Tamiang : Tempat untuk pulang.

18 komentar

Ada beberapa tempat yang bisa kujadikan pilihan untuk pulang. Salah-satunya : Tamiang!

Kubayangkan aku akan menapaki tanahnya setelah turun dari angkutan umum L300 di sebuah terminal tak terurus. Udara panas dengan debu jalanan tentu akan menyapa kulit dan tubuh penatku. Setelah sekitar tiga jam lebih perjalanan dari Medan aku merasa butuh mencuci muka. Tapi di terminal itu, hanya ada toilet kotor dengan pintu kayu yang tak bisa dikunci dan keran bermulut kering menempel di dindingnya yang terkelupas. Tak ada air, tak setetes pun. Jadi, lebih baik membeli sebotol air mineral dan menuangkannya ke tisu untuk cuci muka ~tentu karena aku tak pernah punya tisu basah~.

Deretan Pertokoan di Antananarivo, Madagascar

Lalu, segala kehiruk-pikukan kota Kuala Simpang hadir membangkitkan memori bertahun lampau. Deru becak mesin yang dulu kerap menjadi andalanku dalam menjangkau satu tempat ke tempat lainnya, juga mobil-mobil ADT dengan pintu samping terbuka dan deretan bangku bersarung senada. Deretan ruko dengan terasnya yang dipenuhi pejalan kaki. Juga kios-kios kayu di pajak tempat berjualan aneka barang. Lalu suara-suara berirama Tamiang, membuai telinga ~Ah, betapa aku rindu irama itu~ cengkok Melayu yang mempengaruhi bahasa Tamiang akan bercampur dengan logat Batak, logat Jawa, beberapa logat Aceh Pidie atau Aceh Utara juga Cina dan Padang. Suara-suara dan wajah-wajah di Tamiang lebih beragam. Tamiang begitu ramah dengan pendatang. Siapa saja bisa hidup, menghirup udaranya dan meminum air dari aliran sungai tamiang. Tamiang menjadi Aceh di perbatasan yang dulu ketika konflik memanaspun tetap dengan ketenangannya yang sahaja.

Aku akan berjalan menyusuri deret toko-toko itu. Lalu terpana pada beberapa papan nama toko dengan nama yang familiar. Toko mas Rapi tempat mamak dulu biasa memesan aneka bentuk perhiasannya, toko Jakarta yang di dalamnya berderet toples kaca berisi aneka kueh kering juga permen-permen aneka warna, bentuk dan rasa. Favoritku dulu adalah kue kering yang terbungkus serupa lumpia kecil yang di dalamnya menggumpal abon udang berasa gurih. Lalu di depan toko-toko kain aku seolah melihat diriku dalam sosok kanak-kanak, berdiri di depan pintunya, jelas tampak tak sabar. Aku akan menarik-narik tangan mamak agar beranjak dari sana, tapi tampaknya mamak masih sibuk dan bersemangat memilih-milih kain yang akan ia jahitkan menjadi pakaian. Biasanya ada bangku kayu di samping pintu, ketika mamak tak juga selesai dengan keperluannya aku akan duduk di bangku itu dengan wajah cemberut. 

Jika ke Kuala Simpang bersama Bapak, maka tujuan kami sangat jelas. Begitu sampai kami akan berjalan tergesa keToko Saudara yang adalah suplier utama barang-barang komoditi keudeu Bapak. Aku akan kepayahan mengikuti langkah besar Bapak. Tapi Bapak tak akan memperlambat langkah. Setiap menit bagi Bapak adalah berharga. Sampai di dalam, toke Cina dengan kaos singlet putih dan celana buntung sedengkul menyambut kami bersama beberapa pekerjanya yang semua telah mengenal Bapak. Abang-abang pekerja itu biasanya telah bewarna dan beraroma sesuai isi toko. Warna dan aroma toko kelontong. Kipas besar terus berisik berputar di atas kepala kami, karena Tamiang sering bercuaca terik. Bapak akan menyodorkan selembar atau dua lembar kertas lusuh yang sedari di rumah telah ia tulis : daftar belanja. Beberapa karung besar dan kecil beras, karung-karung terigu, karung-karung gula, kopi, teh, mie instan, aneka sabun cuci dan mandi, mentega dan barang-barang kebutuhan lain yang akan muat memenuhi mobil bak terbuka. Bapak tak akan menunggu barang-barang itu dikeluarkan dari gudang, ia hanya menunggu penghitungan total harga lalu meletakkan segepok uang di atas meja toke Cina tadi. Si toke akan menghitung cepat mengembalikan beberapa lembar atau malah menulis angka-angka baru di buku hutang-piutang miliknya. Semua ia lakukan sambil bersuara keras dalam bahasa cepat. Kertas lusuh Bapak tadi akan berpindah tangan ke abang-abang pekerja. Bapak segera keluar toko, terkadang terlupa ada aku yang masih mengikutinya. Berjalan beberapa meter, masuk ke deretan toko yang kali ini terletak menyempil di belakang deretan toko lain, Toko Muda, menjual bahan-bahan perlengkapan 'kereta'. Adalah sebuah ide cemerlang bagaimana Bapak bisa memiliki keudeu kelontong yang juga menjual sparepart kereta ~Oya mungkin kalian sudah tahu, kalau di Aceh kami menyebut sepeda motor dengan kereta~. Maka kali ini catatan lain dikeluarkan Bapak bertulis nama-nama busi segala nomor, ban dalam, ban luar, jari-jari kereta, pelumas mesin, aneka onderdil dan lain-lain yang aku tak terlalu mengerti. Prosesnya sama cepat karena Bapak adalah laki-laki tanpa basa-basi, segepok uang juga berpindah tangan.

Tengah hari, Bapak akan selesai dengan segala keperluan belanjanya. Aku harus mengingatkannya untuk masuk ke toko tas dan perlengkapan sekolah.Karena untuk itulah aku dibawa. Membeli tas untuk sekolah karena tas lamaku telah bolong di beberapa bagiannya. Bapak akan memilih satu tas yang menurutnya cukup kuat dengan harga miring, namun aku menolak dan mengambil tas sesuai dengan model yang aku inginku. Kami akan berdebat sebentar, biasanya Bapak yang menang namun kali itu aku akan keluar toko dengan senyum terkembang memeluk tas pilihanku. Dompet Bapak tentu telah semakin tipis. :D 
 
Lalu kami harus bergegas, dengan barang-barang yang telah rapi dimuat di bak terbuka mobil, kami kembali ke rumah di sebuah dusun bernama Pulau Tiga. Nama yang aneh, karena tak ada lautan yang bisa membuat dusun itu cocok disebut pulau. Juga membingungkan karena tak pernah bisa ditemukan pulau satu atau pulau dua di sekitarnya. Tapi memang itu namanya, Pulau Tiga, bagian dari kecamatan Tamiang di bagian hulu. Yang tersembunyi di antara deretan pohon-pohon kelapa sawit juga pohon-poon karet.


...bersambung....


18 komentar :

  1. Detail banget mbak ngejelasin timpat tinggalnya, saya sampe bisa ngebayangin, belakangan saya juga ngerasa homesick padahal baru berapa hari kmarin balik kampung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena memang sedang terbayang2 masa-masa kecil di Tamiang dulu kali ya mbak Ru ^^d. Ayo balik kampung lagi mbak :D

      Hapus
  2. ini betul2 kangen kayaknya sampai se detail itu kak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyalah Yudi..kangennya betul2. :D

      Hapus
  3. Lho kakak dari Kuala Simpang ternyata.. abangku juga orang situ ^-^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aslinya orang Aceh Pidie kak tapi alm Bapak ngeranto ke Tamiang jadi masa kecil kami dulu banyak dilewatkan di Tamiang..tepatnya di Pulau Tiga. Abang-nya kak Muna mungkin tahu Pulau Tiga itu dimananya.. Tak terlalu jauh dari kuala simpang tapi untuk kesananya jalannya dulu parah banget karena masuk ke perkebunan kelapa sawit.

      Hapus
  4. aah seperti sebuah kebetulan
    masa balitaku juga di sekitar Kuala Simpang, tepatnya di Rantau, bahkan 2 adikku lahir di sana
    tentu tak banyak yg kuingat, tapu pernah ke rumah saudara di Kuala Simpang, punya pohon sawo besar, petik sawo matang dan pengalaman ini berkesan banget,
    mungkin itu sebabnya aku suka sawo

    btw sumpia nama makanan yg berisi udang kering, favofitku juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di Rantau Pertamina ya mak? Keluarga suamiku dulunya juga tinggal di rantau.... Ahhh benar2 kebetulan ya ^^
      Ini awal pingin nulis tentang kuala simpang ---nanti juga mau nulis tentang Pulau Tiga--- mikirnya siapa tahu bisa ketemu sama orang-orang Tamiang :D

      Toss! Iya, namanya lumpia juga atau ada nama lain ya mak... asin-asin gurih gitu rasanya ^^d

      Hapus
  5. suatu saat aku pingin lihat kesana mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yukk mbak, ntar aku jadi guide-nya :)

      Hapus
  6. Aku pikir tamiang mana karena di Batam juga ada hutan & bukit tamiang :)

    BalasHapus
  7. ah...rindu untk pulang semakin memekat kini
    Ingin kuringkas jarak, agar bisa sesering kali pulang, mencium harum aroma tetumbuhan di sekitar rumah dan kala siang duduk di beranda menemani Simbok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rindu itu lebih pekat dari kopi yang selalu kuminum setiap pagi mbak Rie!

      Hapus
  8. Kangen itu bisa mengantar kata kata apik kayak gini yaa. Bacanya jd kerasa ada di sana :D

    BalasHapus
  9. pernah ngerasain kangen kampoung halaman takberujung alias gak tahaaaan lagi.Makasi atas nice tulisannya mbak :)

    BalasHapus
  10. Wah menarik ya, suatu saat pingin kesana juga sepertinya

    BalasHapus