Tamiang : Tempat untuk Pulang (2)

11 komentar
Jalan kecil di Mauritius, bukan Tamiang!
Setelah sedikit cerita tentang Kuala Simpang, mari kukenalkan sebuah tempat yang mungkin terdengar asing di telinga kalian, namun bagiku tempat itu melekat erat serupa darah yang mengalir di pembuluh, serupa dua bola mataku yang tetap di dalam tempurungnya. Tempat itu bernama Pulau Tiga, kemana pun aku pergi, ia tetap ada di dalam memori otakku.

Nun untuk mencapainya setiap liburan kuliah,  aku dulu harus memburu waktu. Tak boleh lewat jam lima sore karena jika terlambat hanya terminal kosong di sudut kuala simpang yang aku temui, tanpa ada lagi mobil-mobil yang kami sebut ADT terparkir.  Mungkin para supir tak mau ambil resiko kemalaman di jalan, mungkin biasanya memang tak lagi ada penumpang di bawah jam lima. Jadi, masa-masa mudik dari kuliah dulu, kami harus bergerak sepagi mungkin dari Banda Aceh, agar 'tak ditinggal' ADT ke Pulau Tiga.

Perjalanan dari dan menuju Pulu Tiga lah yang menjadikanku pengkhayal. Ada banyak cerita khayalan yang berputar-putar di kepalaku ketika mobil berguncang-guncang melewati jalanan rusak dengan pemandangan deretan pohon sawit dan karet di kiri kanan jalan. Dulu, khayalan-khalan itu hanyalah serupa adegan-adegan sinetron yang berakhir manis, cerita cinta-cinta monyet atau keinginan-keingina terpendam yang mungkin membuatku tampak aneh bagi siapa saja yang mau memperhatikan `karena sering tersenyum-senyum sendiri~. Tapi sepertinya tak ada yang repot-repot memperhatikan~

Perbukitan dengan pohon-pohon sawit menciptakan warna hijau, namun debu-debu yang beterbangan di udara saat musim panas, memberikan sentuhan kelabu. Itu lebih baik dibanding musin hujan yang menciptakan lubang-lubang berlumpur serupa kubangan, membuat perjalanan menjadi lebih lama.

Tapi tak apa,  karena di sebalik perbukitan dan perkebunan sawit itulah kami bermukim. Ada surga sederhana ~istilah yang sedikit memaksa~ tempat aku dan kelima saudariku tumbuh dan berkembang.

'Gapura' perdusunan kami akan dibuka dengan lapangan bola yang luas. Lapangan yang ramai ketika Agustus tiba dan sepi di bulan lain. Lapangan itu dikelilingi rumah gedong bergaya kolonialis dengan pondasi batu besar, tembok kokoh dan aneka tanaman hias di berandanya. Rumah-rumah gedong itu sepertinnya ditinggali oleh para pejabat perkebunan. Terkadang ada mobil-mobil jeep yang terpakir di depannya. Penghuni rumah itu sepertinya berganti-ganti. Mereka adalah orang-orang kota yang ditugaskan mengurus atau mengawasi aktivitas perkebunan sawit di tempat kami. Tak jauh dari situ juga ada kompleks perumahan para pegawai atau pekerja perkebunan. Beberapa teman SD ku tinggal di kompleks itu tapi aku tak terlalu mengerti kehidupan mereka karena aku bukan anak kompleks, aku anak keude! Oya, di seberang lapangan bola tadi ada pohon beringin yang telah hidup bertahun-tahun.. Pohon itu besar dengan sulur bergantungan. Dulu pohon itu diisukan seram, banyak hantu atau jin segala jin. tapi tak sekalipun aku bertatap muka dengan mereka. jadi aku anggap itu adalah cerita berlebihan.

Sampai di simpang tiga, yang adalah pusat dari segala aktivitas kesibukan dusun itu, aroma sate padang dari gerobak sepeda bang ... ~maaf lupa nama si abang~ akan memenuhi udara dan singgah di penciuman. Dulu, itu adalah jajanan favoritku. Ketupat yang digantung di pinggir gerobak akan dibelah, lalu dipotong serupa dadu dan dituangkan dalam bungkus picuk daun pisang. Tusuk-tusuk sate yang telah disusun di atas arang, dikipasi hingga matang dan beberapa bagiannya kehitaman lalu disusun di piggir potongan ketupat, bumbu kental berwarna kuning akan disiram di atasnya lalu taburan bawang goreng sebagai pelengkap akhir. Harganya tak mahal!. Udara sekitar akan bercampur dengan aroma lain : aroma mie Aceh nan pedas, uap-uap dari bijih kopi yang diseduh air panas, mie bakso bergelimang di udara. Jika pagi hari tentu juga akan ada aroma nasi gurih yang menggoda. Ok, aku rindu semuuaaaaa jajanan itu sekarang!!


Di depan deretan ruko, ada sebuah mesjid dengan menara tinggi. Mesjid itu dibangun ketika aku masih SD dan selesai sepertinya ketika aku sudah duduk di tsanawiyah. ~kalau tidak salah ingat~ Mesjid itu adalah tempat dimana segala bakat kami anak-anak dusun dikeluarkan. Latihan puisi, azan (bagi anak laki-laki), hafalan-hafalan surat pendek, shalawat, doa-doa juga praktek sholat.

Podium Mesjid itu juga menjadi saksi aku remaja yang gemetar namun bersuara lantang ketika menunaikan tugas 'khutbah' berbekal selembar kertas dari pondok pesantren setiap libur Ramadhan tiba. Tugas yang kunikmati karena ketika itu aku bisa melihat binar Bapak di shaf pertama, juga lalu obrolan singkatnya kepada teman-temannya. 'Si Aton, ka carong i pidato!'

Ya, begitu, Pulau Tiga adalah tempat kuhabiskan masa kecil yang penuh kenangan... masih banyak kenangan lain, cerita lain dari sudut tempat yang lain, tapi takutnya kalian bosan membacanya :D






11 komentar :

  1. tempat kenangan saat masa kecil tidak terlupakan, duh aku jadi ingat ruamh masa kecil yang sudah tidak bisa dikunjungi lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mbak Lidya, kenangan yang rasanya semakin jauh di belakang kita mampu hadir kembali dengan menjejak tempat yang sama yang dulu kita tinggali ya mbak. Rumah masa kecilku juga sekarang sudah beda dan bukan milik kami lagi :(

      Hapus
  2. Duuuuhh jangan2 kakak tetanggan pula sama mamak mertuaku...
    Hahhaha...dunia memang sempit ya..kita ketemu di blog. Kapan2 kita ketemuan di kuala simpang lah kak ;)

    BalasHapus
  3. Belum pernah ke tamiang, tapi kayanya seru, apalagi kalo bisa lihat orang ngayal sambil senyum2 sendiri, mungkin saya juga bakal ikutan senyum :D

    BalasHapus
  4. Nufus sama kali kayak saya. Waktu kecil suka menghayal, dan sering menghayal dalam perjalanan :D

    BalasHapus
  5. Aaaah .. baca ini jadi kangen sate Padang jugaa. Waktu masih tinggal di Pekanbaru, saya sering makan sate Padang. etapi sekarang saya tidak makan daging lagi .... hm ... kalo begitu bumbunya saja. Bumbunya itu yang unik. Kata orang kalo baru pertama kali makan, jangan ditempat terang, di tempat yang remang2 biar konsentrasi sama rasanya saja :D

    BalasHapus
  6. tempat paling ngangenin adalah tempat dimana kita menghabiskan masa kecil kita~ hehe

    BalasHapus
  7. Aceh juga semakin populer sekarang, pantai pantainya yg cantik kawan saya seneng banget bisa kesana. Kopi dan saya sukaaaa mie aceh nya :)

    BalasHapus
  8. Ah kampung halaman... di mana pun dia, apa pun namanya, tetap indah dalam ingatan, tetap dirindukan meskipun sudah tertinggal ribuan mil di belakang.

    BalasHapus
  9. jadi ingat kampung halaman mbaaa...dan kalau jauh begini terasa sekali yaa :)

    BalasHapus
  10. Kalau jam 5 sudah kosong mobil mobil.. sepi bangt brati ya..

    BalasHapus