Sebiru Safir Madagascar : Novel Tentang Impian dan Harapan

49 komentar
Mimpi bertahun lalu jadi nyata. Sebuah cover cantik nan manis itu rasanya tak bosan-bosan saya pandangi. Novel perdana saya terbit! Rasanya segala syukur harus saya kirimkan ke singgasanaNya. Alhamdulilalh, terima kasih Allah. Jelas ini sebuah nikmat, sebuah anugerah yang menyirnakan kegundahan hati.

Mungkin ini yang disebut blessing in disguise! Awalnya, saya menyangka penempatan suami saya ke Madagaskar menjauhkan saya dari segala impian yang pernah saya rancang. Saya salah, impian itu tak menjauh hanya berkelok dengan kejutan menyenangkan. Madagaskar menjadi inspirasi yang menghidupkan segala imajinasi saya menulis fiksi. Istimewanya imajinasi saya juga berbaur segala pesan yang ingin saya sampaikan. Pesan tentang kehidupan dan mimpi anak-anak Madagaskar. Karena serupa kita mereka juga berhak memiliki mimpi sesulit apapun kehidupan.

ISBN : 978-602-1614-53-2

Sekilas tentang novel ini :

Kau tahu apa yang membuat hidup tak lagi ringan? Dia adalah ledakan beban mimpi yang menguras tenaga! Napasmu harus cukup panjang untuk sampai di akhir jalan. (Rindra)

Aku menarik napas sejenak, merasakan suasana lengang yang tercipta. “Jika ditanya mau jadi apa saya …,” aku berhenti lagi, dengan jeda yang sebenarnya untuk meredakan buncahan semangatku sendiri. “Saya ingin menjadi inspirasi bagi Malagasy. Dengan segala hal yang bisa saya lakukan.” Lengang hadirin tampak tegang menarik napas, terbawa emosiku.

Gadis cilik miskin dari pelosok Madagascar itu benama Mirindra. Di usianya yang ketujuh tahun, lengkap sudah kesendiriannya. Ditinggal mati ibunya, juga ditinggal ayahnya menjadi penambang batu mulia di sebuah pertambangan asing yang berjarak ratusan kilometer dari rumahnya. Tak ada pilihan bagi ayahnya, kecuali menitipkan sekaligus menyekolahkannya di Akany Tafita, sebuah sekolah dan asrama yang menampung anak-anak miskin di sekitar perbukitan Sahasoa.

Mirindra miskin, tapi cerdas. Menguasai empat bahasa di dunia. Tumbuh dengan mimpi-mimpi yang terus-menerus dibenamkan oleh Tinah, wanita pemilik Akany Tafita, dia menjadi sangat obsesif. Lupa bahwa dia miskin, tak punya bekal apa-apa seperti yang dikatakan oleh Josse. Oh, betulkah dia tak akan bisa mewujudkan mimpinya? Ah, sepertinya iya. Setiap pintu yang akan dia lalui tertutup semua. Lalu, untuk apa selama ini dia memeras isi kepala demi memecahkan rumus-rumus dan membaca buku-buku tebal? Untuk dilupakankah?

Novel ini adalah juara III dari Lomba Menulis Novel Inspirasi tahun 2014 oleh Penerbit Indiva Media Kreasi, sebuah penerbit mayor yang memiliki idealisme untuk menghadirkan buku-buku berkualitas bagi masyarakat Indonesia.Visi dan misi penerbit bisa terlihat dari buku-buku yang telah mereka terbitkan. Dan saya bangga, dapat menjadi bagian dari mereka.

Jadi, kamu mau kan baca novel ini? Mau ya... ^^

Happy Life, Happy Blogging!
Haya

49 komentar :

Posting Komentar