RESENSI : SEMUSIM DAN SEMUSIM LAGI

2 komentar

Judul          : Semusim, dan Semusim lagi
Penulis       : Andina Dwifatma
Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2013

...ditulis dengan teknik penceritaan yang intens, serius, eksploratif, dan mencekam. -Dewan Juri Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012-
Kita memang dilarang menilai segala sesuatu dari penampilan luar, namun sinaps-sinaps otak cenderung melakukan itu -menilai apa saja dari yang awal sekali tampak-. Untuk buku, tentu kesan itu muncul dari  sampulnya.

Ngapain sih ikan mas koki itu duduk santai leyeh-leyeh di bangku taman? Aneh! Itu kalimat pertama di otak saya, ketika memegang novel Semusim, dan semusim lagi ini.

Di halaman-halaman awal yang alur penceritaannya masih terasa ringan, saya tak menemukan alasan pemilihan desain sampul serupa itu. Halaman-halaman awal berkisah tentang 'aku' ~yang bahkan sampai akhir cerita tak diberikan nama~ yang menerima dua amplop begitu ia tamat SMA. Saya menganalogikan dua amplop sebagai dua pilihan hidup. Amplop pertama berisi surat dan berkas-berkas kelengkapan tentang kuliah dari Universitas yang akan membuatnya menjadi pakar Sejarah, serupa dengan cita-cita 'aku'. Amplop kedua, tanpa nama pengirim, namun 'aku' tahu itu dari laki-laki yang mengaku sebagai ayahnya, yang mengajaknya untuk bertemu setelah 17 tahun terpisah, setelah meninggalkannya di usian 3 bulan. Tak dijelaskan alasan perpisahan dengan sang ayah juga tak ada memori yang tersimpan di kepalanya tentang sosok ayah. Maka ia menciptakan karakter ayah yang terasa menyenangkan dan keren. 

Keanehan pertama tampak dari sikap sang ibu. Bagaimana mungkin hubungan ibu-anak sangat kaku dan hambar?  Lalu emosi ibu yang tampak tidak stabil meski ia seorang dokter bedah otak. Namun kita diajak hanya peduli pada karakter 'aku' karena ialah yang berkisah disini, kehidupan si ibu tetap serupa teka-teki.

Halaman-halaman selanjutnya, saya pikir serupa kisah roman yang normal. Tokoh 'aku' menyukai seorang laki-laki yang muncul ketika ia kesepian. Normal.... manis... dengan pembicaraan tentang filsafat, seni, lukisan, lagu-lagu....
How many years must a mountain exist, before it is washed to the sea?
How many years can some people exist, before they are allowed to be free?
How many times can a man turn his head, and pretend that he just doesn't see?
How many times must a man look up, before he can see the sky?
How many years must one man have, before he can hear people cry?
How many deaths will it take till he knows, that too many people have died?
The answer, my friend, is blowin' in the wind
The answer is blowin' in the wind

Lalu halaman ke halaman selanjutnya mulai ditampakkan keanehan. Absurd! Si ikan mas koki muncul untuk pertama kalinya. Dan mulailah terlihat, alasan dijadikannya si ikan koki sebagai karakter di sampul depan. Ish...ishh..ishhh! Juga mulai masuk akallah komentar dewan juri di atas... intens, serius, eksploratif, dan mencekam.

Kisah ini berdasarkan penceritaan dari 'aku' dan pembaca dibawa untuk masuk ke dalam jiwanya 'aku'. Sehingga ada beberapa bagian yang membuat pembaca akan bingung. Karena memang tokoh 'aku' juga bingung... Hahahaha bingung ya? Baca sajalah biar tak penasaran. Kalau kamu suka novel-novel yang tidak umum, kamu akan suka novel ini.

Lalu saya sampai pada halaman-halaman akhir. Segala rasa atau kesan aneh di bagian awal dan tengah tergantikan dengan rasa haru, biru juga sedih. Merasa iba dan kasihan kepada sosok 'aku' dan ia memang pantas disayang... Endingnya pun begitu menggantung, karena ini tentang musim-musim yang ia lewati.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada hidupku selanjutnya, tapi anehnya aku merasa baik-baik saja. Ayah ada di sisiku kini. Aku merasa semusim paling berat dalam hidupku telah terlewati, dan aku siap untuk musim selanjutnya. Lalu mungkin semusim, dan semusim lagi...
Udah ya, begitu saja ulasannya, biar jangan terlalu spoiler.
Saya memberikan 4 bintang dari 5 bagi novel ini. Tentu nilai ini sangat subjektif dan kita bisa saja berbeda pendapat. Oya, saya memasukkan novel ini dalam kategori novel dewasa.

Happy reading, happy blogging, happy life!
Haya Nufus

2 komentar :

  1. Memang ada beberapa bagian membuat pembaca bingung dan tidak masuk akal. Odah beli krn pgn tau seperti apa kategori novel pemenang dewan kesenian, sebuah sayembara menulis novel bergengsi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena memang karakter tokohnya yang 'labil' Dah, jadi yg tidak masuk akal itu dimaklumi. Aton udah baca Lampuki juga, dibanding dengan ini lebih mengalir dan 'ringan' Semusim, dan semusim lagi ini

      Hapus