Perjalanan Menuju Tsingy de Bemaraha

7 komentar
Yang namanya keinginan itu selalu ada dan ada.. Tercapai yang satu, muncul lagi yang lain. Tak puas-puas. Betul?. Macam-macam keinginan itu tentu tergantung minat dan kesenangan. Kalau ada yang tanya apa yang aku inginkan saat ini, jawabannya juga akan cukup panjang. Di antaranya ya... Melihat pertambangan batu permata di Ilakaka, berpose di depan gunung Isalo di Toleara,  melihat parade dolphin di Sainte Marie, leyeh-leyeh di Nosy be juga menjumpai komunitas muslim terbesar madagascar yang bermukim di Diego. Semuanya ada di wilayah Madagaskar. Tapi, rentangan tangan tak akan mampu meraih semuanya. Ada keterbatasan juga kewajiban lain yang harus ditunaikan. Waktu, tanggungjawab pekerjaan juga biaya. Jadilah, harus ada pilihan-pilihan logis… Pilihan logisnya seperti apa?. Tentu perjalanan yang berkesan namun tak menggerogoti kantongku ehhh kantong si abang deh. :D Tapi aku termasuk orang yang menganggap kalau kita punya keinginan, ada saja jalan untuk mewujudkannya. meski tak semua...Yang penting berani pasang target tinggi meski hasilnya tak akan setinggi target.

Contohnya adalah keinginanku untuk mengunjungi National Park Tsingy de Bemaraha di Region Melaky. Keinginan itu rasanya syuuussahhh diwujudkan. Bukan karena jauh, medannya berat atau  hitung-hitungan biaya yang akan kami keluarkan termasuk 'lumayan'... namun juga karena aku inginnya pergi bersama anak-anak. Banyak yang  meragukan perjalanan kami akan mudah dengan membawa Anas (9 tahun) dan Azzam 5 tahun). Tapi.. lebih baik mencoba daripada menyesal. Mencoba sampai aku tahu dimana batas 'kemungkinan' itu. Toh jika tak sanggup kami bisa berhenti.

Jadi, diputuskan kami berangkat dengan menyewa mobil 4WD dari Antananarivo. Aku ehh si abang memang jago kalau menyusun jadwal dan perkiraan dana. Mari bergerak!

Hari Pertama : Antananarivo - Morondava

Ini adalah kali kedua kami mengunjungi ibukota region Menabe. Perjalanannya masih seperti oktober lalu. Kami berangkat pukul 7 pagi, berhenti di jalan jam 12-an untuk makan siang dan sholat Dzuhur. Tak perlu mencari restoran atau warung, karena bekal telah aku siapkan subuh tadi. Kami makan di bawah pohon-pohon dekat sungai berair keruh di daerah ... ehhmmmm tak taulah namanya.


Supir kami namanya Hardy, orangnya asik dan baik banget. Pertanyaan yang sering ia ulang-ulang adalah 'Bagaimana, anda puas?. Yang juga kami jawab dengan jawaban yang sama. 'Yess!!'  meski tak bisa bercakap Inggris apalagi Indonesia ia seolah tak kehilangan topik untuk berbicara, kamipun sama tiba-tiba punya Kepercayaan diri tinggi untuk nyerocos Bahasa Perancis juga Malagasy. Biar deh ngomongnya kacau yang penting nyambung. :D 

Anas dan Azzam juga keihatan enjoy... dan santai!. 
Asiknya perjalanan darat adalah kami bisa bebas memandang indahnya alam Madagascar. Pegunungan batu yang diselimuti pohon atau rerumputan hijau, sungai-sungai berair jernih hingga keruh, desa-desa kecil dengan warga lokalnya juga langit biru-putih yang cerah.

Kami sampai di Morondava sekitar pukul 18.30. Langsung menuju penginapan Bungalows Morondava yang menghadap laut. Suasana gelap karena listrik padam. Tak apa, kan kami bawa lampu darurat yang sudah ter-cass full di rumah. Bersih-bersih badan, makan malam, sholat dannnn tidur... Udara terasa panas dan pengap karena dekat pantai.  Lampu menyala sekitar pukul 22.00 dan kipas angin di dinding kamar langsung berputar barengan dengan Ac. 

Hari Kedua : Morondava - Bekopaka

Paginya,
Main laut! Yeayyyyy..... 
Malamnya kami sudah janjian dengan Hardy akan berangkat ke Bekopaka pukul 7 teng. Jadi ketika langit masih gelap kami sudah bersiap.. tapi pingin juga untuk mandi dan main di pantai. Anas dan Azzam sudah bawa bola dan layang-layangan segala lagi... Sempat?. Sempat!. Selesai sholat subuh dan makan nasi berlauk sosis aku, Anas dan Azzam sudah di pantai.. Mata kami langsung dimanja dengan langit pucat bergradasi keunguan, debur ombak yang bikin kangen Aceh juga aktivitas nelayan.


Meski tak banyak waktu dan aku terus-terusan melihat jam di tangan Anas dan Azzam senang..


Karena senang, keduanya jadi susah untuk diajak udahan main lautnya.. Sampai jurus terakhir dimainkan. 'Nanti kita kemari lagi kok, sebelum balik ke Antananarivo'.
'Beneran ma?'
Iya, karena memang seperti itu jadwal kami.

--- Bersambung-----


7 komentar :

  1. aah..ternyata url blog berubah ya... dapat peringatan broken link soalnya

    kepengen berenang di laut lama2 ya..., suasana fajar bikin cerita berenang ini beda dari biasanya mungkin ya..., nggak kedinginan kah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Airnya malah terasa hangat ini bunda Monda, pagi-pagi masih segar belum terlalu panas. Iya url nya ganti

      Hapus
  2. Wah asik bgt roadtrip, deg2an tp excited ke tempat baru.

    BalasHapus
  3. anak2 gitu ya, kalo udah main anir susah berhentinya :D

    foto2 pemandangan di perjalanannya mana kak? yg pegunungan batu dll.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum sampai ke Gunung Batunya ini Mil, rencana pingin pos juga ntar

      Hapus
  4. Yah belum sampe Tsingy-nya yaaa...

    BalasHapus