Kamu ya!

22 komentar
Neny tak pernah memanggilku dengan 'kamu' maka ketika suatu sore ia melakukan itu, aku jadi curiga dan berpikir 'jangan-jangan neny lagi mabok?'

Neny dan Dadabe, foto dipasang setelah izin keduanya :D

Hari itu Sabtu sore, ketika Dadabe baru saja pulang dengan menyembunyikan wajahnya. Biasanya jika ia menghilang ke rumahnya di bagian belakang rumahku tanpa menyapa, ada sesuatu yang ia sembunyikan. Bukan benda atau barang, namun wajah merah dan mulut beraroma alkohol murahan yang ia teguk entah di hotely (warung) mana. Masalah ini dulu di awal-awal Dadabe bekerja dengan kami telah coba kami selesaikan. Tapi namanya saja sudah kebiasaan dan jamak dilakukan oleh orang-orang di sekitar mereka... Kadang-kadang Dadabe masih saja mengulangnya meski tak separah dulu.Setidaknya sekarang jika ia mabok, ia akan 'disembunyikan' neny di kamar... harus tidur dan tak menceracau apalagi mengamuk. Mereka memang suami-istri.

Nah, Sabtu ini malah neny yang bersikap aneh..

'Kamu ya.. jangan makan banyak-banyak cabe. Pedas! Sakit perut kamu!.. Kasihan... ibu kamu jauh. Kalau sakit, tak punya ibu.."

Kalimatnya berulang-ulang dengan mata besar... Neny memanggilku 'kamu?' biasanya ia selalu memanggil 'ibu' atau 'madame'.

Ia lalu keluar sibuk dengan jemuran yang baru ia angkat, naik ke atas meletakkan beberapa pakaian yang sudah ia setrika...

'Kamu ya... makan nasi banyak! Jangan sakit perut.. masuk angin..angin lagi nakal!' Neny kembali dengan nasehatnya lagi ketika melihatku masih di dapur, menyiapkan menu buka puasa.
'Iya Nen, iya!', aku harus menjawab iya dengan cepat... karenan tatapannya memaksa.

Dan setelah ia keluar menghilang ke rumahnya.. aku tutup pintu dan kunci rapat... tiba-tiba menjadi paranoid.. Meski tak ada bukti neny mabok, namun tingkahnya berbeda dari biasa. Mungkin ia memang gemas dengan hobiku yang suka sekali makan pedas? Mungkin ia sedang menunjukkan perhatian terhadap beberapa keluhanku akhir-kahir ini tentang angin yang berkumpul di perutku?. Bisa jadi.. tapi tetap terasa aneh.

Tentang perhatian dan keceriwisan.. Neny memang serupa orang tua bagi kami. Pernah, aku telah bersiap keluar rumah, neny menatapku lama lalu memintaku berganti celana.. alasannya celanaku tampak kusut di bagian bawah. 'Nanti ibu malu' alasannya ketika itu. Pernah juga suamiku yang ketika itu akan berangkat ke sebuah acara semi resmi dengan sepatu yang menurutnya kurang pantas... Dan suamiku pun mengganti sepatunya sambil senyum-senyum..


Sekarang ia sudah bersikap biasa..memanggilku dengan ibu dan tak menatap tajam.. Tapi aku tak juga menemukan kalimat untuk memastikan sikapnya kemarin.

22 komentar :

  1. Suka sama postingan ini. Gaya bertuturnya keren. Mbaaak, asyik nih kalo dibikin buku traveling ;)

    Btw, ngomong sama mereka pake bahasa apa? Menjelaskan akan memasang foto mereka di blog, gimana cara menjelaskannya? Penasaran saya hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga ada penerbit yang tertarik ya mbak Niar... Jadi buku...Aamiin...aamiin ya rabbal alamin ^^
      Neny dan Dadabe bisa bahasa Indonesia mbak karena sudah lebih sepuluh tahun kerja bersama orang Indonesia. Mintanya yahh bilang aja mau masukin ke internet :D Mereka malah senang malu-malu gitu hehe..

      Hapus
    2. Waah asyik dong ya mereka bisa ngomong bahasa kita :)

      Mbak, coba diajuin ke penerbit saja kayak Mb Jihan Davincka. Saya yakin kisah2 di sini keren utk diajukan ke penerbit. Penerbit selalu cari tulisan2 traveling. Tulisan ttg Madagascar yang ada di sini menarik, Mbak ... ayo Mbak ....

      Hapus
    3. ayo buruan, nanti aku juga minat beli.

      Hapus
  2. belum ditanya kenapanya ya mbak? Memangnya di warung2 disana banyak dijual alcohol yg bisa dibeli kapan saja siapa saja? Justru saya suka namanya "hotely" kayak mo ngucapin "homey" :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak mbak..dari warung murahan sampai cafe mewah! Tapi kalau masih di bawah umur kayaknya enggak deh.. Aku pertama baca tulisan hotely di pinggir jalan malah mikirnya hotel atau penginapan murah :D

      Hapus
  3. Neni itu yang suka membantu disana ya mbak, perhatia sekali ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Lidya, kami saling membutuhkan dan saling memberi perhatian :D

      Hapus
  4. Terlepas dari kalimat "kamu" tersebut, ini menunjukkan perhatian ya, Mbak.

    BalasHapus
  5. mungkin karena pertama kali berkunjung kesini jadi agak bingung dengan deny dan dedabe.. Setelah menghayati kalimat demi kalimat, membaca komentar sebelumnya, namun semuanya belum jelas. Mungkin saya perlu membaca postingan sebelum2nya blog ini.. Atau mungkin mbakk dengan berbaik hati menjelaskan kepada saya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Neny itu artinya ibu dalam bahasa Malagasy, Dadabe artinya kakek. Keduanya bekerja di rumah saya di Madagascar Muh Aldy..

      Hapus
  6. Wah Neny perhatian sekali seperti pembantuku yang sekarang sudah tidak bekerja di tempat saya lagi.

    BalasHapus
  7. Waaa Neny mabok sedikit mungkin ya? :)

    BalasHapus
  8. Neny ., mungkin belum mengerti kata kamu itu cocoknya ditujukan ke siapa ya
    mudahan bukan karena mabok deh, deg2 an juga lho kalau dekat orang mabok

    BalasHapus
  9. mungkin saking perhatiannya kali, Mbak? Tapi memang buat pastinya mending ditanya, sih :)

    BalasHapus
  10. Salam kenal mbak, kunjungan perdana nih, wah di Madagascar ya mbak, asiknya, memangnya kalau memanggil kamu itu aneh ya mbak?

    BalasHapus
  11. tapi bener nggak lagi mabok kan mbak haya?hehehe salam kenal

    BalasHapus
  12. Ini kisah nyata betulan kah ? lah kira-kira mabok betulan kagak itu ? perhatiaannya itu lo, kok super lebih banget.

    BalasHapus
  13. Yang penting perhatian, hihihi... di Madagascar hotely itu warung ya? Sama kayak di Sri Lanka berarti, tapi hotel aja nggak pakai y. Agak bingung diajak ke hotel eh taunya restoran =)) =))

    BalasHapus
  14. Jadi "Kamu" pikir neny sedang mabok atau engga?

    BalasHapus