Fiksi Sejarah : Sultanah Safiatuddin

6 komentar

Terbersit ide untuk menuliskan kisah Sultanah Pertama Kesultanan Aceh, namun saya lalu menjadi ragu ketika menyadari batasan antara fakta dan imajinasi menjadi semakin kabur. Ada kekhawatiran akan terjadinya penyimpangan sejarah atau malah saya merubah karakter asli sang sultanah dan tokoh lain menjadi sebuah kebalikan.

Sultanah Tajul Alam Syafiatudin Syah.

Berita mangkatnya Sultan Iskandar Tsani Al-lauddin Mughayat Syah terbawa angin keluar Istana Darud Dunya, bergerak menyapa setiap telinga. Arakan mendung dengan cepat menyelimuti langit Kesultanan Aceh. Titik hujan menderas, menumpahkan rasa kehilangan. Kelembutan hati sang Sultan memberikan rasa kasih meruah dari rakyatnya. Meski semasa hidupnya kelembutan itu juga yang dianggap ancaman, sebuah kelemahan yang harusnya tak ada dalam menghadapi perang dan ragam intrik kekuasaan. Kelembutan yang jelas berkebalikan dari otoritas yang ditampakkan sultan sebelumnya, sang legenda, Sultan Iskandar Muda. Ayah mertua yang dengan hati kekar pernah memerintahkan hukuman mati kepada putra kesayangannya Seri Sultan Perkasa Alam Johan Berdaulat yang terbukti melakukan perbuatan mesum dengan salah satu istri pejabat kesultanan. Di depan dewan hakim dengan lantang ia meneriakkan “Mate aneuk meupat jirat, mate adat pat tamita” ~Mati anak jelas kuburan, mati adat-istiadat tak akan jelas keberadaannya~.

Sultan Iskandar Muda pula yang mengangkat Sultan Iskandar Tsani yang adalah orang asing sebagai anak, merawat dan mendidiknya dengan kasih, hingga mewariskan tak hanya tahta kesultanan namun juga menikahkannya dengan sang puri, Safiatuddin. Dan setelah Iskandar Tsani meninggal, tak ada lelaki yang tersisa dari keluarga istana.

Safiatuddin, ia bukan wanita lemah, telah bertahun terbiasa dengan hiruk pikuk istana. Meski alur airmata masih terbentuk di pipinya ia tahu ia harus melakukan sesuatu. Singgasana yang kosong harus segera diisi. Ia tak punya banyak waktu untuk meratapi kejandaannya. Maka ditanggalkannya pakaian berkabung, ditegakkannya badan melangkah ke balairung, tempat para hulu balang dan pejabat Kesultanan berkumpul. Ia bisa mendengar suara-suara yang keluar dari dinding balairung. Riuh, saling menimpali dan berbalas. Sepertinya mereka juga menganggap perkabungan usai sudah.

Langkahnya terhenti di depan pintu ketika sang guru Syekh Nuruddin Ar-raniry muncul dari ujung lorong arah berlawanan. Sosok itu mendekat memperlihatkan gurat wajah tenang dengan mata sejernih telaga di belantara sana yang belum pernah terjamah. Sang guru menatapnya.

“Apa yang kau lakukan disini? Kupikir kau tak perlu mendengar diskusi mereka.”
“Mereka membicarakan kesultanan. Aku harus dengar.”

Sang guru mengangguk, membuat tangan Safiatuddin mantap mendorong pintu kayu yang terasa berat itu. Spontan semua mata teralih kepadanya. Tak hanya para hulu balang, bersama mereka juga para Ulama dan Wujudiah. Suara-suara yang tadi bergemuruh terhenti. Ia masuk, dengan rasa percaya diri yang ia tahu harus ia tunjukkan.

“Aku akan mengambil tempat itu, duduk sebagai Sultanah kalian, menggantikan suamiku, mewarisi tahta dari ayahandaku.” Tak butuh waktu lama, suasana ruangan bergemuruh, memanas dengan ragam respon. Ia seakan baru saja menarik pematik granat dan melemparkannya ke mereka.

“Tak mungkin Safiatuddin, kau tak akan sanggup dan kami tak akan rela.”
“Tak ada dalam sejarah, kita dipimpin wanita!’
“Singgasana sudah selayaknya diserahkan kepada keputusan hulu balang. Kita pilih ulang sultan kita. Tak apa tak memiliki darah Iskandar Muda.”
“Merugilah kita jika urusan kaum kita dipegang oleh wanita!”

Tak ada basa-basi atau kalimat diplomatis. Penolakan langsung itu mewakili semua isi kepala di ruangan ini, mungkin juga seluruh negeri. Musyawarah mencapai titik didih menghasilkan emosi. Pikiran tak jernih, lebih mengedepankan ego maskulin berbalut syariat. Ragam dalil dilemparkan, hanya untuk satu keputusan, Safiatuddin tak boleh menjadi pemimpin mereka. Safiatuddin tetap menolak mundur, ini adalah warisan, dan menyerahkannya kepada keputusan Hulu Balang bukan yang ia inginkan. Ia hanya perlu mencari dukungan.

Lalu beberapa dari mereka mengangkat tubuh dari kursi-kursi, pergi meninggalkannya tak merasa harus melanjutkan musyawarah. Meski tetap menebarkan gerutuan ke sesama mereka di belakang punggung Safiatuddin. Sang putri sangat keras kepala, kata mereka.
Tak semua pergi. Beberapa masih duduk disitu, seakan bisa melihat harapan dari sisi yang berbeda. Mereka mencoba membuka kepala dan hati. Syekh Nuruddin Ar-raniry juga tetap disana. Ia tahu kini banyak telunjuk yang diarahkan ke wajah sang murid.

“Mereka tak ingin aku menjadi sultanah. Kau belum berkata apapun. Bagaimana menurutmu Syekh?”

Syekh Nuruddin Ar-raniri, sudah menjadi gurunya sejak ia masih 7 tahun. Bersama Sultan Iskandar Tsani dan semua putri pejabat Kesultanan, ia diajarkan tentang ilmu pengetahuan umum, pengetahuan Agama juga sastra.

“Wanita memang terlarang menjadi imam Sholat, namun menjadi sultanah tak ada larangan.”

Cukuplah kalimat itu baginya untuk tak menghentikan langkah, untuk menghadapi siapa saja yang menentang. Orang-orang yang tersisa disana mengangguk, hati mereka menjadi kuat untuk mendukung Safiatuddin.

Karakter keras yang ia warisi dari sang ayah muncul ke permukaan. Sudah kepalang tanggung, bara yang digenggam biar sampai jadi arang. Ia merasa tak lagi ada waktu untuk bimbang dan memenuhi keinginan suara yang berharap ia mundur. Langkahnya akan terus maju hingga nyawa terlepas. Tak ada jaminan jika ia mundur negeri akan kembali berjaya. Malaka baru saja jatuh ke tangan Belanda menyebabkan perdagangan dan hubungan kerjasama dengan Kesultanan Aceh merenggang. Berton-ton lada yang akan dikirim ke Malaka dikembalikan. Para hulu balang kaya terlalu asik dengan kemewahan, tak semuanya mau ambil pusing.
Ia memang wanita, namun ia peduli dan mau melakukan hal yang akan dilakuakan seorang sultanah. Pundaknya memang akan berat menyandang gelar Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Syah, namun itu sesuatu yang bisa ia pikul.
Maka, ia segera menyiapkan jiname atau serupa mahar untuk menjadi sultanah berupa emas murni 32 kati, uang tunai seribu enam ratus ringgit, berpuluh ekor kerbau, dan beberapa gunca padi. Semuanya ia serahkan untuk dimanfaatkan bagi rakyat. Tak ada lagi yang boleh membantah, ia berhak atas keris dan cap Kesultanan Aceh. Namanya menjadi panjang dengan gelar Sultanah Tajul Alam Syafiatudin Syah


6 komentar :

  1. Perempuan2 Aceh terkenal pemberani, pejuang yang pantang menyerah.

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. Kati itu salah-satu ukuran berat mbak. 1 kati setara dengan 6 1/4 ons atau 1 1/6 pound. Aku juga baru cari di Wiki :D

      Hapus
  3. perempuan-perempuan Aceh banyak yang hebat, ya. Tangguh! :)

    BalasHapus
  4. Mau komen sama kayak mamanya Keke Naima :)

    BalasHapus