Camp Croco di Desa Bekopaka.

17 komentar
Turun dari mobil sekitar kami gelap, gelap sebenarnya tanpa polusi cahaya. Langit kelam bertabur bintang, banyak sekali. Aku lupa kapan terakhir melihat langit seindah ini. Tentu tidak di langit Jakarta yang pendar lampu kota lebih semarak dengan kerlipnya, juga tidak di langit Banda Aceh yang juga tak kalah ramai, pun tidak di langit Antananarivo yang mulai bersolek di setiap sudutnya. Langit serupa ini pernah aku nikmati berselang puluhan tahun lalu di desa Usi Dayah, Aceh Pidie Jaya. Ketika itu aku dan mamak berjalan dalam gelap menuju mesjid di ujung desa. Yah.. saat itu langit Usi Dayah juga indah. Lampu hanya temaram dari beberapa rumah besar, sama sekali tak ada lampu jalan. Ternyata kami telah melewati hutan dan masuk ke sebuah desa kecil bernama Bekopaka. Perjalanan 10 jam yang melelahkan dan kami butuh beristirahat.

Di dekat kami mobil 4WD parkir tak beraturan. Di teras rumah panggung yang keseluruhannya terbuat dari kayu, berjejer tenda-tenda kanvas berwarna putih tulang. Apakah kami akan bermalam disini?. Melihat jumlah mobil yang tak sedikit aku ragu dan khawatir tak kebagian tempat bermalam. Hardy supir kami pergi mencari penanggungjawab penginapan. Kami menunggu beberapa menit hingga seorang bocah mungkin seusia Anas menghampiri kami. Suaranya terdengar lebih dahulu ketimbang sosoknya. Ia memiliki rambut keriwil gelap dan kulit yang juga tak kalah gelap dengan sekitar kami yang sama sekali tak memiliki penerangan listrik. Ia berbicara tak terlalu jelas, namun bersikap selayaknya orang penting yang akan membantu kami mendapatkan penginapan disini. Kami berjalan di dalam gelap memasuki kawasan dengan pohon-pohon besar. Lalu seseorang yang lebih dewasa datang di belakang bocah tadi, memperkenalkan diri sebagai penanggungjawab camp.
"Welcome to Camp Croco!" Ini adalah camp, jadi jangan berharap mendapat layanan lebih selayaknya penginapan, itulah sambungan kalimat yang tersirat dari sambutan hangatnya.

"Disini tak ada listrik, namun kami akan menghidupkan generator dari pukul tujuh hingga sembilan malam," sambungnya menjelaskan.

"Ok, no problem"  Jawabku mengambang. Lalu aku tak terlalu khawatir ketika ingat kami membawa lampu emergency yang telah kami cas penuh di Morondava. Dan gerung mesin generator pun terdengar.

Victor membawa kami ke sebuah pondok. Tak lama setelah kami meletakkan barang-barang kami yang membuat pondok semakin sempit, lampu menyala. Dan kami baru bisa melihat jelas kalau Victor memiliki senyum yang manis dan hangat.


 

Ada dua tempat tidur kayu ukuran single dengan kelambu jaring terpasang, dua helai selimut tebal yang tak akan kami pakai karena udara yang sudah cukup gerah dan beberapa tikar tradisional Malagasy berbentuk bundar sebagai alas kami duduk di lantai papannya.

Pondok ini, dibangun dari segala material yang mudah ditemukan di desa atau hutan. Dindingnya dari anyaman sejenis rumput yang aku tak tahu namanya, atapnya juga. Anyaman itu disusun pada bambu kecil sebagai rangkanya. Nyamuk, kecoak juga serangga lain sangat welcome! baikkan kami ^^

Toilet dan kamar mandi terletak terpisah, kami harus berbagi dengan penghuni camp lainnya.  Tak apa, baik juga bagi Anas dan Azzam untuk merasakan tinggal di desa serupa ini. Kalau aku? Ahh aku dulu kecilnya juga tinggal di desa kok!. Jadi, mari nikmati!.



Pagi harinya kami baru tahu kalau kamp ini terletak di depan aliran sungai Manambolo. Sungai yang akan kami jelajahi untuk melihat pesonanya.Kabarnya di dalam airnya yang keruh beberapa buaya hidup bebas. Kabarnya lagi, camp kami karena dekat hutan sangat ramah dengan segala binatang hutan itu. Jika malam beberapa lemur nocturnal terdengar menjerti-jerit berkeliaran, sayang aku tak berhasil memergoki mereka. Namun kami berkali-kali harus rela berbagi tempat dengan camelion atau bunglon besar yang betah merayapi langit-langit pondok, atau kodok besar yang tak merasa terusir tetap bertengger di toilet juga bekicot besar menempel di dinding kamar mandi. Bahkan ular yang dengan santainya lewat di depan mata. Malagasy percaya kalau segala binatang itu memiliki roh atau spirit dan tak boleh diganggu. Tepat disamping pondok kami ada sebuah lubang yang diperkirakan adalah rumah bagi sang ular. Penanggungjawab Camp meyakinkan kami untuk tidak khawatir. Menurutnya selama ular itu tidak diusik ia juga tak akan mengusik. Jadi lebih baik menjadi tetangga yang baik.

Happy Blogging, Happy Life!
Haya

17 komentar :

  1. Luar biasa ini Kak ceritanya. Tadi mau baca pas liat judulnya Bekopaka. Mirip nama tokoh di serial kesukaan ponakan saya: Teletubbies.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Azhar, ada ya tokoh Teletubbies yang namanya Bekopaka? Baru tahu hihi

      Hapus
  2. Luar biasa ini Kak ceritanya. Tadi mau baca pas liat judulnya Bekopaka. Mirip nama tokoh di serial kesukaan ponakan saya: Teletubbies.

    BalasHapus
  3. Damain bgt kayaknya ngecamp disituu... Ah pingiin

    BalasHapus
  4. waduuuh dekat dengan lubang ular.,,, langsung merinding

    BalasHapus
  5. Waah...binatang2 liarnya bikin sereeeem... Mudah2an semua OK ya..

    BalasHapus
  6. Wah seru sekali cerita petualangannya, Mbak. Dan ditulis dengan indah pula. Aku membayangkan ikut nginap di sana. Yang lain okey kecuali uulr dan lubangnya. Yakin deh gak akan mengusik mereka tapi pikiranku yg akan terus menerus terusik kalau berdekatan dengan mereka :)

    BalasHapus
  7. Saya keder duluan, saya geli, gak suka, parno dengan hewan melata (maafkan saya ya Allah), tapi pengalamannya seru mbak haya , azzam dan anas ketika dewasa pasti bangga bisa lihat itu semua :)

    BalasHapus
  8. tempat sih gakmasalah, tapi aku takut ular tuh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju banget sama mbak lidya..........

      Hapus
  9. Pasti asyik ya tinggal di pedesaan.
    Tenang dan penduduknya ramah tamah
    Di Indonesia juga ada tempat wisata ala pedesaan
    Terima kasih infonya yang menarik dan bermanfaat
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  10. kalu ada ularnya saya ga beranih tuh camp disana

    BalasHapus
  11. saya juga waktu kecil tinggal di desa mak, tapi malah jarang ke sawah :P suka geli sama binatang2..tapi pemandangannya oke yaa

    BalasHapus
  12. kaka di usi dayah??? masya allah.. itukan kampungnya lumayan pelosok kak? :D

    BalasHapus
  13. Mba Nufus seru pengalaman jalan2nya. Dulu pas masih remaja waktu naik gunung aku juga ga pernah kepikiran ntar digigit ular atau apa. Tapi klo sekarang ya parno juga nih hihihiiii....

    BalasHapus
  14. Salam kenal mba. Wah sedang tinggal di madagaskar ya? Alhamdulillah semakin banyak teman dunia maya di luar Indonesia :)

    BalasHapus