DI BAWAH POHON SYCAMORE

15 komentar
Disclosure : Ini review suka-suka atas keinginan sendiri;


Adakah yang melebihi kenikmatan membaca novel sambil bermalas-malasan di tempat tidur?

Judul            : Sycamore Row
Penulis        : John Grisham
Alih Bahasa : Lily Mayanti Boynton
Penerbit       : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2013
Halaman       : 635

Novel ini menjadi awal perkenalanku dengan John Grisham. Perkenalan manis karena begitu aku sampai di kalimat terakhir, aku dipenuhi keinginan untuk mencari novel-novel JG yang lain, mengabaikan waktu dan menikmati kisah-kisah yang ia hadirkan. Resikonya, hariku akan dimulai lebih lambat dan malas... Mata terus terpaku menyusuri kata ke kalimat, halaman ke halaman. Hahaha, gara-gara novel ini sehari kemarin aku tidak bergaul dengan para tetangga, dapur tak mengebul dan kami sekeluarga makan masakan warung dong!

Adalah Jake Brigance, pengacara yang sedang pailit karena kasus terakhir yang ia tangani memancing kemarahan para preman. Meski ia memenangkan kasus itu, rumahnya habis dibakar dan ia berkonflik dengan pihak asuransi yang seakan lepas tangan. Ia bersama Carla istrinya dan Hanna putrinya menempati kontrakan sempit meski sementara beberapa pelaku bahkan tak mendapat hukuman setimpal.

Dalam keadaan itu ia menerima surat dari Seth Hubbard yang baru saja ditemukan mati gantung diri. Seth dan Jake belum pernah bertemu namun surat itu tertulis jelas apa yang diinginkan Seth untuk dilakukan Jake.

... aku ingin surat wasiat ini dilaksanakan betapa pun sulitnya, dan aku tahu kau bisa melakukannya. Secara spesifik, aku tidak meninggalkan apa-apa untuk kedua anakku yang sudah dewasa, anak-anak mereka dan dua mantan istriku. Mereka bukan orang baik dan mereka akan menentangnya, jadi bersiap-siaplah. Warisanku cukup besar -mereka belum tahu ukurannya- dan ketika mereka tahu mereka akan menyerang. Lawan mereka Mr. Brigance, sampai titik darah penghabisan. Kita harus menang....
Beserta surat ini Jake menerima surat wasiat tulisan tangan Seth yang mewariskan 90% hartanya kepada Lettie Lang, 5% untuk Ancil Hubbard, adiknya yang menghilang, tak diketahui masih hidup atau sudah mati dan 5% sisa untuk Irish Road Christian Church, juga instruksi prosesi pemakamannya. Jake menjadi pengacara dari orang yang sudah mati, melawan anak-anak Seth yang tentu merasa tersinggung. Dan pertanyaan pentingnya adalah kenapa Seth memberikan warisannya kepada Lettie, pembantu rumah tangganya yang berkulit hitam?

Keraguan itu yang dihembuskan terus di ruang sidang... bahkan pembaca pun diajak pada kemungkina-kemungkinan yang bisa saja terjadi. Apakah Lettie terlalu mempengaruhi Seth di masa-masa sekaratnya karena kangker paru-paru? Apakah Lettie memanipulasi Seth atau obat-obatan yang diminum Seth membuatnya hilang akal?

Bagian pembuka novel ini, memberi gambaran tentang kematian Seth dan kekacauan yang diakibatkan setelah itu. Bagian tengah kebanyakan tentang proses-proses peradilan yang diakui Jake terkadang membosankan dan berbelit juga trik-trik pengacara untuk memenangkan klien mereka.
Sidang itu bukan tentang keadilan, tapi tentang kemenangan ~halaman 437

Bagian akhir, ah! aku selalu menganggap ending yang baik adalah ending tak terduga dan mengejutkan. Dan John Grisham menuliskan bagian akhir itu dengan baik. Ending itu yang membuat aku akan terus mengingat kisah Sycamore Row ini kurasa. Unsur kejut, unsur tragedi ada di bagian akhir. 
Jika kau tidak punya masa depan, kau hidup di masa lalu, dan terjebak di sana selamanya. ~halaman 271
Oya, kekurangannya mungkin ada pada banyaknya karakter yang dimunculkan. Pengacara-pengacara, orang-orang lokal yang bergosip di kafe, wartawan, polisi-polisi, penjaga penjara, saksi-saksi, para pegawai, para kerabat. Aku bahkan tak benar-benar ingat nama dan sosok yang kadang muncul. Beberapa kali aku harus kembali ke halaman sebelumnya untuk melacak nama yang rasanya sudah pernah disebutkan namun aku lupan apa perannya. Meski begitu, karakter utama digambarkan secara kuat dan tidak 'hitam putih'. Mereka seakan manusia normal yang punya emosi, ego, kebaikan hati juga sifat jahat. 

Pinginnya sih, menceritakan semua kisahnya disini, tapi nanti malah spoiler, dan membaca novel yang kita sudah tahu jalan cerita dari awal sampai ending tentu tidak mengasikkan. Jadi, kalau kamu suka novel ala- ala detektif  baca novel ini.



Ini dia daftar karya JG yang lainnya. Banyak ternyata! Sepertinya butuh dompet tebal untuk bisa memuaskan nafsu berburu ^^. 

Happy reading, happy blogging, happy life!
Haya Nufus

15 komentar :

Posting Komentar

Perjalanan Menuju Tsingy de Bemaraha

7 komentar
Yang namanya keinginan itu selalu ada dan ada.. Tercapai yang satu, muncul lagi yang lain. Tak puas-puas. Betul?. Macam-macam keinginan itu tentu tergantung minat dan kesenangan. Kalau ada yang tanya apa yang aku inginkan saat ini, jawabannya juga akan cukup panjang. Di antaranya ya... Melihat pertambangan batu permata di Ilakaka, berpose di depan gunung Isalo di Toleara,  melihat parade dolphin di Sainte Marie, leyeh-leyeh di Nosy be juga menjumpai komunitas muslim terbesar madagascar yang bermukim di Diego. Semuanya ada di wilayah Madagaskar. Tapi, rentangan tangan tak akan mampu meraih semuanya. Ada keterbatasan juga kewajiban lain yang harus ditunaikan. Waktu, tanggungjawab pekerjaan juga biaya. Jadilah, harus ada pilihan-pilihan logis… Pilihan logisnya seperti apa?. Tentu perjalanan yang berkesan namun tak menggerogoti kantongku ehhh kantong si abang deh. :D Tapi aku termasuk orang yang menganggap kalau kita punya keinginan, ada saja jalan untuk mewujudkannya. meski tak semua...Yang penting berani pasang target tinggi meski hasilnya tak akan setinggi target.

Contohnya adalah keinginanku untuk mengunjungi National Park Tsingy de Bemaraha di Region Melaky. Keinginan itu rasanya syuuussahhh diwujudkan. Bukan karena jauh, medannya berat atau  hitung-hitungan biaya yang akan kami keluarkan termasuk 'lumayan'... namun juga karena aku inginnya pergi bersama anak-anak. Banyak yang  meragukan perjalanan kami akan mudah dengan membawa Anas (9 tahun) dan Azzam 5 tahun). Tapi.. lebih baik mencoba daripada menyesal. Mencoba sampai aku tahu dimana batas 'kemungkinan' itu. Toh jika tak sanggup kami bisa berhenti.

Jadi, diputuskan kami berangkat dengan menyewa mobil 4WD dari Antananarivo. Aku ehh si abang memang jago kalau menyusun jadwal dan perkiraan dana. Mari bergerak!

Hari Pertama : Antananarivo - Morondava

Ini adalah kali kedua kami mengunjungi ibukota region Menabe. Perjalanannya masih seperti oktober lalu. Kami berangkat pukul 7 pagi, berhenti di jalan jam 12-an untuk makan siang dan sholat Dzuhur. Tak perlu mencari restoran atau warung, karena bekal telah aku siapkan subuh tadi. Kami makan di bawah pohon-pohon dekat sungai berair keruh di daerah ... ehhmmmm tak taulah namanya.


Supir kami namanya Hardy, orangnya asik dan baik banget. Pertanyaan yang sering ia ulang-ulang adalah 'Bagaimana, anda puas?. Yang juga kami jawab dengan jawaban yang sama. 'Yess!!'  meski tak bisa bercakap Inggris apalagi Indonesia ia seolah tak kehilangan topik untuk berbicara, kamipun sama tiba-tiba punya Kepercayaan diri tinggi untuk nyerocos Bahasa Perancis juga Malagasy. Biar deh ngomongnya kacau yang penting nyambung. :D 

Anas dan Azzam juga keihatan enjoy... dan santai!. 
Asiknya perjalanan darat adalah kami bisa bebas memandang indahnya alam Madagascar. Pegunungan batu yang diselimuti pohon atau rerumputan hijau, sungai-sungai berair jernih hingga keruh, desa-desa kecil dengan warga lokalnya juga langit biru-putih yang cerah.

Kami sampai di Morondava sekitar pukul 18.30. Langsung menuju penginapan Bungalows Morondava yang menghadap laut. Suasana gelap karena listrik padam. Tak apa, kan kami bawa lampu darurat yang sudah ter-cass full di rumah. Bersih-bersih badan, makan malam, sholat dannnn tidur... Udara terasa panas dan pengap karena dekat pantai.  Lampu menyala sekitar pukul 22.00 dan kipas angin di dinding kamar langsung berputar barengan dengan Ac. 

Hari Kedua : Morondava - Bekopaka

Paginya,
Main laut! Yeayyyyy..... 
Malamnya kami sudah janjian dengan Hardy akan berangkat ke Bekopaka pukul 7 teng. Jadi ketika langit masih gelap kami sudah bersiap.. tapi pingin juga untuk mandi dan main di pantai. Anas dan Azzam sudah bawa bola dan layang-layangan segala lagi... Sempat?. Sempat!. Selesai sholat subuh dan makan nasi berlauk sosis aku, Anas dan Azzam sudah di pantai.. Mata kami langsung dimanja dengan langit pucat bergradasi keunguan, debur ombak yang bikin kangen Aceh juga aktivitas nelayan.


Meski tak banyak waktu dan aku terus-terusan melihat jam di tangan Anas dan Azzam senang..


Karena senang, keduanya jadi susah untuk diajak udahan main lautnya.. Sampai jurus terakhir dimainkan. 'Nanti kita kemari lagi kok, sebelum balik ke Antananarivo'.
'Beneran ma?'
Iya, karena memang seperti itu jadwal kami.

--- Bersambung-----


7 komentar :

Posting Komentar

RESENSI : SEMUSIM DAN SEMUSIM LAGI

2 komentar

Judul          : Semusim, dan Semusim lagi
Penulis       : Andina Dwifatma
Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2013

...ditulis dengan teknik penceritaan yang intens, serius, eksploratif, dan mencekam. -Dewan Juri Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012-
Kita memang dilarang menilai segala sesuatu dari penampilan luar, namun sinaps-sinaps otak cenderung melakukan itu -menilai apa saja dari yang awal sekali tampak-. Untuk buku, tentu kesan itu muncul dari  sampulnya.

Ngapain sih ikan mas koki itu duduk santai leyeh-leyeh di bangku taman? Aneh! Itu kalimat pertama di otak saya, ketika memegang novel Semusim, dan semusim lagi ini.

Di halaman-halaman awal yang alur penceritaannya masih terasa ringan, saya tak menemukan alasan pemilihan desain sampul serupa itu. Halaman-halaman awal berkisah tentang 'aku' ~yang bahkan sampai akhir cerita tak diberikan nama~ yang menerima dua amplop begitu ia tamat SMA. Saya menganalogikan dua amplop sebagai dua pilihan hidup. Amplop pertama berisi surat dan berkas-berkas kelengkapan tentang kuliah dari Universitas yang akan membuatnya menjadi pakar Sejarah, serupa dengan cita-cita 'aku'. Amplop kedua, tanpa nama pengirim, namun 'aku' tahu itu dari laki-laki yang mengaku sebagai ayahnya, yang mengajaknya untuk bertemu setelah 17 tahun terpisah, setelah meninggalkannya di usian 3 bulan. Tak dijelaskan alasan perpisahan dengan sang ayah juga tak ada memori yang tersimpan di kepalanya tentang sosok ayah. Maka ia menciptakan karakter ayah yang terasa menyenangkan dan keren. 

Keanehan pertama tampak dari sikap sang ibu. Bagaimana mungkin hubungan ibu-anak sangat kaku dan hambar?  Lalu emosi ibu yang tampak tidak stabil meski ia seorang dokter bedah otak. Namun kita diajak hanya peduli pada karakter 'aku' karena ialah yang berkisah disini, kehidupan si ibu tetap serupa teka-teki.

Halaman-halaman selanjutnya, saya pikir serupa kisah roman yang normal. Tokoh 'aku' menyukai seorang laki-laki yang muncul ketika ia kesepian. Normal.... manis... dengan pembicaraan tentang filsafat, seni, lukisan, lagu-lagu....
How many years must a mountain exist, before it is washed to the sea?
How many years can some people exist, before they are allowed to be free?
How many times can a man turn his head, and pretend that he just doesn't see?
How many times must a man look up, before he can see the sky?
How many years must one man have, before he can hear people cry?
How many deaths will it take till he knows, that too many people have died?
The answer, my friend, is blowin' in the wind
The answer is blowin' in the wind

Lalu halaman ke halaman selanjutnya mulai ditampakkan keanehan. Absurd! Si ikan mas koki muncul untuk pertama kalinya. Dan mulailah terlihat, alasan dijadikannya si ikan koki sebagai karakter di sampul depan. Ish...ishh..ishhh! Juga mulai masuk akallah komentar dewan juri di atas... intens, serius, eksploratif, dan mencekam.

Kisah ini berdasarkan penceritaan dari 'aku' dan pembaca dibawa untuk masuk ke dalam jiwanya 'aku'. Sehingga ada beberapa bagian yang membuat pembaca akan bingung. Karena memang tokoh 'aku' juga bingung... Hahahaha bingung ya? Baca sajalah biar tak penasaran. Kalau kamu suka novel-novel yang tidak umum, kamu akan suka novel ini.

Lalu saya sampai pada halaman-halaman akhir. Segala rasa atau kesan aneh di bagian awal dan tengah tergantikan dengan rasa haru, biru juga sedih. Merasa iba dan kasihan kepada sosok 'aku' dan ia memang pantas disayang... Endingnya pun begitu menggantung, karena ini tentang musim-musim yang ia lewati.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada hidupku selanjutnya, tapi anehnya aku merasa baik-baik saja. Ayah ada di sisiku kini. Aku merasa semusim paling berat dalam hidupku telah terlewati, dan aku siap untuk musim selanjutnya. Lalu mungkin semusim, dan semusim lagi...
Udah ya, begitu saja ulasannya, biar jangan terlalu spoiler.
Saya memberikan 4 bintang dari 5 bagi novel ini. Tentu nilai ini sangat subjektif dan kita bisa saja berbeda pendapat. Oya, saya memasukkan novel ini dalam kategori novel dewasa.

Happy reading, happy blogging, happy life!
Haya Nufus

2 komentar :

Posting Komentar

Angela ; Kisah nyata tentang anak kecil yang bertahan hidup dalam kemiskinan

19 komentar
Halo para pembaca, halo Indonesia!

Eee cihuyyyy!!! kami sudah kembali ke tanah air dan kembali ikut memadatkan Jakarta sejak Februari kemarin. Rasanya nano-nano : ada manis-manisnya saat bertemu keluarga dan sahabat, ada asamnya saat bersusah payah mencari tempat tinggal baru, sekolah baru untuk anak-anak dan urusan administrasi lapor diri agar kembali terdata sebagai warga DKI.... juga ada asinnya karena Jakarta yang gerah berselang hujan tetap saja membuat tubuh kami berkeringat asin. Kalau di Antananarivo dulu tak mandi dua hari pun tubuh tetap tak beraroma, sekarang dua kali mandi di pagi dan sore hari rasanya tak cukup. Gerrraaaaahhhh!

Di lingkungan yang baru ada wajah-wajah tetangga baru yang harus rajin dibagi-bagikan senyum dan sapa, siapa tahu bisa jadi sahabat atau saudara. Ada abang-abang bubur ayam, mie bakso, siomay, batagor, es cendol, rujak cingur, ketoprak dkk yang saban hari lewat depan pintu, yang meski menggoda harus tetap dicuekin. Jajan memang bikin kenyang tapi kalau sering-sering tak baik bagi kantong. Dari pada jajan mending baca novel saja.. iyessss??? ^^


Ini dia novel yang aku baca Februari kemarin. ANGELA : Kisah nyata tentang anak kecil yang bertahan hidup dalam kemiskinan. Ditulis oleh Frank McCourt, memenangkan Pulitzer Prize 1997, National Book Critics Circle Award, Los Angeles Times Award serta Royal Society of literature Award dan di sampul depannya ada #1 New York Times Bestseller. Bertolak dari semua penghargaan itu aku memberikan empat setengah dari lima bintang untuk novel ini. Ceritanya yang unik dan berbeda juga setting Irlandia yang jarang-jarang aku ketahui membuat rasa penasaran terus saja muncul lembar ke lembar. Dan... semua itu ditulis dengan kalimat yang mudah untuk dibayangkan....

Ketika pekerjaan Dad memasuki minggu ketiga, ia tidak membawa pulang upahnya. Pada Jumat malam kami menunggu-nunggu, dan Mam memberi kami roti dan teh. Gelap datang dan lampu-lampu menyala sepanjang Classon Avenue. Pria-pria lain yang punya pekerjaan sudah tiba di rumah dan menyantap telur untuk makan malam - karena kau tidak boleh makan daging pada hari Jumat -. Kau bisa mendengar keluarga-keluarga berbincang di lantai atas dan bawah dan sepanjang lorong, dan Bing Crosby bernyanyi di radio, Brother can you spare a dime?

Aku dan Malachy bermain dengan si kembar. Kami tahu Mam tidak akan mendendangkan 'Siapa pun tentu melihat mengapa aku menginginkan ciumanmu'. Dia duduk di kursi dapur sambil bicara sendiri, 'Apa yang harus kulakukan?'

Larut hari Dad menaiki tangga dan menyanyikan lagu Roddy McCorley. Dad mendorong pintu dan memanggil kami 'Mana pasukanku? Mana keempat pejuangku?' Mam berkata 'jangan ganggu anak-anak! mereka sudah tidur setengah kelaparan karena kau harus mengisi perutmu dengan wiski'. Dad datang ke pintu kamar tidur. 'Bangun anak-anak, bangun! Satu nikel bagi siapa pun yang berjanji untuk mati demi Irlandia'. Halaman 33

Sebuah novel tak hanya berisi khayalan penulisnya, sering kali ada pengetahuan yang disisipkan juga nilai-nilai yang disusupkan bersama diksi yang indah. Dari Novel Angela yang adalah kisah nyata penulisnya, aku mendapat banyak hal baru tentang kehidupan Irlandia pada tahun-tahun suram setelah terlepas dari Inggris : budaya mabuk para lelakinya, kematian anak yang sering terjadi akibat sanitasi lingkungan yang buruk, tokoh agama yang arogan dalam kesantunan, juga sesumbar memaki Inggris yang adalah penjajah serta rasa terima kasih kepada tuhan karena menciptakan Hitler dan uang-uang yang didapat akibat perang dunia.

Kisah masa kecil Frank memang suram, ia harus berjuang untuk hidup. Ketika tak lagi ada yang bisa dimakan di rumah, ketika ia dan adik-adiknya kelaparan, ketika sang ayah terus saja bermabuk-mabukan di bar, ketika mereka kehabisan batu bara dan teramcam mati kedinginan pada musim yang beku, ketika sang ibu nyaris gila karena semua deritanya, ketika adik-adik yang lebih kecil satu per satu meninggal Frank tidak pasrah, ia melakukan sesuatu. Ia mencuri buah di kebun buah, mengambil susu dan roti yang baru saja diantarkan kurir di depan pintu rumah tetangga, mencuri limun di cafe untuk sang ibu yang mengigau... lalu melakukan penebusan dosa dengan mengadu di dalam gereja.

Frank lihai sekali menceritakan kejadian 'ngenes' dalam hidupnya secara lucu dan memancing tawa : tentang sepatu penuh tambalan ban karet, rumah dengan jamban umum yang menyiksa mereka dengan bau sepanjang tahun, guru-guru yang keras yang tidak menyukai murid yang banyak tanya, bibi yang cerewet, nenek yang selalu marah, paman yang gila... semua dituturkan dengan penuh humor. Ia bahkan menamai rumahnya di lantai bawah yang selalu tergenang air dengan Irlandia dan lantai atas yang kering dengan Italia.

Itu sekelumit kisah Frank... ada banyak adegan lain dari novel setebal 594 ini yang membuat kita ikut merasa suram namun tergelitik haru.

Teramat terperinci dan kerap puitis juga humor. Penderitaan dan selingan-selingan kegembiraan yang diuraikan McCourt tanpa terduga menjadi suatu karya renungan klasik, yang dengan brilian menghidupkan kembali sebuah dunia yang keras. ~Water Ellis, Sunday Times


Selain kisah yang menarik, kelebihan novel ini juga ada pada kalimat-kalimat puitis yang disisipkan dalam cerita. Puisi-puisi yang indah dan syair-syair lagu dengan makna yang dalam mampu membuai angan pembaca. Sayang, pada beberapa kalimat tampak rancu dan tidak jelas maksudnya, mungkin karena ini novel terjemahan ya.. Jadi ada beberapa kata dengan diksi yang kurang tepat.

Selain itu, meski berkisah tentang kehidupan Frank di masa kecil, menurut saya ini adalah novel dewasa. Ada beberapa bagian cerita yang terasa 'vulgar' terutama di bagian akhir kisah ketika Frank telah lebih besar dan berangkat kembali ke Amerika. 

Bagaimanapun, senang bisa membaca kisah Frank...

Happy Reading, happy blogging, happy life!
Haya Nufus

19 komentar :

Posting Komentar