Famadihana : Tradisi/Ritual Suci Menyampaikan Cinta Kepada Jenazah Leluhur Di Madagaskar.

5 komentar

Matahari bergerak ke arah barat, ketika beberapa jenazah mulai dikeluarkan dari makam. Satu, dua, tiga, terhitung belasan jenazah dengan bungkus kafan yang telah menguning, bahkan ada yang beberapa kainnya telah terurai kembali menjadi benang. Jenazah-jenazah itu digotong oleh anggota keluarga laki-laki dengan tangan yang sigap. Aroma jenazah yang bercampur rempah pengawet dan rupa wewangian menggelitik hidung. Tapi saya tak hendak mundur. Saya bergerak mendekat, berusaha untuk menjenguk ke arah pintu makam. Pintu batu itu tampak berat, tentu butuh beberapa orang untuk membukanya tadi. 

Makam Batu serupa ruang dengan rak-rak untuk meletakkan jenazah seluruh anggota keluarga.

Dari celah pintu yang memiliki tinggi tak sampai dua meter, saya bisa melihat sedikit ke bagian dalam makam. Makam itu berupa ruangan dengan rak-rak semen tersusun. Rak teratas diperuntukkan bagi jenazah lama yang telah mengering yang tak lagi menimbulkan bau dan rak bagian bawah bagi jenazah baru yang masih mengalami proses pembusukan. Seluruh jenazah keluarga dikumpulkan dalam satu makam, generasi ke generasi. Begitulah tradisi pemakaman Malagasy (sebutan bagi penduduk Madagaskar) dilakukan. 

Selfie dulu ^^

Tiga tahun sudah saya tinggal di Madagaskar. Sebuah negara pulau di Samudera Hindia, lepas pantai Afrika tenggara. Negara ini disebut juga sebagai Pulau Merah, karena tanahnya yang keras dan bewarna merah. Menariknya, beberapa peneliti sejarah menyebutkan bahwa leluhur Malagasy berasal dari nusantara, Indonesia. Para pelaut tangguh nusantara sekitar 350 SM telah melakukan pelayaran sengit dengan menggunakan perahu cadik hingga menyentuh tanah Madagaskar. Jauh sebelum suku Batu dari Afrika timur menyeberangi Selat Mozambik turut menjadi penghuni pulau ini. Pelaut dari Borneo ini dipercaya mendirikan pemukiman yang disebut-sebut menjadi cikal kerajaan terbesar di Madagaskar ; Kerajaan Merina.

Wajar jika kedua negara memiliki kemiripan tak hanya dari karakter fisik masyarakatnya namun juga pada beberapa kebudayaan atau tradisi yang ada. Salah satu tradisi yang memiliki kemiripan itu adalah famadihana, sebuah tradisi ganti kafan bagi Malagasy (sebutan rakyat Madagaskar) yang memiliki kemiripan dengan upacara Ma’nene di Tanatoraja Sulawesi Selatan. Mirip namun tak semua prosesnya sama.

Kesempatan untuk melihat langsung upacara famahadiana datang secara tak sengaja. Ketika itu saya berada di KBRI, saya mendengar pejabat KBRI mendapat undangan dari keluarga Jendral Ramarolahy Philibert, saya memberanikan diri untuk minta diizinkan ikut bersama rombongan. Tentu, saya diizinkan bergabung.

Hari Minggu pukul tujuh pagi kami bergerak menuju desa Ambohimiadana yang termasuk dalam region Analamanga. Kami harus melewati jalan berkelok-kelok melingkari perbukitan. Pemandangan bukit nan hijau, berseling perkebunan jagung dan sayur milik masyarakat setempat. Dari Antananarivo, ibu kota Madagaskar yang adalah tempat mukim kami dibutuhkan waktu tiga jam untuk sampai ke desa.

Kami dijamu di tranogasy, rumah tradisional milik ahli waris Jendral Ramarolahy Philibert yang terbuat dari papan dengan beranda kayu di lantai atasnya. Melepas lelah sebentar sambil berbicara santai kami disuguhkan mokary, penganan tradisional berbahan kelapa yang dibuat anggota keluarga wanita.

Lalu kami diajak ke tenda besar di lapangan desa. Disanalah semua sanak saudara dan para tamu berkumpul. Aroma makanan memenuhi udara, menyebar ke setiap penciuman tamu yang duduk di tenda berterpal biru. Di bagian belakang tenda grup musik hiragasy telah siap dengan alat musiknya, menghibur para tamu, di bagian depan tenda juga ada grup musik lainnya dengan gitar tradisional.

Kelompok Pemusik di area tenda tamu

Awalnya saya menyangka akan menyaksikan upacara sakral kematian yang dipenuhi dengan tangis duka dan rasa sedih sanak keluarga. Namun saya salah, wajah-wajah yang saya temui adalah wajah dengan kegembiraan. Bagi Malagasy, Famadihana adalah upacara kebanggaan, menyenangkan arwah para leluhur dengan membersihkan makam, mengganti kafan dan menyemprotkan wewangian. Malagasy percaya, arwah leluhur masih memegang kendali atas kehidupan mereka. Dan ritual ini diperuntukkan sebagai penghormatan dan menghibur para arwah yang dilakukan setiap dua tahun atau tujuh tahun, sesuai dengan kemampuan keluarga. Juga sebagai waktu pertemuan kembali sanak saudara yang hidup dan mati untuk melepas rindu.

Tradisi ini mengajak kita melihat kematian dengan pemahaman yang berbeda. Kematian bukanlah hal yang harus ditakuti. Malagasy percaya arwah leluhur tidak akan pergi ke alam lain sampai jasad mereka benar-benar terurai. Sementara waktu itu mereka masih bisa terhubung dengan kehidupan.

Kelompok Pemusik tradisional di lapangan dengan tenda tamu

Selesai makan kami bersama keluarga dan para tamu, berarak naik ke atas perbukitan tempat makam keluarga berada. Foto-foto berbingkai diarak oleh anak-anak, berfungsi untuk mengenali jenazah dengan foto semasa hidupnya. Bendera Madagaskar dibawa sepanjang jalan, berkibar-kibar ditiup angin sikut memeriahkan suasana. Rombongan ini sengaja menimbulkan keriuhan sepanjang jalan dengan sorak-sorai, memanggil orang-orang yang berpapasan dengan mereka untuk menggabungkan diri, berjalan serupa pawai di hari kemerdekaan.

Arakan menuju makam batu di atas bukit


Sampai di atas bukit, semuanya berhenti. Kami mengelilingi makam yang telah dibersihkan beberapa hari sebelumnya. Makam itu tampak jelas baru selesai dicat ulang dengan warna abu-abu dan putih. Semak-semak pun telah dibersihkan.

Meskipun famadihana bukanlah ajaran agama atau kenegaraan, namun daam prakteknya Malagasy memasukkan unsur nasional dan agama melalui lambang-lambang negara, lagu dan khutbah kristian.

Seorang pendeta naik ke atas makam batu bersama beberapa perwakilan anggota keluarga, menyampaikan khutbah tentang kematian juga ajakan berbuat kebaikan. Angin perbukitan bertiup namun panas matahari musim panas terasa menyengat di atas kepala. Selesai khutbah, lagu nasional Malagasy berjudul Ry Tanindrazanay malala รด! yang memiliki arti Oh, tanah tercinta dari leluhur kami! dinyanyikan bersama iringian musik para senimana. Lalu dilanjutkan dengan lagu-lagu rohani berisi puji-pujian kepada Tuhan. Para hadirin khitmat bernyanyi hingga lirik terakhir.

Dan sampailah pada puncak acara, pertemuan kembali dengan para leluhur. Beberapa lelaki masuk ke dalam makam batu, mengangkat jenazah yang jumlahnya belasan dari rak semen dengan tikar, lalu digotong keluar makam. Tikar-tikar tersebut lalu digelar kembali di atas rumput bersih untuk meletakkan para jenazah. Kain sutra baru dibentangkan untuk membalut mereka. Sembari anggota keluarga bekerja musik terus terdengar. Para seniman memainkan alat musik secara bergantian. 

Salin kafan

 

Peluh membanjir, udara pengap karena orang semakin ramai berkumpul ingin melihat aktivitas tersebut. Saya menyibak kerumunan perlahan, mencari tempat yang pas untuk menyaksikan dengan lebih jelas, hingga berhasil sampai di baris depan. Saya melihat jelas tiga jenazah dengan sigap diurusi secara bergantian. Kafan lama mereka tak dibuka namun langsung dibungkus lapis kain baru, mungkin khawatir kalau bagian jasad akan terserak. Lalu dua jenazah yang tampak telah mengecil dijadikan satu dalam balutan rapat sutera baru. Bagian kepala dan kaki diikat dengan tali. 

 
Anggota keluarga mengeluarkan jenazah dari makam batu

Matahari telah bergerak ke arah barat, jam tangan saya menunjukkan pukul tiga. Butuh waktu beberapa jam untuk merapikan semua jasad leluhur dan keluarga. Setelah seluruh jenazah rapi, mereka diarak keliling makam, diajak bersuka cita dengan kafan baru dan wewangian. Jenazah ini adalah orang-orang terkasih mereka. Telah bertahun-tahun terpisah alam namun Malagasy percaya para leluhur mereka tak pergi, tetap mengawasi dan melihat yang ahli waris lakukan. 

Anggota keluarga memeluk jenazah yang telah rapi dan bersih sambil menunggu jenazah-jenazah yang lain dirapikan.

Hari semakin senja ketika prosesi itu selesai. Jenazah-jenazah dimasukkan kembali ke dalam makam batu dengan kondisi bersih dan baru. Lalu pintu batu makam ditutup kembali secara rapat. Bagian luarnya ditimbun tanah dan rumput-rumput agar tersamar dari luar.

5 komentar :

  1. ohh..ini maksudnya jenazah dikeluarkan sejenak dan diletakkan lagi di tempat yang sama ya...?
    di salah satu etnis suku Batak ada juga acara mengeluarkan tulang belulang ini, namanya mangokal holi, dari kuburan dipindahkan ke tugu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bunda disalin kafan baru, dikasih wewangian dan diarak keliling bukit bersama keluarga semacam acara lepas kangen dengan mereka yg sudah meninggal begitu. Oh saya malah baru tahu tentang Mangokal holi. Semoga suatu saat nanti bisa lihat.

      Hapus
  2. ih...ih... ngerinya kalau lihat mayat dipeluk-peluk gitu -__-" pas awal baca lia kira kain kafan lama dibuka dan diganti baru, ternyata langsung dilapisin. Syukur deh. oia, liat foto-fotonya serasa di Indonesia :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Upacara yang aku lat dilapisin ada juga yang diganti.. Tapi ini kalau diganti kayaknya lebih susah. Mereka berasa ketemu orang tua dan saudara jadi nggak ngeri sih ^^

      Hapus