan segala binatang hutan itu. Jika malam beberapa lemur nocturnal terdengar menjerti-jerit berkeliaran, sayang aku tak berhasil memergoki mereka. Namun kami berkali-kali harus rela berbagi tempat dengan camelion atau bunglon besar yang betah merayapi langit-langit pondok, atau kodok besar yang tak merasa terusir tetap bertengger di toilet juga bekicot besar menempel di dinding kamar mandi. Bahkan ular yang dengan santainya lewat di depan mata. Malagasy percaya kalau segala binatang itu memiliki roh atau spirit dan tak boleh diganggu. Tepat disamping pondok kami ada sebuah lubang yang diperkirakan adalah rumah bagi sang ular. Penanggungjawab Camp meyakinkan kami untuk tidak khawatir. Menurutnya selama ular itu tidak diusik ia juga tak akan mengusik. Jadi lebih baik menjadi tetangga yang baik.

Happy Blogging, Happy Life!
Haya

17 komentar :

Posting Komentar