Contoh Artikel Traveling/Jalan-Jalan untuk Rubrik Leisure Republika : Menjenguk Bunda Belantara Morondrava

6 komentar

(Dimuat di rubrik Leisure Republika edisi  November 2014, foto yang saya sertakan disini adalah foto yang berbeda dengan yang dimuat di Republika)




Setelah dua tahun menetap di Madagascar, sebuah negara di Afrika Timur yang merupakan pulau terbesar keempat di dunia setelah GreenLand, New Guinea dan Borneo, akhirnya Oktober ini kami berhasil melakukan perjalanan ke Morondava yang adalah ibukota Region Menabe. Tempat yang sudah lama membuat kami penasaran karena beberapa teman yang telah kesana bercerita antusias, sangat terkesan terutama dengan keberadaan Allée des baobabs yang tersohor dan menjadi kunjungan wajib para turis internasional. You don’t go to Madagascar if you don’t see the Baobabs!, seorang teman berkali-kali memprovokasiku.

Maka dengan menyewa sebuah mobil KIA Sportage kami sekeluarga berangkat pagi sekali pukul enam dari Antananarivo, ibu kota Madagascar tempat kami tinggal. Supir yang sekaligus menjadi pemandu kami adalah penduduk lokal yang telah beberapa kali membawa turis ke Morondrava. Kami berangkat setelah semua persiapan lengkap termasuk bekal makan siang, karena menurut teman tak mudah mencari warung makan dijalan. 


Setelah tigapuluh menit tersendat di jalanan macet kota, kami menjauhi batas wilayah ibukota melaju dengan kecepatan yang meningkat menuju arah barat pulau. Jalanan lengang dengan pemandangan perbukitan di kanan kiri dalam sekejab berhasil mengangkat kejenuhan hidup di kota. Saya, suami dan kedua putra kami menikmati pemandangan pergunungan batu yang berseling dengan padang rumput dan rumah-rumah tradisional penduduk. Beberapa kali mobil harus melintasi jembatan dengan sungai kering berpasir di bawahnya.Musim hujan belum lagi datang, rumput-rumput juga terlihat kuning kering meski pada beberapa bagian terlihat tunas hijau menyembul. Supir kami Monsieur Rinanda menghidupkan musik tradisional Madagascar yang rancak hingga atmosfir Afrika begitu terasa. 



Setelah sembilan jam perjalanan dengan melewati beberapa region kami sampai, tepat ketika langit hampir menggelap.Hal pertama yang harus kami lakukan adalah mencari penginapan.Berdasarkan rekomendasi teman kami memilih penginapan berupa bungalows papan sederhana yang berjejer seperti rumah-rumah papan dengan lokasi langsung menghadap pantai.Setiap bungalows terletak dengan jarak yang cukup sehingga memberi ruang privasi antara kami dengan tamu lainnya. Kamipun tak akan merasa sungkan jika berbasah-basah sehabis mandi dan bermain di pantai. Penginapan juga menyediakan bilik tidur untuk supir secara gratis dan tentu fasilitas restaurant dan wifi.




Subuh esoknya sebelum matahari bersinar kami telah menuju ke pantainya dengan hamparan luas pasir putih yang halus lembut menyentuh kulit kaki. Di langit yang berwarna pucat, bulan masih tampak purnama. Kami mendengar deburan ombak memecah pantai yang datang bergulung dari lautan. Air laut terasa hangat begitu juga udaranya cenderung lengket dan gerah bagi kami mungkin karena kami telah terbiasa dengan udara sejuk di dataran tinggi Antananarivo.Kapal-kapal nelayan tradisional juga beberapa wanita dan anak-anak menjaring ikan terlihat sibuk.Wajah-wajah para wanitanya ditaburi bedak dingin berwarna orange atau putih dengan bentuk bintik-bintik untuk melindungi dari terbakar matahari.Sedang anak-anaknya bertelanjang dada ikut membantu orangtua sambil bermain.

Allée des baobabs


Pukul empat sore setelah puas bermain di pantai yang menghadap selat Mozambique itu, juga setelah mengelilingi kotanya yang kecil,kami menuju Allée des baobabs yang hanya berjarak 15 menit dengan mobil. Mendekati lokasi kami bisa mengenali pohon-pohon yang terlihat lebih tingi di antara pohon lainnya sebagai Baobabs karena sebelumnya sudah sering melihat foto pohon-pohon spesies Adansonia Grandidieri tersebut di kartu pos, di majalah wisata atau di brosur traveling. 

Dan puncak kekagumanku begitu kami melewati pasar tradisional dan masuk ke arah hutan sekitar 500 meter ke dalam, apa yang kami lihat sangat luar biasa. Pohon-pohon raksasa berderet mengapit seruas jalan tanah.Para turis ragam etnis juga fotografer professional dari berbagai negara terlihat dengan kamera terkalung di leher atau tripod tegak di tanah sedang serius mengarahkan lensa ke deretan Baobabs atau sudut-sudut yang menarik hati, mengejar moment berharga dengan latar matahari yang terbenam di barat. Kami datang tepat waktu karena matahari yang akan terbenam menciptakan bayangan pohon-pohon berbentuk botol itu dengan siluet menakjubkan.

Avenue of Baobabs atau Allée des baobabs adalah tempat bagi sekelompok pohon raksasa spesies Adansonia grandidieri, yang adalah tumbuhan endemik Madagascar tegak berbaris mengapit jalan tanah.Ia berada di pusat usaha konservasi hutan yang sejak tahun 2007 telah dijadikan tempat cagar alam yang harus dilindungi dari kepunahan oleh Kementerian Lingkungan, Air dan Hutan Madagascar. Pohon-pohon yang dipercaya sebagai Renala atau mother of the forest ini telah berumur 800-an tahun dengan tinggi lebih dari 30 meter.Ada sekitar 25 hingga 30 pohon di sepanjang jalan ini dan 25 hingga 30 pohon lainnya tersebar di antara semak sekitar. Menurut mitologi Arab kuno Baobabs dulunya tak bernbentuk seperti sekarang, setan telah mencabut pohon tersebut lalu menanam kembali dengan membalikkan bagian akarnya menghadap langit, sehingga bentuknya yang unik menyerupai cakaran ke langit, sebagai bentuk protesnya kepada Tuhan.



Baobabs adalah warisan dari hutan tropis Madagascar yang dulunya begitu rimbun, awalnya Baobabs berada dalam belantara hutan.Bertahun-tahun silam seiring pertumbuhan penduduk dan pemukiman, hutan ditebangi untuk dijadikan lahan persawahan, ditanami padi sebagai bahan makanan pokok penduduk. Pohon-pohon lain ditebangi kecuali Baobabs karena kepercayaan penduduk setempat yang meyakini Baobabs adalah lambang keberuntungan dan kecukupan makanan bagi penduduk.Tentu ini hal yang baik untuk mencegah Baobabs dari kepunahan, pun begitu ada juga aksi-aksi illegal pada bagian hutan yang lebih dalam yang sangat mengkhawatirkan, beberapa Baobabs pun ditebangi dan kayunya masuk ke dalam pasar gelap internasional.

Sementara di padang rumputnya, beberapa kambing-kambing yang terlihat bersih sengaja dilepas menarik perhatian anak-anak.Pedati-pedati sapi yang dikusiri warga lokal, atau wanita-wanita menjunjung keranjang tampak berjalan santai di jalan. So Afrika!.Aku menarik nafas, ingin memuaskan mata juga mengagumi ciptaan Tuhan yang kaya.Meski didatangi banyak turis, disini tak dipungut uang masuk sepeserpun, dan pendapatan dari pengunjung tak mempengaruhi secara kentara kondisi sosial ekonomi warga setempat yang tetap hidup dalam kebersahajaan.Sektor pariwisata belum lagi digarap secara optimal oleh pemerintah.Sementara langit semakin menggelap dan kami harus meninggalkan Baobabs, meski aku akan kembali kesini pagi hari esoknya untuk menikmati matahari terbit, karena tak tahu kapan ada kesempatan lagi. Ini bisa jadi adalah pengalaman seumur hidup bagi aku dan keluarga.

 
Kampung Nelayan Betany Nosikely.

Sisa esok harinya, kami tertarik untuk menggunakan perahu kecil yang disebut piroque untuk melihat hutan bakau juga menuju pulau kecil mengunjungi perkampungan nelayan Nosikely yang hanya bisa dicapai dengan sampan kayu piroque yang dikayuh oleh dua orang. Sampan bergerak melewati hutan bakau, beberapa anak-anak pencari kepiting dan ikan basah berada di dalam air dengan wajah lugu.Kami juga berpapasan dengan beberapa sampan kecil yang menjadi transportasi penduduk pulau nelayan kembali atau keluar dari perkampungan mereka. Dan ketika sampan merapat ke tepi, kami turun berjalan ke arah kampung dengan rumah-rumah kayu sangat sederhana berderetan tak rapi, wanita-wanita memakai lamba sejenis kain tradisional yang dililitkan ke badan dengan bedak dingin di wajah untuk menghindari sinar matahari yang membakar duduk menjahit jarring, laki-lakinya memperbaiki kapal dan anak-anak bertelanjang badan dan kaki yang sedang bermain bersorak minta difoto begitu kami mendekat.Anak-anak laut yang menikmati hidup sederhana tanpa ambisi.




Kami ditawari ikan tongkol segardengan harga yang murah, jauh dengan harga di Antananarivo, kebetulan sekali bisa dibakar untuk makan malam nanti. Setelah hampir dua jam kami lalu kembali ke penginapan untuk bersiap kembali ke Antananarivo esok harinya. Tiga hari yang mengesankan bagi saya, suami juga kedua putra kami Anas dan Azzam.

Naik apa habis berapa.

Untuk menuju Morondava dari Antananarivo ada beberapa pilihan jika tak memiliki banyak waktu melalui jalur darat, maskapai penerbangan nasional Air Madagascar bisa menjadi pilihan. Penerbangan hanya butuh waktu satu jam dengan harga tiket kisaran 350.000 hingga 450.000 Ariary untuk pesawat satu kali jalan, atau setara dengan 132 dollar hingga 170 dollar. Termasuk mahal sebenarnya untuk penerbangan domestik.

Jika menyewa mobil seperti yang kami lakukan kami hanya membayar 120.000 ari-ary perhari setara dengan 50 dollar, jauh lebih murah namun bahan bakar ditanggung oleh penyewa. Yang paling murah namun tak terlalu aman adalah angkutan lokal berupa taxi bruss atau bus antar provinsi dengan harga 10.000 Ariary.Jalanan yang dilalui telah teraspal namun pada beberapa titk berbelok-belok mengitar perbukitan.

Harga penginapan juga sangat beragam dari yang kisaran 30.000 ariary (12 dollar) hingga 500.000 ariary (188 dollar) permalamnya, tergantung kondisi penginapan dan fasilitas yang ditawarkan. Penginapan yang kami ambil termasuk dalam kategori sedang, dengan dua bilik yang disekat papan, satu tempat tidur double, dua tempat tidur single anak, kamar mandi dan teras di bagian depan dan belakang bungalows seharga 65.000 ariary permalam. Harga makanan juga beragam, café-café yang lebih jauh dari pantai lebih murah disbanding café atau restaurant yang langsung menghadap ke laut. Restauran halal juga ada di pusat kota berdekatan dengan satu-satunya mesjid yang ada di Morondava.

Tips selama berada di Morondava


  • Selalu sediakan uang kecil untuk keperluan parkir, berbelanja souvenir juga memakai jasa toilet. Karena seringkali mereka susah memberikan kembalian, dengan alasan tak ada uang kecil.
  • Jika meninggalkan penginapan, selalu kunci dan amankan barang-barang berhargakarena pihak penginapan tak akan menjamin kehilangan barang apapun. Beberapa penginapan membolehkan kita menitipkan barang ke resepsionis.
  • Selalu bawa tisu toilet atau tisu basah karena toilet umum biasanya kotor dan tak ada air.
  • Jika ingin mengambil foto warga lokal sebaiknya minta izin terlebih dahulu karena kebanyakan mereka tak akan suka juga demi menjaga sopan-santun.
  • Karena udara pantai yang gerah sebaiknya menyiapkan pakaian yang nyaman yang menyerap keringat dan menghindari pakaian tebal.
  • Selalu pasang kelambu yang disediakan penginapan karena memang nyamuk sangat banyak.
  
Kalau kamu ingin mencoba mengirimkan kisah perjalananmu ke Republik klik Cara dan Ketentuan Mengirimkan Tulisan Jalan-Jalan ke Republika

Happy Blogging!
Haya Nufus 


6 komentar :

  1. Hai Mbak Haya apa kabar? Lama ndak main kesini :)

    9 jam perjalanan itu lama sekali lho Mbak. Tapi terbayar dengan keindahannya ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Mbak Tarry, alhamdulillah kabar baik. Ssemoga mbak Tarry juga sehat ya. Iya ya kita udah lama nggak saling sapa. Terima kasih mbak ^^

      Hapus
  2. Wow, membaca tulisan Haya ini bikin saya seolah ikut berada di sana lho. Dan jadi makin mupeng untuk menjelajah Afrika. Pengen juga main ke Madagascar, kapan yaaa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kak Al... Ke Afrikanya Insya Allah kak.. sambil nunggu waktunya mending kita jalan-jalan ke Margonda dulu yukkk ^^

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. wah,saya juga jadi kepengen nih jalan jalan ke afrika mau lihat baobabs. apalagi katanya disana juga ada seperti safari di Indonesia.
    ada info pariwisata juga nihm jangan lupa di visit ya http://pariwisata.gunadarma.ac.id/

    BalasHapus