Andravoahangy, Pasar Batu Tradisional

12 komentar
Rentang bulan Desember-Maret hujan bisa turun kapan saja sesukanya. Matahari yang berbagi terik bisa saja mendadak pergi, tertutup selubung awan gelap nan berat bermuatan air yang siap tumpah hingga malam. Tapi kami sudah merencakanan untuk ke pasar Andravoahangy beberapa hari lalu. Apa harus batal karena hujan?.Temanku menggeleng 'Mari pergi! Semoga gerimis ini tidak menjadi deras.'

Dan sudah dipastikan gerimis membuat jalanan licin dan mobil-mobil merayap. Apalagi kami berangkat sekitar pukul 13-an siang, jam istirahat pegawai kantor dan para pekerja. Mendekati pasar mobil kami juga kesulitan mencari tempat parkir karena pedagang sayur yang merangsek maju mengambil badan jalan. 'Sengaja, biar mobil tidak parkir disini dan menutupi dagangan kami,' ujar pedagang sayur yang kami tanya. Padahal lapak penjual sayur sudah ditertibkan di dalam kawasan pasar. Namun mereka lebih suka menyongsong pembeli di 'garda depan' ternyata. Jadilah mobil pencari parkir seperti kami berderet, mencipta macet. Butuh beberapa menit untuk mendorong sebuah gerobak barang dan memasukkan mobil di celah yang tersedia. Kami masuk ke kawasan pasar dengan rintik air yang kali ini tidak romantis namun perlu disyukuri karena tidak menderas.

Pasar Andravoahangy ini sebenarnya bukan hanya tempat penjualan batu, namun aneka barang lainnya. Kami harus melewati pedagang sayur, ikan asin, pedagang aneka perabot dapur juga barang-barang kerajinan tangan untuk sampai di kawasan pedagang batu yang berupa deretan kios papan berlorong-lorong. 

Karena gerimis dan jam istirahat tak semua kios buka. Dan melihat wajah-wajah penjual yang tak bersemangat, sepertinya 'bisnis' mereka tak lagi bagus. Mungkin ada hubungannya dengan krisis ekonomi, harga barang yang meningkat sedang nilai mata uang yang terus turun dibanding uang dunia membuat penduduk tentu lebih memilih membeli kebutuhan pokok, dibanding batu perhiasan.



Awal tiba di Madagascar sekitar tiga tahun yang lalu, aku tidak terlalu tertarik dengan batu-batu ini, meski banyak yang bilang cocok dijadikan cendramata sampai berita boomingnya batu akik di Indonesia mempengaruhiku. Yah, tak apalah, sekedar punya pikirku.

Madagascar memiliki kekayaan mineral hasil alam termasuk batu mulia jenis  berlian, aquamarine, zamrud, garnet, ruby, safir, amethys, citrine, turmalin, amonitte dan beberapa jenis lain yang namanya sangat banyak.

Pasar Andravoahangy menawarkan aneka batu : dari batu mentah, batu asahan (akik), batu yang telah di-cutting juga batu yang telah berupa ragam perhiasan dengan harga yang jauh lebih murah dibanding toko perhiasan ber-etalase cantik. Namun disini tak ada jaminan berupa sertifikat keaslian. Jadi, mata harus benar-benar jeli memilih, meneropong keretakan yang bisa ditolerir atau yang menjadi 'cacat', melihat gradasi warna juga kepucatannya. Lalu ketika dapat yang sepertinya cakep : warna keren, retak tak banyak, cutting-an rapi ehhh ternyata batunya sudah dipanaskan untuk mendapat warna yang lebih terang, tak lagi alami. Tapi kalau pintar, sabar memilih dan lagi beruntung, bisa dapat juga batu dengan kualitas bagus dan harga miring.



Selain perhiasan, batu-batu ini juga dibentuk dalam beragam pajangan yang tak kalah indah. Tentu saja bukan pilihan bagiku untuk dibawa pulang ke Indonesia, karena beratnya akan melebihi 'jatah' bagasi di pesawat. Meski beberapa teman bisa membawa pulang dengan kargo barang.


Nah, kalau yang berupa meja ini... aku pingin banget yang motif kayu coklat itu, tapi jelas lebih berat kan ya? Juga, harganya bikin mulut decak-decak!. Kata penjualnya meja itu terbuat dari kayu batu yang telah berupa fosil. Proses mem-fossil itu telah berjuta-juta tahun dan harga seperti itu adalah kepantasan, katanya.

Kami berada di pasar sampai waktu asar tiba dan alhamdulillah hujan tak turun.

Happy Blogging, Happy Life!
Haya

12 komentar :

  1. Lihat foto kotak-kotak bebatuan itu saya ingat martapura meski belum pernah kesana, martapura juga penghasil bebatuan kan ya. Kisaran harga dalam rupiahnya berapa mbak haya yg dibungkusan kotak itu?

    BalasHapus
  2. Harga variatif mbak, di atas seratusan ribu rupiah yang agak lumayannya. Ada juga di bawahnya tapi retaknya banyak.

    BalasHapus
  3. saya juga kepingin punya satuuuu aja batu akik yang bentuknya cantik...biar kekinian gitu mbak #eh hehe...tapi lama2 jadi penasaran ma batu soalnya hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kita jadi ikutan trend ya :D

      Hapus
  4. mejanya cakeeep mba...ngg heran kalau mahal banget, memang bagus dan langka pula :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tuh kan setuju mbak.. emang cakep! :D

      Hapus
  5. kakklo yudi kirim batu giok aceh bisa laku ga?? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahh akunya yang nggak pinter jualan Yud :D

      Hapus
  6. Huaaahhh itu yang di kotak kaca isinya batu..kalau disini kotak-kotak kaca gitu isinya mutiara :D

    BalasHapus
  7. Sekedar cek ulang yang betul namanya "Andrafoang" atau "Andravoahangy" takut kalau saya ke sana nyasar nih hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha iya pak Adi, yang benar penulisannya Andravoahangy, akan saya perbaiki pak, terimakasih banyak koreksiannya.

      Hapus