Kartu Pos Favorit (bagian II) Wajah Anak-Anak Dunia

20 komentar

Sudah lama sejak aku memposkan tulisan tentang Kartu Pos Favorit Bagian I. Baru sekarang teringat dan terpikir untuk melanjutkan lagi, menjadikan blog ini galeri bagi kartu pos-kartu pos milikku. Selain untuk rekreasi juga untuk berbagi cerita dari sebuah kartu pos kepada pembaca.

Di bagian II ini, aku ingin menampilkan kartu pos dengan tema 'Wajah Anak-Anak Dunia'. Ah, anak-anak memang ditakdirkan Tuhan untuk terlahir dengan polah dan sikap yang manis gemasin... dari belahan dunia manapun mereka berasal. Mereka itu murni dan apa adanya. 


Dutch Children's Dance



Kartu ini dikirim oleh teman postcrossing dari Belanda bernama Kelly yang senang bermain volli dan sering mengikuti turnamen volli di tempatnya, pada tanggal 8 Juli 2014. Sudah lama ya... 

Awal melihat kartu ini rasanya tuhhh senang banget. Fotonya natural dengan anak-anak berpakaian tradisional Belanda yang sedang menari berkelompok. Tengoklah ke kaki mereka! Mereka pakai klompen, sepatu khas Belanda zaman dulu lohhh ^^ Anak-anak itu terasa hidup di imajiku. Dengan celoteh riuh dan gerak bebas tarian mereka. Dan rasa-rasanya aku bisa mencium aroma keju meliuk-liuk di udara.

Tolong Tuhan, berikan aku izin untuk sekali saja sampai ke Belanda! AAMIIN

 

The Simplicity and Pureness of the Tibet children



Wajah-wajah anak Tibet ini terbingkai close-up di kartu. Bintik-bintik merah di muka jelas menampakkan betapa kulit mereka telah beradaptasi sedemikiannya terhadap udara pegunungan yang dingin di Tibet, Tiongkok. Baju berlapis-lapis yang tampak berat toh tak menghalangi mereka untuk lincah dan bersuka ria. Tampaknya mereka sedang menaikkan layang-layang.

Kartu ini dikirim oleh Wenting, postcrosser baikkkkk banget asal Cina. Kami beberapa kali bertukar pesan di kartu. Wenting menyukai anak-anak dan mendedikasikan hidupnya untuk mereka. Dia itu tipe wanita Cina modern yang keibuan, menurutku.

Oya, kartu ini dikirim tanggal 10 Juli 2014.

 

Innocent Kids of Kalash - Pakistan



Pakistan, negeri ini menjadi akrab ketika aku membaca memoar perjalanannya Agustinus Wibowo. Kartu ini dikirim dari Lahore oleh Irfan pada Juli 2014. Sesuai dengan judulnya, wajah anak-anak Kalash ini tampak innocent kan temans? Meski sedikit tampak belepotan namun kegantengan dan kecantikan anak-anak ini tak bisa tersamarkan. Semoga hidup mereka akan bahagia. Aamiin


The baby girl and her mom from Czech Republic



Olala! Lihat pipi si bayi yang gempil itu ! Juga pada kedua bola matanya yang bulat seakan sadar sebuah kamera sedang mengabadikannya. Bayi perempuan memang punya banyak asesoris untuk didandani ya.. dres dan penutup kepala berenda itu adalah sempurna! ^^

Kartu ini dikirim dari Praha, ibu kota Republik Ceko tanggal 25 April 2014. Menurut Peter yang mengirimkan, kartu ini telah berusia 26 tahun dan foto ini mengingatkannya akan masa kecilnya. Dulu, pakaian tradisional serupa wanita ini dipakai dalam keseharian wanita Ceko, namun kini hanya sebagai penarik turik pada masa-masa tertentu saja.

 

Girl and her Granny from Romania



Kartu pos hitam putih ini istimewa! Istimewa dalam arti 'jangan sampai hilang atau rusak'. 

Aku suka semua hal yang ditampakkan kartu ini : wajah nenek dan cucu perempuannya, pakaian yang mereka pakai, kain, penutup rambut, sepatu bahkan kaos kaki mereka. Rasa-rasanya semua tradisional dari benang yang dipintal sendiri ya?. Nenek ini serupa dengan nenek-nenek Eropa yang mungkin akan kita temui di desa-desa pertanian mereka. 

Baiklah, lima ini dulu ya temans. 

Oh iyaaaa.... Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan bagi yang menjalankan... Semoga amal ibadah kita berkah dan menjadikan kita pribadi yang lebih baik. Aamiin  

 

20 komentar :

Posting Komentar

Cara Mengirim Artikel Jalan-Jalan untuk Rubrik Oleh-Oleh Majalah Femina

18 komentar

Majalah Femina adalah satu dari majalah besar yang semakin eksis di Indonesia. Terbit seminggu sekali dengan ragam rubrik dan isu adalah bukti para pengasuhnya tak main-main. Mereka bergerak dinamis, profesional, selalu beradaptasi cepat dengan perkembangan masa ke masa. Karenanya kalau kita ingin artikel atau tulisan kita dimuat di Femina, kita juga harus menulis dengan apik dan serius.

Ada beberapa rubrik yang dibuka bagi penulis freelance : Fiksi (cerpen dan cerbung), gado-gado dan rubrik Oleh-oleh. Rubrik Oleh-Oleh berisi tentang kisah perjalanan, kunjungan wisata juga tempat-tempat menarik di suatu wilayah dalam negeri juga luar negeri.

13 Mei 2015 saya mencoba peruntungan saya dengan mengirimkan artikel jalan-jalan berjudul 'Perjalanan Menuju Hutan Batu Tsingy de Bemaraha, situs Unesco di Madagaskar'. Adalah sebuah keberuntungan yang manis email saya mendapat respon kilat, hanya jeda hitungan menit. Hal yang sangat jarang terjadi kan? Respon itu berupa konfirmasi kalau artikel saya akan mereka muat di femina, namun harus masuk daftar antrian untuk waktu yang belum ditentukan. Tak apa! Saya rela menunggu dengan berdebar... ^^


Desember, sang editor kembali menghubungi saya melalui email, mengatakan kalau artikel saya akan dimuat untuk edisi januari 2016.

Yang berkesan bagi saya adalah, proses editing terjadi secara dua arah antara editor dan saya sebagai penulisnya. Perbaikan kalimat yang tidak efektif, data-data yang kurang dan juga penambahan foto-foto yang dibutuhkan membuat kami bolak-balik berbalas email. Editor menandai bagian yang harus saya perbaiki dan saya juga bisa belajar membaca yang diinginkan oleh editor. Biaya perjalanan yang awalnya saya tulis secara umum, kembali harus saya telusuri lebih detil. Semua itu membuat artikel saya serupa didandani dan tampil lebih baik.



Dan semua usaha itu rasanya terbayar manis ketika seorang teman memperlihatkan foto penampakan artikel tersebut di Femina edisi Januari. Saat itu saya masih di Madagaskar sedang bersiap untuk pulang.

Kamu punya kisah perjalanan dan ingin mengirimkannya ke Femina? Berikut sarat teknisnya:

  • Ketik ceritamu dengan font Arial 12 spasi 1 sebanyak 4-5 halaman ukuran kertas letter.

  • Sertakan sekitar 15  foto, boleh dalam resolusi rendah, namun nanti akan diminta resolusi besar jika akan dimuat.

  • Kirimkan artikel dan foto dalam bentuk attachment ke email kontak@femina.co.id dengan memberi menyertai keterangan [Rubrik Feature] di judul email.

  • Di badan email tulis pengantar singkat  tentang diri kita, alamat, nomor identitas, karya-karya yang pernah kita hasilkan juga nomor rekening dengan sopan.

    Akan ada honor manis yang ditransfer tak lama setelah waktu pemuatan, jadi selamat mencoba ya ^^

    Haya Nufus

18 komentar :

Posting Komentar

Famadihana : Tradisi/Ritual Suci Menyampaikan Cinta Kepada Jenazah Leluhur Di Madagaskar.

6 komentar

Matahari bergerak ke arah barat, ketika beberapa jenazah mulai dikeluarkan dari makam. Satu, dua, tiga, terhitung belasan jenazah dengan bungkus kafan yang telah menguning, bahkan ada yang beberapa kainnya telah terurai kembali menjadi benang. Jenazah-jenazah itu digotong oleh anggota keluarga laki-laki dengan tangan yang sigap. Aroma jenazah yang bercampur rempah pengawet dan rupa wewangian menggelitik hidung. Tapi saya tak hendak mundur. Saya bergerak mendekat, berusaha untuk menjenguk ke arah pintu makam. Pintu batu itu tampak berat, tentu butuh beberapa orang untuk membukanya tadi. 

Makam Batu serupa ruang dengan rak-rak untuk meletakkan jenazah seluruh anggota keluarga.

Dari celah pintu yang memiliki tinggi tak sampai dua meter, saya bisa melihat sedikit ke bagian dalam makam. Makam itu berupa ruangan dengan rak-rak semen tersusun. Rak teratas diperuntukkan bagi jenazah lama yang telah mengering yang tak lagi menimbulkan bau dan rak bagian bawah bagi jenazah baru yang masih mengalami proses pembusukan. Seluruh jenazah keluarga dikumpulkan dalam satu makam, generasi ke generasi. Begitulah tradisi pemakaman Malagasy (sebutan bagi penduduk Madagaskar) dilakukan. 

Selfie dulu ^^

Tiga tahun sudah saya tinggal di Madagaskar. Sebuah negara pulau di Samudera Hindia, lepas pantai Afrika tenggara. Negara ini disebut juga sebagai Pulau Merah, karena tanahnya yang keras dan bewarna merah. Menariknya, beberapa peneliti sejarah menyebutkan bahwa leluhur Malagasy berasal dari nusantara, Indonesia. Para pelaut tangguh nusantara sekitar 350 SM telah melakukan pelayaran sengit dengan menggunakan perahu cadik hingga menyentuh tanah Madagaskar. Jauh sebelum suku Batu dari Afrika timur menyeberangi Selat Mozambik turut menjadi penghuni pulau ini. Pelaut dari Borneo ini dipercaya mendirikan pemukiman yang disebut-sebut menjadi cikal kerajaan terbesar di Madagaskar ; Kerajaan Merina.

Wajar jika kedua negara memiliki kemiripan tak hanya dari karakter fisik masyarakatnya namun juga pada beberapa kebudayaan atau tradisi yang ada. Salah satu tradisi yang memiliki kemiripan itu adalah famadihana, sebuah tradisi ganti kafan bagi Malagasy (sebutan rakyat Madagaskar) yang memiliki kemiripan dengan upacara Ma’nene di Tanatoraja Sulawesi Selatan. Mirip namun tak semua prosesnya sama.

Kesempatan untuk melihat langsung upacara famahadiana datang secara tak sengaja. Ketika itu saya berada di KBRI, saya mendengar pejabat KBRI mendapat undangan dari keluarga Jendral Ramarolahy Philibert, saya memberanikan diri untuk minta diizinkan ikut bersama rombongan. Tentu, saya diizinkan bergabung.

Hari Minggu pukul tujuh pagi kami bergerak menuju desa Ambohimiadana yang termasuk dalam region Analamanga. Kami harus melewati jalan berkelok-kelok melingkari perbukitan. Pemandangan bukit nan hijau, berseling perkebunan jagung dan sayur milik masyarakat setempat. Dari Antananarivo, ibu kota Madagaskar yang adalah tempat mukim kami dibutuhkan waktu tiga jam untuk sampai ke desa.

Kami dijamu di tranogasy, rumah tradisional milik ahli waris Jendral Ramarolahy Philibert yang terbuat dari papan dengan beranda kayu di lantai atasnya. Melepas lelah sebentar sambil berbicara santai kami disuguhkan mokary, penganan tradisional berbahan kelapa yang dibuat anggota keluarga wanita.

Lalu kami diajak ke tenda besar di lapangan desa. Disanalah semua sanak saudara dan para tamu berkumpul. Aroma makanan memenuhi udara, menyebar ke setiap penciuman tamu yang duduk di tenda berterpal biru. Di bagian belakang tenda grup musik hiragasy telah siap dengan alat musiknya, menghibur para tamu, di bagian depan tenda juga ada grup musik lainnya dengan gitar tradisional.

Kelompok Pemusik di area tenda tamu

Awalnya saya menyangka akan menyaksikan upacara sakral kematian yang dipenuhi dengan tangis duka dan rasa sedih sanak keluarga. Namun saya salah, wajah-wajah yang saya temui adalah wajah dengan kegembiraan. Bagi Malagasy, Famadihana adalah upacara kebanggaan, menyenangkan arwah para leluhur dengan membersihkan makam, mengganti kafan dan menyemprotkan wewangian. Malagasy percaya, arwah leluhur masih memegang kendali atas kehidupan mereka. Dan ritual ini diperuntukkan sebagai penghormatan dan menghibur para arwah yang dilakukan setiap dua tahun atau tujuh tahun, sesuai dengan kemampuan keluarga. Juga sebagai waktu pertemuan kembali sanak saudara yang hidup dan mati untuk melepas rindu.

Tradisi ini mengajak kita melihat kematian dengan pemahaman yang berbeda. Kematian bukanlah hal yang harus ditakuti. Malagasy percaya arwah leluhur tidak akan pergi ke alam lain sampai jasad mereka benar-benar terurai. Sementara waktu itu mereka masih bisa terhubung dengan kehidupan.

Kelompok Pemusik tradisional di lapangan dengan tenda tamu

Selesai makan kami bersama keluarga dan para tamu, berarak naik ke atas perbukitan tempat makam keluarga berada. Foto-foto berbingkai diarak oleh anak-anak, berfungsi untuk mengenali jenazah dengan foto semasa hidupnya. Bendera Madagaskar dibawa sepanjang jalan, berkibar-kibar ditiup angin sikut memeriahkan suasana. Rombongan ini sengaja menimbulkan keriuhan sepanjang jalan dengan sorak-sorai, memanggil orang-orang yang berpapasan dengan mereka untuk menggabungkan diri, berjalan serupa pawai di hari kemerdekaan.

Arakan menuju makam batu di atas bukit


Sampai di atas bukit, semuanya berhenti. Kami mengelilingi makam yang telah dibersihkan beberapa hari sebelumnya. Makam itu tampak jelas baru selesai dicat ulang dengan warna abu-abu dan putih. Semak-semak pun telah dibersihkan.

Meskipun famadihana bukanlah ajaran agama atau kenegaraan, namun daam prakteknya Malagasy memasukkan unsur nasional dan agama melalui lambang-lambang negara, lagu dan khutbah kristian.

Seorang pendeta naik ke atas makam batu bersama beberapa perwakilan anggota keluarga, menyampaikan khutbah tentang kematian juga ajakan berbuat kebaikan. Angin perbukitan bertiup namun panas matahari musim panas terasa menyengat di atas kepala. Selesai khutbah, lagu nasional Malagasy berjudul Ry Tanindrazanay malala ô! yang memiliki arti Oh, tanah tercinta dari leluhur kami! dinyanyikan bersama iringian musik para senimana. Lalu dilanjutkan dengan lagu-lagu rohani berisi puji-pujian kepada Tuhan. Para hadirin khitmat bernyanyi hingga lirik terakhir.

Dan sampailah pada puncak acara, pertemuan kembali dengan para leluhur. Beberapa lelaki masuk ke dalam makam batu, mengangkat jenazah yang jumlahnya belasan dari rak semen dengan tikar, lalu digotong keluar makam. Tikar-tikar tersebut lalu digelar kembali di atas rumput bersih untuk meletakkan para jenazah. Kain sutra baru dibentangkan untuk membalut mereka. Sembari anggota keluarga bekerja musik terus terdengar. Para seniman memainkan alat musik secara bergantian. 

Salin kafan

 

Peluh membanjir, udara pengap karena orang semakin ramai berkumpul ingin melihat aktivitas tersebut. Saya menyibak kerumunan perlahan, mencari tempat yang pas untuk menyaksikan dengan lebih jelas, hingga berhasil sampai di baris depan. Saya melihat jelas tiga jenazah dengan sigap diurusi secara bergantian. Kafan lama mereka tak dibuka namun langsung dibungkus lapis kain baru, mungkin khawatir kalau bagian jasad akan terserak. Lalu dua jenazah yang tampak telah mengecil dijadikan satu dalam balutan rapat sutera baru. Bagian kepala dan kaki diikat dengan tali. 

 
Anggota keluarga mengeluarkan jenazah dari makam batu

Matahari telah bergerak ke arah barat, jam tangan saya menunjukkan pukul tiga. Butuh waktu beberapa jam untuk merapikan semua jasad leluhur dan keluarga. Setelah seluruh jenazah rapi, mereka diarak keliling makam, diajak bersuka cita dengan kafan baru dan wewangian. Jenazah ini adalah orang-orang terkasih mereka. Telah bertahun-tahun terpisah alam namun Malagasy percaya para leluhur mereka tak pergi, tetap mengawasi dan melihat yang ahli waris lakukan. 

Anggota keluarga memeluk jenazah yang telah rapi dan bersih sambil menunggu jenazah-jenazah yang lain dirapikan.

Hari semakin senja ketika prosesi itu selesai. Jenazah-jenazah dimasukkan kembali ke dalam makam batu dengan kondisi bersih dan baru. Lalu pintu batu makam ditutup kembali secara rapat. Bagian luarnya ditimbun tanah dan rumput-rumput agar tersamar dari luar.

6 komentar :

Posting Komentar

Contoh Artikel Traveling/Jalan-Jalan untuk Rubrik Leisure Republika : Menjenguk Bunda Belantara Morondrava

7 komentar

(Dimuat di rubrik Leisure Republika edisi  November 2014, foto yang saya sertakan disini adalah foto yang berbeda dengan yang dimuat di Republika)




Setelah dua tahun menetap di Madagascar, sebuah negara di Afrika Timur yang merupakan pulau terbesar keempat di dunia setelah GreenLand, New Guinea dan Borneo, akhirnya Oktober ini kami berhasil melakukan perjalanan ke Morondava yang adalah ibukota Region Menabe. Tempat yang sudah lama membuat kami penasaran karena beberapa teman yang telah kesana bercerita antusias, sangat terkesan terutama dengan keberadaan Allée des baobabs yang tersohor dan menjadi kunjungan wajib para turis internasional. You don’t go to Madagascar if you don’t see the Baobabs!, seorang teman berkali-kali memprovokasiku.

Maka dengan menyewa sebuah mobil KIA Sportage kami sekeluarga berangkat pagi sekali pukul enam dari Antananarivo, ibu kota Madagascar tempat kami tinggal. Supir yang sekaligus menjadi pemandu kami adalah penduduk lokal yang telah beberapa kali membawa turis ke Morondrava. Kami berangkat setelah semua persiapan lengkap termasuk bekal makan siang, karena menurut teman tak mudah mencari warung makan dijalan. 


Setelah tigapuluh menit tersendat di jalanan macet kota, kami menjauhi batas wilayah ibukota melaju dengan kecepatan yang meningkat menuju arah barat pulau. Jalanan lengang dengan pemandangan perbukitan di kanan kiri dalam sekejab berhasil mengangkat kejenuhan hidup di kota. Saya, suami dan kedua putra kami menikmati pemandangan pergunungan batu yang berseling dengan padang rumput dan rumah-rumah tradisional penduduk. Beberapa kali mobil harus melintasi jembatan dengan sungai kering berpasir di bawahnya.Musim hujan belum lagi datang, rumput-rumput juga terlihat kuning kering meski pada beberapa bagian terlihat tunas hijau menyembul. Supir kami Monsieur Rinanda menghidupkan musik tradisional Madagascar yang rancak hingga atmosfir Afrika begitu terasa. 



Setelah sembilan jam perjalanan dengan melewati beberapa region kami sampai, tepat ketika langit hampir menggelap.Hal pertama yang harus kami lakukan adalah mencari penginapan.Berdasarkan rekomendasi teman kami memilih penginapan berupa bungalows papan sederhana yang berjejer seperti rumah-rumah papan dengan lokasi langsung menghadap pantai.Setiap bungalows terletak dengan jarak yang cukup sehingga memberi ruang privasi antara kami dengan tamu lainnya. Kamipun tak akan merasa sungkan jika berbasah-basah sehabis mandi dan bermain di pantai. Penginapan juga menyediakan bilik tidur untuk supir secara gratis dan tentu fasilitas restaurant dan wifi.




Subuh esoknya sebelum matahari bersinar kami telah menuju ke pantainya dengan hamparan luas pasir putih yang halus lembut menyentuh kulit kaki. Di langit yang berwarna pucat, bulan masih tampak purnama. Kami mendengar deburan ombak memecah pantai yang datang bergulung dari lautan. Air laut terasa hangat begitu juga udaranya cenderung lengket dan gerah bagi kami mungkin karena kami telah terbiasa dengan udara sejuk di dataran tinggi Antananarivo.Kapal-kapal nelayan tradisional juga beberapa wanita dan anak-anak menjaring ikan terlihat sibuk.Wajah-wajah para wanitanya ditaburi bedak dingin berwarna orange atau putih dengan bentuk bintik-bintik untuk melindungi dari terbakar matahari.Sedang anak-anaknya bertelanjang dada ikut membantu orangtua sambil bermain.

Allée des baobabs


Pukul empat sore setelah puas bermain di pantai yang menghadap selat Mozambique itu, juga setelah mengelilingi kotanya yang kecil,kami menuju Allée des baobabs yang hanya berjarak 15 menit dengan mobil. Mendekati lokasi kami bisa mengenali pohon-pohon yang terlihat lebih tingi di antara pohon lainnya sebagai Baobabs karena sebelumnya sudah sering melihat foto pohon-pohon spesies Adansonia Grandidieri tersebut di kartu pos, di majalah wisata atau di brosur traveling. 

Dan puncak kekagumanku begitu kami melewati pasar tradisional dan masuk ke arah hutan sekitar 500 meter ke dalam, apa yang kami lihat sangat luar biasa. Pohon-pohon raksasa berderet mengapit seruas jalan tanah.Para turis ragam etnis juga fotografer professional dari berbagai negara terlihat dengan kamera terkalung di leher atau tripod tegak di tanah sedang serius mengarahkan lensa ke deretan Baobabs atau sudut-sudut yang menarik hati, mengejar moment berharga dengan latar matahari yang terbenam di barat. Kami datang tepat waktu karena matahari yang akan terbenam menciptakan bayangan pohon-pohon berbentuk botol itu dengan siluet menakjubkan.

Avenue of Baobabs atau Allée des baobabs adalah tempat bagi sekelompok pohon raksasa spesies Adansonia grandidieri, yang adalah tumbuhan endemik Madagascar tegak berbaris mengapit jalan tanah.Ia berada di pusat usaha konservasi hutan yang sejak tahun 2007 telah dijadikan tempat cagar alam yang harus dilindungi dari kepunahan oleh Kementerian Lingkungan, Air dan Hutan Madagascar. Pohon-pohon yang dipercaya sebagai Renala atau mother of the forest ini telah berumur 800-an tahun dengan tinggi lebih dari 30 meter.Ada sekitar 25 hingga 30 pohon di sepanjang jalan ini dan 25 hingga 30 pohon lainnya tersebar di antara semak sekitar. Menurut mitologi Arab kuno Baobabs dulunya tak bernbentuk seperti sekarang, setan telah mencabut pohon tersebut lalu menanam kembali dengan membalikkan bagian akarnya menghadap langit, sehingga bentuknya yang unik menyerupai cakaran ke langit, sebagai bentuk protesnya kepada Tuhan.



Baobabs adalah warisan dari hutan tropis Madagascar yang dulunya begitu rimbun, awalnya Baobabs berada dalam belantara hutan.Bertahun-tahun silam seiring pertumbuhan penduduk dan pemukiman, hutan ditebangi untuk dijadikan lahan persawahan, ditanami padi sebagai bahan makanan pokok penduduk. Pohon-pohon lain ditebangi kecuali Baobabs karena kepercayaan penduduk setempat yang meyakini Baobabs adalah lambang keberuntungan dan kecukupan makanan bagi penduduk.Tentu ini hal yang baik untuk mencegah Baobabs dari kepunahan, pun begitu ada juga aksi-aksi illegal pada bagian hutan yang lebih dalam yang sangat mengkhawatirkan, beberapa Baobabs pun ditebangi dan kayunya masuk ke dalam pasar gelap internasional.

Sementara di padang rumputnya, beberapa kambing-kambing yang terlihat bersih sengaja dilepas menarik perhatian anak-anak.Pedati-pedati sapi yang dikusiri warga lokal, atau wanita-wanita menjunjung keranjang tampak berjalan santai di jalan. So Afrika!.Aku menarik nafas, ingin memuaskan mata juga mengagumi ciptaan Tuhan yang kaya.Meski didatangi banyak turis, disini tak dipungut uang masuk sepeserpun, dan pendapatan dari pengunjung tak mempengaruhi secara kentara kondisi sosial ekonomi warga setempat yang tetap hidup dalam kebersahajaan.Sektor pariwisata belum lagi digarap secara optimal oleh pemerintah.Sementara langit semakin menggelap dan kami harus meninggalkan Baobabs, meski aku akan kembali kesini pagi hari esoknya untuk menikmati matahari terbit, karena tak tahu kapan ada kesempatan lagi. Ini bisa jadi adalah pengalaman seumur hidup bagi aku dan keluarga.

 
Kampung Nelayan Betany Nosikely.

Sisa esok harinya, kami tertarik untuk menggunakan perahu kecil yang disebut piroque untuk melihat hutan bakau juga menuju pulau kecil mengunjungi perkampungan nelayan Nosikely yang hanya bisa dicapai dengan sampan kayu piroque yang dikayuh oleh dua orang. Sampan bergerak melewati hutan bakau, beberapa anak-anak pencari kepiting dan ikan basah berada di dalam air dengan wajah lugu.Kami juga berpapasan dengan beberapa sampan kecil yang menjadi transportasi penduduk pulau nelayan kembali atau keluar dari perkampungan mereka. Dan ketika sampan merapat ke tepi, kami turun berjalan ke arah kampung dengan rumah-rumah kayu sangat sederhana berderetan tak rapi, wanita-wanita memakai lamba sejenis kain tradisional yang dililitkan ke badan dengan bedak dingin di wajah untuk menghindari sinar matahari yang membakar duduk menjahit jarring, laki-lakinya memperbaiki kapal dan anak-anak bertelanjang badan dan kaki yang sedang bermain bersorak minta difoto begitu kami mendekat.Anak-anak laut yang menikmati hidup sederhana tanpa ambisi.




Kami ditawari ikan tongkol segardengan harga yang murah, jauh dengan harga di Antananarivo, kebetulan sekali bisa dibakar untuk makan malam nanti. Setelah hampir dua jam kami lalu kembali ke penginapan untuk bersiap kembali ke Antananarivo esok harinya. Tiga hari yang mengesankan bagi saya, suami juga kedua putra kami Anas dan Azzam.

Naik apa habis berapa.

Untuk menuju Morondava dari Antananarivo ada beberapa pilihan jika tak memiliki banyak waktu melalui jalur darat, maskapai penerbangan nasional Air Madagascar bisa menjadi pilihan. Penerbangan hanya butuh waktu satu jam dengan harga tiket kisaran 350.000 hingga 450.000 Ariary untuk pesawat satu kali jalan, atau setara dengan 132 dollar hingga 170 dollar. Termasuk mahal sebenarnya untuk penerbangan domestik.

Jika menyewa mobil seperti yang kami lakukan kami hanya membayar 120.000 ari-ary perhari setara dengan 50 dollar, jauh lebih murah namun bahan bakar ditanggung oleh penyewa. Yang paling murah namun tak terlalu aman adalah angkutan lokal berupa taxi bruss atau bus antar provinsi dengan harga 10.000 Ariary.Jalanan yang dilalui telah teraspal namun pada beberapa titk berbelok-belok mengitar perbukitan.

Harga penginapan juga sangat beragam dari yang kisaran 30.000 ariary (12 dollar) hingga 500.000 ariary (188 dollar) permalamnya, tergantung kondisi penginapan dan fasilitas yang ditawarkan. Penginapan yang kami ambil termasuk dalam kategori sedang, dengan dua bilik yang disekat papan, satu tempat tidur double, dua tempat tidur single anak, kamar mandi dan teras di bagian depan dan belakang bungalows seharga 65.000 ariary permalam. Harga makanan juga beragam, café-café yang lebih jauh dari pantai lebih murah disbanding café atau restaurant yang langsung menghadap ke laut. Restauran halal juga ada di pusat kota berdekatan dengan satu-satunya mesjid yang ada di Morondava.

Tips selama berada di Morondava


  • Selalu sediakan uang kecil untuk keperluan parkir, berbelanja souvenir juga memakai jasa toilet. Karena seringkali mereka susah memberikan kembalian, dengan alasan tak ada uang kecil.
  • Jika meninggalkan penginapan, selalu kunci dan amankan barang-barang berhargakarena pihak penginapan tak akan menjamin kehilangan barang apapun. Beberapa penginapan membolehkan kita menitipkan barang ke resepsionis.
  • Selalu bawa tisu toilet atau tisu basah karena toilet umum biasanya kotor dan tak ada air.
  • Jika ingin mengambil foto warga lokal sebaiknya minta izin terlebih dahulu karena kebanyakan mereka tak akan suka juga demi menjaga sopan-santun.
  • Karena udara pantai yang gerah sebaiknya menyiapkan pakaian yang nyaman yang menyerap keringat dan menghindari pakaian tebal.
  • Selalu pasang kelambu yang disediakan penginapan karena memang nyamuk sangat banyak.
  
Kalau kamu ingin mencoba mengirimkan kisah perjalananmu ke Republik klik Cara dan Ketentuan Mengirimkan Tulisan Jalan-Jalan ke Republika

Happy Blogging!
Haya Nufus 


7 komentar :

Posting Komentar