Tebu Jawa di Mauritius!

32 komentar
Satu sudut pemandangan Port Louis

Saya tak menduga akan mendengar nama Jawa disebutkan oleh salah-seorang penduduk Mauritius, sebuah negara kepulauan di sebelah barat daya Samudera Hindia, berjarak sekitar 900 km sebelah timur Madagaskar. Ketika itu taxi yang kami sewa melaju santai pada jalanan basah karena hujan yang menggerimis. Di kiri kanan kami hamparan perkebunan tebu yang luas. Dan sang supir dengan bahasa Inggris berlogat creol mengatakan bahwa tebu yang ditanam di Mauritius bibit awalnya dibawa dari Jawa, hingga berhasil menjadikan Mauritius satu dari penyuplai tebu terbesar bagi industri gula dunia. Meski setelah beberapa dekade berlalu, kini industri gula tak lagi memakai tebu sebagai satu-satunya bahan baku dan Mauritius harus rela mengurangi lahan tebu mereka dan beralih ke sektor lain. Namun tebu Jawa masih mereka kenang sebagai penyokong perekonomian negara kecil seluas 2.040 km2 tersebut. Meski saya bukan orang Jawa, namun Jawa adalah Indonesia dan wajar saya ikut bangga mendengarnya.

Perkebunan tebu yang kami lewati

Saya dan teman-teman sengaja menyempatkan diri berkunjung ke Mauritius karena jarak tempuhnya yang tidak sampai tiga jam penerbangan dari Madagaskar. Kami sampai ketika hari sudah gelap dan langsung menuju penginapan Casa Florida di Pereybere, Grand Baie. Penginapan ini terletak dekat pantai namun juga tak jauh dari keramaian kota. Penginapan ini milik keluarga suami seorang WNI lohhh. Emang ada orang Indonesia di negara ini? Lumayan lahhh kabarnya banyak yang bekerja di beberapa pabrik atau juga awak kapal selain WNI yang menikah dengan penduduk Mauritius tentu saja. Dan senang sekali melihat ada sentuhan Indonesia yang ditampilkan di penginapan ini melalui Spa ala-ala Jawa dengan iringan musik dan dekorasi Jawa. Namun sayangnya di Mauritius belum ada Kedutaan Besar Indonesia, mungkin suatu saat nanti ya.

Karena sesama orang Indonesia, kami betahlahh di penginapan bergaya bungalows ini. Empat malam kami menginap disini.

Ruang Spa di Hotel Casa Florida


Kemana kami esok harinya? 

Jelaslah tur keliling ibukotanya yang bernama Port Louis. Kota ini sangat cantik dan tenang. Ok, sekejap saya sempat berdoa andai bisa menetap di kota ini alangkah indahnya hidup.. Kota maju dengan jalanan rapi, penduduk yang tak terlalu padat berwajah ramah, alam berbukit hijau juga dikelilingi pantai berpasir putih. Negara yang tak luas, namun mampu membangkitkan segala potensi dan pesonanya ~setidaknya di mataku~. Terlihat sempurna sebagai kota impian. Yah, meski ada juga beberapa keluhan yang dikeluhkan penduduknya.

Lalu tebu Jawa?

Untuk berkeliling ibukota kami memilih untuk menyewa taxi dengan harga yang telah kami sepakati. Dan kami melewati perkebunan tebu yang luas.. Saat itulah saya tahu, bahwa zaman kolonialis dulu Belanda membawa pekerja-pekarja dari Indonesia juga bibit tebu untuk ditanam disini. Tanaman-tanaman berasa manis itu tetap ada hingga saat ini.

Melewati perkebunan tebu, kami memasuki jalanan yang tertata rapi dengan bangunan-bangunan kuno di beberapa sudut kota juga bangunan-bangunan modern di tempat yang lain. Wajar, jika negara ini masuk dalam negara maju dan makmur di antara negara-negara Afrika.

Sayangnya kami tak sempat mengunjungi pabrik tebu ataupun museum yang merekam cerita awal mula tentang adanya industri tebu di Mauritius. Untunglah seorang teman yang pernah berkunjung kesana meminjami foto museum, juga data untuk tambahan cerita disini.. Tengkiyuu dear friend!^^

Pada 8 November 1639, Gubernur Belanda, Adriaan Van der Stel, tiba di Mauritius bersama kapal uap yang datang dari Batavia (Jakarta). Ia berlabuh di pelabuhan besar dengan aneka bibit biji-bijian dan bibit aneka buah juga binatang : kelinci, rusa, domba, angsa, merpati dan lain-lain. Sayangnya data rincian tumbuhan yang dibawa besertanya hilang, namun beberapa tahun kemudian padi dan tebu tumbuh subur di pulau ini.

Benarkah tumbuhan ini dibawa dengan kapal uap? Sangat mungkin! Untuk mengkonfirmasi hal ini, Badan Pertanian Mauritius mengkontak badan Arsip di Jakarta, juga menghubungi La Haye di Belanda pada tahun 1950. Kedua pihak yang dihubungi tersebut membenarkan, kalau tebu memang dibawa dan diperkenalkan pada sekitar bulan Desember 1639.


Museum Tebu, foto milik teman.

Museum ini terletak di Pamplemousses, berbentuk gedung bercorak kuno yang dulunya adalah pabrik 'Beau Sugar Estate' yang memproduksi gula mentah. Setelah 177 tahun beroperasi, pabrik ini diubah fungsi menjadi museum populer 'L'Aventure du Sucre'. Museum yang merepresentasikan segala kisah menarik dari industri gula di Mauritius. Di dalamnya diciptakan suasana otentik yang menjelaskan tahapan produksi gula : dari mulai pembudidayaan tebu hingga menjadi produk yang siap untuk dieksport. Bahkan mesin asli, pipa-pipa dan tong atau wadahnya masih dipajang di museum ini termasuk dua lokomotif pengangkut gula ke Madagaskar yang kabarnya berlayar terakhir kali pada tahun 2000. 

Setelah berkunjung ke berbagai sudut museum, pengunjung juga diperbolehkan mencicipi aneka hasil olahan tebu.


Foto from http://blog.airmauritius.com/historical-buildings-mauritius-beau-plan-sugar-estate-laventure-du-sucre/#!prettyPhoto
Industri gula adalah industri utama yang menggerakkan perekonomian Mauritius sebelum munculnya industri pariwisata dan tekstil pada tahun 1960-an.  (http://blog.airmauritius.com/historical-buildings-mauritius-beau-plan-sugar-estate-laventure-du-sucre/#!prettyPhoto)

Menyesal juga tidak menyempatkan diri berkunjung ke museum tersebut, semoga ada waktu lain kali ^^.. Aamiin...aamiin...!!!
 
Port Louis, sang ibukota dan Caudan Waterfront.

Port Louis adalah ibukota, pusat pemerintahan, pusat perekonomian juga pelabuhan utama terbesar di Mauritius. Disini dibangun terminal dan dermaga bagi masuknya barang import dan keluarnya barang eksport yang juga diawasi oleh kapal National Coast Guard. Dekat kawasan pelabuhan ini dibangun mall pusat perbelanjaan terbesar bernama Caudan Waterfront, maka kelayapanlah kami dari toko souvenir ke toko pakaian lalu ke toko perhiasan. Cuci mata saja sebenarnya, karena dengar-dengar harga disini lebih tinggi dari di tempat lain. Dan kami masih punya hari lain untuk membeli oleh-oleh :D

Port Louis sudah dijadikan kota pelabuhan sejak tahun 1638 yang lalu dibawah pemerintahan Perancis pada tahun 1735 menjadi kota administratif. Letaknya yang strategis menjadikan pelabuhan ini menjadi tempat persinggahan kapal-kapal perancis dari lintasan Asia dan Eropa. Nama nya sendiri diambil dari nama Raja Perancis yaitu Raja Louis XV. Karena dikelilingi oleh pegunungan Moka, Port Louis relatif aman dari cyclone yang kerap melewatinya.

Asiknya di Port Louis, restoran berlabel sertifikasi halal mudah ditemukan. Supir taxi yang menemani kami juga seorang Muslim. Ia menjelaskan tentang restoran cepat saji yang bisa kami datangi untuk mengisi perut ketika lapar. Juga menunjukkan beberapa mesjid yang kami lewati di sekitar kota. Kerukunan beragama di Mauritius patut diacungi jempol. Hindu sebagai agama mayoritas lalu Kristian, Muslim dan Budha hidup rukun berdampingan.
Bar and Resto terapung, sepertinya tidak halal, kami tidak makan disini meski suasananya cocok buat makan sambil melamun santai.

Penduduknya multi etnis juga multi bahasa. Mereka bisa berbicara dengan bahasa Inggris, Perancis, juga bahasa Kreol Morisien yang adalah perpaduan bahasa Inggris dan Perancis namun berlogat mirip-mirip India.. Dialek yang sebenarnya enak didengar. Dan penilaian sekilas secara subjektif, wajah dan karakter mereka mirip India : kulit coklat gelap, rambut hitam legam, hidung mancung dan berparas tampan atau cantik. Selain ada juga ada yang berperawakan Asia (Cina) dan Afrika.


Kapal-kapal yang tampak dari kawasan Caudan Waterfront

Kawasan diluar Mall Caudan Waerfront.
Bukan hanya Caudan Waterfront yang memperindah Port Louis, ada banyak bangunan kuno dan modern lainnya.. 

Persimpangan jalan di Port Louis

Tuhhh, orang-orangnya mirip India kan?

Masih banyak sebenarnya sudut kota lain, ada China town juga pasar tradisional yang tak serapi ini namun juga menarik untuk didatangi. Tapi, ini dulu aja ya.. ^^


Mohon saran dan perbaikan jika di antara pembaca menemukan kesalahan data atau informasi.
Happy life, happy blogging!
Haya


Referensi :
https://en.wikipedia.org/wiki/Port_Louis
https://en.wikipedia.org/wiki/Mauritius
http://blog.airmauritius.com/historical-buildings-mauritius-beau-plan-sugar-estate-laventure-du-sucre/#!prettyPhoto

32 komentar :

  1. kelihatan bersih kotanya ya :)

    BalasHapus
  2. Hmmm jadi ingat penemuan yg sama tp lbh deket, di Sumut. Kalau di Sumut, buruh2 tebu Jawa dibawa kesana oleh penjajah Belanda. Kalau di Mauritius bgmn ya sejarahnya tebu sampai nun jauh disana?

    BalasHapus
  3. Woaaaaa..... baru dengar nama negara ini. Ke mana ajaaaa, hahahahaaa.....
    Dan kotanya cantik banget ya nufuuuuuus, benar-benar kota impian. Tidak terlalu ramai dan indah, kota impian saya juga.
    Btw, kayaknya kalo 3 jam naik pesawat dr Madagaskar, lumayan jauhlah tuh nufus. Kakak bayanginnya dari banda Aceh ke pulau Jawa. Ke Jakarta kan cuma 2 jam-an dr banda Aceh :D

    BalasHapus
  4. Kak Hayaaa... fotonya dibanyakin lagi boleeeeh? Hihi... Suka kali sama ceritanya di negara-negara yang baru pertama kali dengar namanya ini. Tapi fotonya kurang kali, Kak. Penasaran ee... :D

    BalasHapus
  5. Saya dulu hoby googling gambar2 negara ini apalagi kebudayaannya yg beragam, dan sempat juga nemu artikel tentang standard kecantikan perempuan mauritius. Menarik. Teman kantor kmarin ditugasin ke mauritius juga

    BalasHapus
  6. ada yang jualan es tebu g ya?

    BalasHapus
  7. Wah, ternyata ceritanya bermula dari penjajahan belanda ya. Sebenarnya, belanda berjasa sih :D

    BalasHapus
  8. Kota yang cantik, yaaaa. Keren, deh . By the way jadi penasaran kayak gimana sih logat Creolnya mereka? :)

    BalasHapus
  9. kalau ada tebu jawa mungkin ada tanaman jawa lain yang ada disana.. info yang menarik...

    BalasHapus
  10. mbak aku pingin lihta rumah-rumah di sana tuh kaya apa bentunya, ada perumahan gitu gak?

    BalasHapus
  11. waah keren banget! jadi pengen ke sana juga ^__^

    BalasHapus
  12. aku sering kebalik2 dengan Mauritius dan Mauritania, dua negara beda kan ya..?
    senang ya bisa mengeksplor tempat baru..., apalagi bawa 2 berhubungan dengan sejarah orang Indonesia

    BalasHapus
  13. Berarti, jawa terkenal dong tebunya...hehehe

    BalasHapus
  14. Namun sayangnya di Mauritius belum ada Kedutaan Besar Indonesia <- Hmm.. Mungkin ini ada hubungannya sama kebijakan perpajakan mereka sebagai Tav Haven Country yang secara tidak langsung dapat merugikan Indonesia.

    BalasHapus
  15. Bangga deh sebagai orang jawa karena tebunya sudah sampai di sana, indah sekali tempatnya mbak, bersih ya, pelabuhannya juga cantik

    BalasHapus
  16. Wah... sering mendengar nama Mauritius tapi baru kali ini melihat foto2nya. Bagus ya kotanya.

    BalasHapus
  17. mauritius yg gw tau hanya lah tempat pakaian TOP MAN di produksi hahaha, suka baca label nya kaos2 yg gw beli hahaha

    BalasHapus
  18. Dulunya banyak migran dari India kah? Nggak nyangka di Afrika ada negara yang majoritynya Hindu... mauuu ke sanaaa...

    BalasHapus
  19. Sepertinya tebu jawa menyebar seperti kopi dari Jawa ke pelbagai belahan dunia

    BalasHapus
  20. Saya yang sejak jaman purba nete di Indonesia aja kagak tau Mbak kalau ada tebu namanya tebu Jawa. Hihihi maluuuu....

    BalasHapus
  21. fotonya bagus-bagus kak, kotanya juga keliatannya enak dan nyaman :D

    BalasHapus
  22. Kapan ya Jakarta kaya foto yang mba pajang :(

    BalasHapus
  23. kotanya bagus ya...nyaman dan tidak terlalu hectic..dan bersih..Menarik sekali ada museum tebu..di Lampung mustinya ada juga nih :)

    BalasHapus
  24. Luar biasa menarik....tebu jawa....
    TFS mak..blogwalking nih salam kenal..

    BalasHapus
  25. iya nih pic nya kurang.. hehe kok jadi ikutan nimbrung di komentar. TFS Mbak Haya, senang sekali bisa melihat keindahan Mauritiius lewat sini

    BalasHapus
  26. Kerennya kalau cerita2 di sini bisa dibukukan, Mbak ... kayaknya belum ada deh buku traveling yang isinya seperti cerita2 Mbak Nufus .... semoga suatu saat kelak bisa jadi buku ya .. aamiin ...

    BalasHapus
  27. Senangnya bisa mampir di blog ini. Benar-benar menambah wawasan. Tks, Mbak. :)

    BalasHapus
  28. Wah artikelnya sip banget mbak, ane malah baru tau kali ini..
    ada sedih dan bangganya juga sih :D
    Kota mauritus juga bersih dan rapi.. Kalau ada waktu bisa nih mampir kesana. wkwkwk #ngarep

    BalasHapus
  29. kpengen nih ksana kalo bsa kerja dsana,hehe
    ceritanya keren menambah wawasan tentang negara2 yg msih asing ditelinga kita ��

    BalasHapus
  30. Kerukunan mauritius dikarenakan negara itu BUKAN mayoritas MUSLIM, kalau mayoritas muslim pasti ribut terus, kayak afganistan, nigeria, somalia, sudan dan masih banyak lagi.
    Di mauritius kebanyakan hindu yang damai dan kristen, islam minoritas.

    BalasHapus