Buku yang kubaca berulang

19 komentar
Ada beberapa buku yang betah kubaca berulang-ulang. Membaca kali pertama, aku hanya mengejar jawaban dari cerita yang terjalin, namun membaca ulang untuk kedua, ketiga dan seterusnya adalah upayaku memuaskan diri akan taburan diksi yang indah juga kenikmatan dalam mencemburui penulisnya yang mampu menghadirkan jalinan kalimat serupa itu. Tak hanya kalimat namun ide-ide yang terkadang memenuhi halaman per halamannya. Dan tak perlu lagi membaca runut sesuai bab. Aku akan melompat sesuka hati. Membuka halaman secara acak untuk lama memutuskan membaca ulang bagian cerita yang mana. Maka, buku-buku pilihan itu kadang akan terus berada di bawah bantalku. Menjadi teman pengantar mimpi dalam tidur.

Bab Pertama dari And the Mountains echoed-nya Khaled Hosseini menggodaku untuk menulis serupa dongeng rakyat Afghan. Maka berkali-kali kupelajari gaya bertuturnya. Meski, tetap saja rasanya aku sangat kelelahan dan berada jauhhhh di belakang untuk bisa menyamainya. Luka and the Fire of Life-nya Salman Rushdie juga sama. Menggoda untuk ditiru namun membuat napasku tersengal ketika mencobanya.

Thurston House-nya Danielle Steel juga betah di dalam tas untuk beberapa minggu kubawa kemana-mana, dengan sesekali mencuri kesempatan untuk membaca ulang : ketika menunggu teman, di dalam mobil atau menunggu pesanan makanan sampai di sebuah tempat makan. Kisah romantis, cara penggambaran tokoh yang hidup dan konflik yang kuat membuatku terpancing menulis cerita manis yang sama.

Laskar pelangi-nya Andrea Hirata. menceritakan kehidupan sederhana yang lugu berbalut kearifan lokal dengan ringan namun menggelitik, segar. Novel ini pertama kali aku baca sekitar tahun 2008, dan sampai sekarang aku masih suka membuka acak lembaranya. Belajar menulis secara ringan namun cerdas dan beda. Dan... juga belum berhasil.

Ada beberapa judul lain karya-karya Pramoedya Ananta Toer, Dee Dewi Lestari juga JK Rowling. Untuk buku memoar perjalanan ada Selimut Debu dan Garis Batasnya Agustinus Wibowo.

Hasilnya... aku serasa menjadi pemilik kepribadian ganda! Dalam hal ini ingin menulis multi-gaya serupa mereka semuanya. Jelas, aku kepayahan. Siapa aku? Cuma penulis 'want to be!.

Mungkin aku hanya butuh menjadi diri sendiri? menulis tanpa target menjadi sehebat mereka? Namun diri sendiri yang mana? Seseorang yang ingin menulis namun belum punya bukti apa pun akan kepiawaian dalam menulis fiksi? Rasa penasaran menggentam dada dengan pertanyaan 'Apa aku bisa menulis?, Apa tulisanku bagus untuk standar sebuah novel? Kenapa susah sekali untuk menerbitkan buku? Apa aku harus menyerah saja?' Dan jawabannya adalah... 'terlalu tanggung untuk berhenti!'
 
Ok, ini semacam kegalauan. :(

19 komentar :

Posting Komentar

Tentang Kita (Puisi)

Tidak ada komentar


Tentang kita yang hampir melupakan masa lalu
Tentang mereka yang belum lagi dilahirkan
Ada benang, terhubung, tersambung.
Kita menjejak bumi yang sama
Sama namun tak terus sama
Bumi berubah,tergatung tangan kita.

Antananarivo, 24 Juli 2015

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Kamu ya!

22 komentar
Neny tak pernah memanggilku dengan 'kamu' maka ketika suatu sore ia melakukan itu, aku jadi curiga dan berpikir 'jangan-jangan neny lagi mabok?'

Neny dan Dadabe, foto dipasang setelah izin keduanya :D

Hari itu Sabtu sore, ketika Dadabe baru saja pulang dengan menyembunyikan wajahnya. Biasanya jika ia menghilang ke rumahnya di bagian belakang rumahku tanpa menyapa, ada sesuatu yang ia sembunyikan. Bukan benda atau barang, namun wajah merah dan mulut beraroma alkohol murahan yang ia teguk entah di hotely (warung) mana. Masalah ini dulu di awal-awal Dadabe bekerja dengan kami telah coba kami selesaikan. Tapi namanya saja sudah kebiasaan dan jamak dilakukan oleh orang-orang di sekitar mereka... Kadang-kadang Dadabe masih saja mengulangnya meski tak separah dulu.Setidaknya sekarang jika ia mabok, ia akan 'disembunyikan' neny di kamar... harus tidur dan tak menceracau apalagi mengamuk. Mereka memang suami-istri.

Nah, Sabtu ini malah neny yang bersikap aneh..

'Kamu ya.. jangan makan banyak-banyak cabe. Pedas! Sakit perut kamu!.. Kasihan... ibu kamu jauh. Kalau sakit, tak punya ibu.."

Kalimatnya berulang-ulang dengan mata besar... Neny memanggilku 'kamu?' biasanya ia selalu memanggil 'ibu' atau 'madame'.

Ia lalu keluar sibuk dengan jemuran yang baru ia angkat, naik ke atas meletakkan beberapa pakaian yang sudah ia setrika...

'Kamu ya... makan nasi banyak! Jangan sakit perut.. masuk angin..angin lagi nakal!' Neny kembali dengan nasehatnya lagi ketika melihatku masih di dapur, menyiapkan menu buka puasa.
'Iya Nen, iya!', aku harus menjawab iya dengan cepat... karenan tatapannya memaksa.

Dan setelah ia keluar menghilang ke rumahnya.. aku tutup pintu dan kunci rapat... tiba-tiba menjadi paranoid.. Meski tak ada bukti neny mabok, namun tingkahnya berbeda dari biasa. Mungkin ia memang gemas dengan hobiku yang suka sekali makan pedas? Mungkin ia sedang menunjukkan perhatian terhadap beberapa keluhanku akhir-kahir ini tentang angin yang berkumpul di perutku?. Bisa jadi.. tapi tetap terasa aneh.

Tentang perhatian dan keceriwisan.. Neny memang serupa orang tua bagi kami. Pernah, aku telah bersiap keluar rumah, neny menatapku lama lalu memintaku berganti celana.. alasannya celanaku tampak kusut di bagian bawah. 'Nanti ibu malu' alasannya ketika itu. Pernah juga suamiku yang ketika itu akan berangkat ke sebuah acara semi resmi dengan sepatu yang menurutnya kurang pantas... Dan suamiku pun mengganti sepatunya sambil senyum-senyum..


Sekarang ia sudah bersikap biasa..memanggilku dengan ibu dan tak menatap tajam.. Tapi aku tak juga menemukan kalimat untuk memastikan sikapnya kemarin.

22 komentar :

Posting Komentar