Angela ; Kisah nyata tentang anak kecil yang bertahan hidup dalam kemiskinan

19 komentar
Halo para pembaca, halo Indonesia!

Eee cihuyyyy!!! kami sudah kembali ke tanah air dan kembali ikut memadatkan Jakarta sejak Februari kemarin. Rasanya nano-nano : ada manis-manisnya saat bertemu keluarga dan sahabat, ada asamnya saat bersusah payah mencari tempat tinggal baru, sekolah baru untuk anak-anak dan urusan administrasi lapor diri agar kembali terdata sebagai warga DKI.... juga ada asinnya karena Jakarta yang gerah berselang hujan tetap saja membuat tubuh kami berkeringat asin. Kalau di Antananarivo dulu tak mandi dua hari pun tubuh tetap tak beraroma, sekarang dua kali mandi di pagi dan sore hari rasanya tak cukup. Gerrraaaaahhhh!

Di lingkungan yang baru ada wajah-wajah tetangga baru yang harus rajin dibagi-bagikan senyum dan sapa, siapa tahu bisa jadi sahabat atau saudara. Ada abang-abang bubur ayam, mie bakso, siomay, batagor, es cendol, rujak cingur, ketoprak dkk yang saban hari lewat depan pintu, yang meski menggoda harus tetap dicuekin. Jajan memang bikin kenyang tapi kalau sering-sering tak baik bagi kantong. Dari pada jajan mending baca novel saja.. iyessss??? ^^


Ini dia novel yang aku baca Februari kemarin. ANGELA : Kisah nyata tentang anak kecil yang bertahan hidup dalam kemiskinan. Ditulis oleh Frank McCourt, memenangkan Pulitzer Prize 1997, National Book Critics Circle Award, Los Angeles Times Award serta Royal Society of literature Award dan di sampul depannya ada #1 New York Times Bestseller. Bertolak dari semua penghargaan itu aku memberikan empat setengah dari lima bintang untuk novel ini. Ceritanya yang unik dan berbeda juga setting Irlandia yang jarang-jarang aku ketahui membuat rasa penasaran terus saja muncul lembar ke lembar. Dan... semua itu ditulis dengan kalimat yang mudah untuk dibayangkan....

Ketika pekerjaan Dad memasuki minggu ketiga, ia tidak membawa pulang upahnya. Pada Jumat malam kami menunggu-nunggu, dan Mam memberi kami roti dan teh. Gelap datang dan lampu-lampu menyala sepanjang Classon Avenue. Pria-pria lain yang punya pekerjaan sudah tiba di rumah dan menyantap telur untuk makan malam - karena kau tidak boleh makan daging pada hari Jumat -. Kau bisa mendengar keluarga-keluarga berbincang di lantai atas dan bawah dan sepanjang lorong, dan Bing Crosby bernyanyi di radio, Brother can you spare a dime?

Aku dan Malachy bermain dengan si kembar. Kami tahu Mam tidak akan mendendangkan 'Siapa pun tentu melihat mengapa aku menginginkan ciumanmu'. Dia duduk di kursi dapur sambil bicara sendiri, 'Apa yang harus kulakukan?'

Larut hari Dad menaiki tangga dan menyanyikan lagu Roddy McCorley. Dad mendorong pintu dan memanggil kami 'Mana pasukanku? Mana keempat pejuangku?' Mam berkata 'jangan ganggu anak-anak! mereka sudah tidur setengah kelaparan karena kau harus mengisi perutmu dengan wiski'. Dad datang ke pintu kamar tidur. 'Bangun anak-anak, bangun! Satu nikel bagi siapa pun yang berjanji untuk mati demi Irlandia'. Halaman 33

Sebuah novel tak hanya berisi khayalan penulisnya, sering kali ada pengetahuan yang disisipkan juga nilai-nilai yang disusupkan bersama diksi yang indah. Dari Novel Angela yang adalah kisah nyata penulisnya, aku mendapat banyak hal baru tentang kehidupan Irlandia pada tahun-tahun suram setelah terlepas dari Inggris : budaya mabuk para lelakinya, kematian anak yang sering terjadi akibat sanitasi lingkungan yang buruk, tokoh agama yang arogan dalam kesantunan, juga sesumbar memaki Inggris yang adalah penjajah serta rasa terima kasih kepada tuhan karena menciptakan Hitler dan uang-uang yang didapat akibat perang dunia.

Kisah masa kecil Frank memang suram, ia harus berjuang untuk hidup. Ketika tak lagi ada yang bisa dimakan di rumah, ketika ia dan adik-adiknya kelaparan, ketika sang ayah terus saja bermabuk-mabukan di bar, ketika mereka kehabisan batu bara dan teramcam mati kedinginan pada musim yang beku, ketika sang ibu nyaris gila karena semua deritanya, ketika adik-adik yang lebih kecil satu per satu meninggal Frank tidak pasrah, ia melakukan sesuatu. Ia mencuri buah di kebun buah, mengambil susu dan roti yang baru saja diantarkan kurir di depan pintu rumah tetangga, mencuri limun di cafe untuk sang ibu yang mengigau... lalu melakukan penebusan dosa dengan mengadu di dalam gereja.

Frank lihai sekali menceritakan kejadian 'ngenes' dalam hidupnya secara lucu dan memancing tawa : tentang sepatu penuh tambalan ban karet, rumah dengan jamban umum yang menyiksa mereka dengan bau sepanjang tahun, guru-guru yang keras yang tidak menyukai murid yang banyak tanya, bibi yang cerewet, nenek yang selalu marah, paman yang gila... semua dituturkan dengan penuh humor. Ia bahkan menamai rumahnya di lantai bawah yang selalu tergenang air dengan Irlandia dan lantai atas yang kering dengan Italia.

Itu sekelumit kisah Frank... ada banyak adegan lain dari novel setebal 594 ini yang membuat kita ikut merasa suram namun tergelitik haru.

Teramat terperinci dan kerap puitis juga humor. Penderitaan dan selingan-selingan kegembiraan yang diuraikan McCourt tanpa terduga menjadi suatu karya renungan klasik, yang dengan brilian menghidupkan kembali sebuah dunia yang keras. ~Water Ellis, Sunday Times


Selain kisah yang menarik, kelebihan novel ini juga ada pada kalimat-kalimat puitis yang disisipkan dalam cerita. Puisi-puisi yang indah dan syair-syair lagu dengan makna yang dalam mampu membuai angan pembaca. Sayang, pada beberapa kalimat tampak rancu dan tidak jelas maksudnya, mungkin karena ini novel terjemahan ya.. Jadi ada beberapa kata dengan diksi yang kurang tepat.

Selain itu, meski berkisah tentang kehidupan Frank di masa kecil, menurut saya ini adalah novel dewasa. Ada beberapa bagian cerita yang terasa 'vulgar' terutama di bagian akhir kisah ketika Frank telah lebih besar dan berangkat kembali ke Amerika. 

Bagaimanapun, senang bisa membaca kisah Frank...

Happy Reading, happy blogging, happy life!
Haya Nufus

19 komentar :

  1. Wah kayanya perlu dimasukin wish list segera nih

    BalasHapus
  2. sama komennya kayak mak Muna, harus dimasukkan wish list :)

    BalasHapus
  3. Lihat covernya saya tidak tertarik krn
    Wajahnya koq sedih gitu klihatannya saya kuatir jd baper hahahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha iya ya mbak, raut wajahnya murung. Tapi kayaknya mbak Ru bakal suka sama ceritanya deh

      Hapus
  4. Buku terbitan tahun berapa mbak? Penerbitnya siapa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terbit tahun 2009 mbak, penerbit Matahari, PT Prima Ufuk Semesta

      Hapus
  5. Bagus Kayaknya ... bentar, gue lagi mo ngerampungin 1Q84 dulu ...

    BalasHapus
  6. penasaran pengen baca, cari bukunya ah.. :)

    BalasHapus
  7. kayak nya cerita ini membuat terinspirasi, pengen baca lah

    BalasHapus
  8. welcome home Haya...
    diksi yang indah ya ...aku jadi penasaran...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih bunda Monda.. ^^d Hehe sesuai selera aku nih :D

      Hapus
  9. Wow, kalo dapat Pulitzer berarti memang keren Mbak Nufus.
    Gak bikin stres baca novelnya? Secara baca judulnya saja, sudah bergidik.
    Oya, welcome back to Indonesia. Kebayang deh rasa nano2nya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak stress kok mbak. Tapi tergantung selera pembaca juga ya.. kalau aku genre serupa ini cocok aja ^^

      Terima kasih mbak Niar.

      Hapus
  10. Nanti aku cari ke Gramedia ah bukunya. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cari Sebiru Safir Madagascar juga ya Citra #ups

      Hapus
  11. Saya tertarik dari judulnya, tapi.... kata-katanya hasil terjemahan yaa, susah dimaknai sih, jadinya agak kacau di otak saya, hehe...
    tapi dengan ini, minimal saya tahu tentang isi dari novel tsb, tentang itu kan kak, di masanya Hitler, begitu kan yaaa, hehe

    BalasHapus
  12. Buku-buku bacaanya Mba Haya kok berbobot semua y beda jauh sama punyaku hahaha...pengen deh nyoba baca novel luar tentunya selain harpot aku belum pernah membaca lagi karya luar :)

    BalasHapus