Contoh Surat Mohon Konfirmasi atau Penarikan Cerpen dari Koran atau Majalah

13 komentar

Setelah mengirimkan cerpen atau cerita pendek kita ke koran/majalah dengan menggunakan Surat Pengantar, menunggu balasan dari editor adalah sebuah keniscayaan. Beberapa editor akan membalas surat kita dengan cepat namun tak jarang beberapa lainnya membutuhkan waktu yang lama atau bahkan email kita tidak berbalas sama sekali. 

Apa yang bisa kita lakukan kemudian? Menunggu memang mendebarkan. Menunggu membuat kita ragu dan berasumsi : apakah email kita sudah terkirim atau tersangkut karena kesalahan koneksi internet? apakah editor sudah membacanya atau malah terselip dan tertimbun di antara banyaknya email yang masuk ke inbox editor? Kemungkinan itu bisa terjadi. 

Lalu bagaimana? 

Kalau saya, saya akan memberi tenggat waktu sesuai firasat saya. (Aishhh main firasat!) Kalau saya, batas enam bulan adalah waktu yang pas untuk mengirimkan surat Permohonan Konfirmasi (ada yang menganggap 3 bulan lebih tepat). 

Enam bulan bukan waktu yang pendek, jadi menunggulah dengan aktif dan tetap menulis.  Beri target berapa cerpen yang akan kita tulis untuk koran atau majalah yang sama. Meski mungkin cerpen kita belum layak muat, mereka akan 'sadar' ada seseorang bernama 'kita' yang tak bosan mengirimkan cerpen dan 'untung-untungan'nya lagi, suatu saat editor akan 'bosan' atau 'simpati' dan tergerak membalas email kita dengan memberikan beberapa tips atau kriteria standar cerpen di koran/majalah mereka. Ribet nggak sih bahasanya? 

Intinya kalau bisa jangan berpuas dengan hanya mengirim satu cerpen!

Biasanya saya mengirimkan surat mohon konfirmasi dengan menggabungkan beberapa cerpen sekaligus, (kalau hanya baru mengirimkan satu cerpen juga tak apa minta konfirmasi) dan ketika menulis surat permohonan konfirmasi saya bisa menyebutkan semua cerpen yang pernah saya kirim. Isi surat harus dengan kalimat yang baik dan sopan.

Contoh Surat Permohonan Konfirmasi bisa serupa ini :


Jakarta, 3 Januari 2016

Salam sejahtera,

Semoga kru redaksi Majalah ABCD senantiasa sehat, berbahagia dan sukses dalam setiap pekerjaan.

Saya Hayatun Nufus dengan nama pena Haya Nufus pernah mengirimkan 5 cerita pendek untuk dimuat di Majalah ABCD dalam rentang waktu yang berbeda. Kelima judul cerpen tersebut adalah :

  • Dunia Kaca Aya , saya kirimkan melalui email pada tanggal 27 Juli 2015

  • Pengakuan, saya kirimkan melalui email pada tanggal 14 Juli 2015

  • Seorang Wanita di Kandang Sapi, saya kirimkan melalui email pada tanggal 14 Juli 2015

  • Maria Andrianasolo, saya kirimkan melalui email pada tanggal 30 April 2015

  • Suara-suara, saya kirimkan melalui email pada tanggal 15 Desember 2013

Karena sudah beberapa bulan menunggu, saya mohon konfirmasi diterima atau ditolaknya naskah cerpen saya di atas. Adalah sebuah kehormatan bagi saya jika tim redaksi Majalah ABCD bisa mempertimbangkan kelayakan atas pemuatan cerpen saya di Majalah ABCD.

Atas perhatian Anda, saya haturkan banyak terima kasih.

Hormat saya

Haya Nufus


Adakalanya, surat Permohonan Konfirmasi itu juga tak mendapat balasan (sabar jeng...sabar!). Nah, kalau memang firasat kita mengatakan cerpen atau cerita pendek yang kita kirim memang belum layak muat atau kita sudah merasa cukup menunggu dan ingin mengirimkan cerpen atau cerita pendek tersebut ke koran atau majalah lain, kirimkanlah Surat Penarikan.  

Surat penarikan ini penting agar ada kejelasan status cerpen kita. Ada beberapa koran atau majalah yang tidak komunikatif karena mungkin beban kerja editor yang sangat banyak. Ada juga kasus pemuatan cerpen ganda oleh beberapa koran atau majalah yang berbeda yang terjadi karena kurangnya komunikasi ini. Nah, Surat Penarikan ini adalah legalitas kita atau hak penulis untuk bisa mengirimkan ke media lain. Intinya, biarlah sang editor tak berkomunikasi atau membalas email kita namun sebagai penulis yang baik kita tetap menginformasikan yang kita lakukan. Demi ketenangan batin juga sihhh ^^

Contoh surat penarikan bisa serupa :

 

Jakarta, 15 Juli 2016

Salam sejahtera,

Semoga kru redaksi Majalah ABCD senantiasa sehat, berbahagia dan sukses dalam setiap pekerjaan.
Saya Hayatun Nufus dengan nama pena Haya Nufus pernah mengirimkan 5 cerita pendek untuk dimuat di Majalah ABCD dalam rentang waktu yang berbeda. Kelima judul cerpen tersebut adalah :

• Dunia Kaca Aya , saya kirimkan melalui email pada tanggal 27 Juli 2015
• Pengakuan, saya kirimkan melalui email pada tanggal 14 Juli 2015
• Seorang Wanita di Kandang Sapi, saya kirimkan melalui email pada tanggal 14 Juli 2015
• Maria Andrianasolo, saya kirimkan melalui email pada tanggal 30 April 2015
• Suara-suara, saya kirimkan melalui email pada tanggal 15 Desember 2013

Karena sudah beberapa bulan menunggu, saya berasumsi bahwa kelima cerpen tersebut belum layak muat di Majalah ABCD dan karenanya saya menarik kembali naskah cerpen saya tersebut.

Menulis untuk Majalah ABCD adalah sebuah tantangan besar bagi saya. Semoga ada kesempatan lain bagi karya saya untuk dimuat di Majalah ABCD

Atas perhatian Anda, saya haturkan banyak terima kasih.

Hormat saya
Haya Nufus

Pedih memang, tapi begitulah perjuangan, ya kan? Kalau kita berhenti disini dan gantung pena, keinginan untuk melihat cerpen kita dimuat di koran atau majalah terkubur sudah ke dasar sumur yang paling dalam..... Namun kalau kita terus menulis tak menyerah, terus mencoba mengirimkannya, akan ada sesuatu di ujung jalan sanaaaaa :D Asiiikkk 

Entahlah berapa lama waktu yang diperlukan, entahlah berapa banyak cerpen yang harus kita tulis, yakin aja suatu saat sang editor akan duduk di depan meja kerjanya dengan segelas kopi yang panas sambil mengerjap-ngerjap kagum membaca cerpen kita. Daan jreeengg! Honor pun tertransfer ke dalam rekening kita. 

Dan biasanyaaaa cerpen petama itu serupa penglaris, ia akan membuka jalan bagi cerpen-cerpen lain untuk muncul dan menebarkan pesonanya. Halah!!! 

Aamiin... Semoga!

Oya, untuk contoh Surat Pengantar Mengirimkan Cerpen ke koran/majalah bisa baca disini

Happy Writing, Happy Blogging!

13 komentar :

Posting Komentar

Contoh Surat Pengantar untuk Mengirimkan Cerita Pendek ke Koran atau Majalah

28 komentar

Bagi penulis fiksi, melihat cerita pendek (cerpen) yang kita tulis dimuat di koran atau majalah adalah sebuah impian yang layak untuk diwujudkan. Menjadi pelaku sastra secara aktif dengan karya yang dibaca secara luas  akan memupuk gairah menulis kita,  karena kita menjadi lebih percaya diri dan yakin kalau kalau minat yang kita punya dalam bidang kepenulisan ini juga dibarengi oleh bakat dan keterampilan yang terasah. Cerita pendek yang dimuat di koran atau majalah tentu telah melewati proses seleksi pihak editor hingga dianggap layak untuk ditampilkan.

Ada beberapa koran atau majalah yang menyediakan halaman bagi cerita pendek atau rubrik fiksi. Jika kita ingin nama kita terpajang disana sebagai penulisnya, yang perlu kita lakukan selain menulis dan merangkai cerita tentu saja adalah mengirimkannya. Sebagus apapun cerita pendek kita kalau hanya berupa draft di komputer tak akan ada yang menganggap kita berbakat. Jadi, kirimkan dan biarkan nasib yang menentukan takdirnya kemudian. Setidaknya kita telah berusaha, ya kan?

Dalam mengirimkan naskah cerita pendek (cerpen) ada hal yang harus kita perhatian, salah satunya adalah surat pengantar. Jika mengirimkan cerita pendek melalui email, surat pengantar ini bisa kita tulis di badan email. Sedangkah naskah dan identitas diri biasanya kita dilampirkan berupa attachment.

Saya beberapa kali mengirimkan cerita pendek saya ke koran dan majalah, surat pengantar yang sering saya pakai akan berbeda-beda tergantung media yang akan saya tuju. Namun secara garis besarnya bisa seperti di bawah ini :


Jakarta, 25 Agustus 2016

Yth. Redaksi Fiksi Majalah ABCD

Menulis untuk Majalah ABCD adalah sebuah tantangan bagi saya, karenanya saya terus mencoba mengirimkan cerita pendek saya kepada tim Redaksi Fiksi Majalah ABCD. Kali ini Cerita Pendek saya berjudul 'Debu di Kaca', menceritakan tentang seorang ibu yang menanti kepulangan anaknya dari persembunyiannya di hutan.

Data pribadi saya,

Nama                              :

Tempat/tgl lahir              :

Alamat                            :

Hp                                   :

Rekening Bank               :

Blog pribadi                  :  www.hayanufus.com

Saya pernah meraih Juara III Sayembara Menulis Cerita Bersambung Majalah FEMINA tahun 2015-2016 dengan judul karya 'Terpilin Cinta di Negeri Merah', Juara III Lomba Menulis Novel Penerbit Indiva Media Kreasi tahun 2014 yang pada Januari 2016 telah diterbitkan menjadi sebuah novel berjudul SEBIRU SAFIR MADAGASCAR, pemenang 10 besar Lomba Menulis Puisi Komunitas Seni Kuflet Padang, menulis artikel jalan-jalan yang dimuat di rubrik Leisure Republika dan rubrik Oleh-oleh Majalah Femina, menjadi kontributor di buletin Dharma Wanita Persatuan Kementerian Luar Negeri dan Warta Unsyiah.

Berikut saya lampirkan tulisan saya beserta scan identitas diri (KTP). Besar harapan saya agar cerita pendek ini memenuhi sarat kelayakan muat di rubrik fiksi Majalah ABCD. Atas kesempatan yang Anda berikan saya ucapkan terima kasih.

Hormat saya,

Haya Nufus


Itu hanya satu contoh surat pengantar yang bisa digunakan, tentu saja bisa dibuat dengan redaksi atau kalimat yang berbeda. Yang utama adalah secara sopan mengatakan maksud email atau surat kita, memperkenalkan diri dan prestasi yang berkaitan dengan bidang tulis menulis dan harapan kita yang besar akan dimuatnya cerita pendek kita di majalah atau koran tersebut.

Siap untuk mengirimkan cerpenmu?

Untuk contoh surat konfirmasi dimuat atau ditolak cerpen kita juga contoh surat penarikan baca disini

28 komentar :

Posting Komentar

Review Izin untuk Penataan Perizinan Perkebunan Sawit Tak Hanya Sebuah Pilihan Namun Keharusan.

11 komentar
Foto dari mongabay.co.id

Sejauh apapun waktu membawa kita pergi, akan ada kenangan-kenangan masa silam yang sulit dilupakan, menetap di bagian hippocampus otak. Tersimpan, tak hilang, ketika ada pemicu ia akan bangkit menghadirkan nostalgia.

Semasa kanak-kanak, aku dan keluarga tinggal di sebuah dusun kecil di Aceh Tamiang bagian Hulu. Dusun kami dikelilingi oleh perkebunan kelapa sawit. Menuju ke arah utara, selatan, barat dan timur deretan pohon dari genus Elaeis itu yang kami temui. Tahun sembilan puluhan, perkebunan sawit itu masih berseling hutan karet dan pohon-pohon tinggi yang membentuk hutan heterogen. Menghijau di sisi liukan panjang Sungai Kaloy.

Sungai Kaloy yang bercahaya keperakan setiap tertimpa cahaya mentari itu selalu mengizinkan kami membaurkan diri ke dalam tubuhnya. Kami bisa berenang, menyelam sambil membuka mata dan melihat makhluk sungai yang hidup dalam kejernihan airnya . Kerap kami bermain ‘lempar-cari batu putih’. Batu itu mudah sekali mata kami temukan bersama batu lainnya di dasar sungai, karena air sungai itu  bening serupa kaca. Arusnya meski deras, tak membuat kami takut. Ia serupa ibu yang menjaga kami aman dalam rengkuhannya. Di atas pantainya, kami akan menggelar tikar, makan bersama teman dan guru; berwisata secara sederhana di akhir tahun ajaran sekolah.

Namun lambat laun, alam berganti bentuk. Ada tangan-tangan yang tak berhenti bergerak, mengambil apa saja yang alam sediakan.

Akal kami begitu naïf ketika itu. Bagaimana bisa kami tak risau akan truk besar yang hilir mudir mengangkuti balok-balok kayu dari hutan dan membawanya keluar dusun entah kemana? Bagaimana hutan heterogen yang perlahan berubah menjadi perkebunan sawit, hektar demi hektar? Jalan raya yang tak pernah bagus ; diaspal untuk kembali hancur tergilas truk yang membawa berton-ton beban di atasnya? dan asap yang membauri udara kami dari corong-corong pabrik sepanjang waktu, tahun ke tahun?

Awalnya aku menyukai aroma itu --aroma daging buah sawit yang diolah menjadi minyak-- namun lalu sadar akan konsekuensi logis yang harus kami terima. Hukum sebab akibat yang berlaku secara universal, serupa : makan akan membuat perut kenyang, air akan membuat tubuh basah, api akan membakar dan perlakuan buruk terhadap alam akan menimbulkan petaka.

Suatu hari di penghujung tahun 1996, hujan mengguyur sejak subuh tanpa berhenti. Tak terlalu deras namun tengah hari sungai meluap. Airnya membanjiri rumah-rumah, menyisakan atap saja yang tampak mata. Warga yang tinggal di bantaran sungai mengungsi, beberapa rumah panggung kayu bergerak hanyut serupa bahtera Nabi Nuh. Satu orang tetangga kami meninggal, beberapa terluka dan kerugian material yang tak sedikit. Peristiwa banjir bandang itu dikabarkan ke seantero Nangroe oleh Harian Umum, memancing simpati namun tak cukup bertenaga untuk menghentikan kerusakan lebih lanjut.

Sejak itu Sungai Kaloy berubah gemuk dengan debit air melimpah dan bewarna kuning coklat tanah akibat erosi setiap musim penghujan. Ia serupa wanita obesitas yang kesulitan melakukan diet. Anak-anak tak lagi dizinkan orang tua untuk berenang karena khawatir akan hanyut dibawa arus.

Jika kondisi serupa itu terus terbiarkan, bayangkan apa yang terjadi tahun-tahun ke depan. Bisa jadi, generasi setelah kita tak akan sempat menikmati alam yang bestari. Kejadian yang kami alami, jelas terjadi juga di wilayah Aceh dan Indonesia lainnya. Kasus di dusun kami hanya satu dan sekian banyak kasus yang harus dicarikan solusinya.

DAMPAK POSITIF DAN PENTINGNYA REVIEW IZIN UNTUK PENATAAN PERIZINAN KELAPA SAWIT

Akar permasalahan tentu ada pada Hak Guna Usaha yang telah dipegang oleh beberapa Pengusaha Kelapa Sawit. Menurut Baihaqi, anggota Badan Pekerja dan aktivis Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) di Banda Aceh, 80 persen dari wilayah Aceh Tamiang yaitu 1.957.02 km2 telah dikuasai oleh pemilik HGU (Hak Guna Usaha) sawit (sumber data : mataaceh.org). 80 persen jelas bukan wilayah yang sempit.

Karenannya Review Izin untuk Penataan Perizinan atau pengkajian ulang terhadap para pengusaha kelapa sawit yang telah mengantongi Hak Guna Usaha sangat perlu dilakukan. Izin dan legalitas yang mereka miliki, benarkah digunakan dengan bijak dan taat tanpa adanya kelalaian akan kewajiban? Tak hanya itu, meski jika ternyata semua telah sesuai aturan perlu juga untuk mereview/mengkaji ulang dampak lingkungan yang diakibatkan ; adakah terjadi kerusakan parah yang kerugiannya lebih besar dibanding kemanfaatannya?

Perizinan yang diberikan pemerintah kepada pengusaha kelapa sawit tentu harus punya masa berlaku yang pengkajiannya haruslah dilakukan secara periodik. Apalagi jika terbukti ada pelanggaran, izin pengusaha yang bersangkutan bisa dicabut sebagai tanda keseriusan pemerintah dan sebagai pembelajaran bagi pengusaha yang lainnya. Tak boleh ada pembiaran dan pemakluman akan hal ini.

Review Izin untuk Penataan Perizinan  ini berguna sebagai alat pengawasan dalam keserasian pengelolaan Sumber Daya Alam terhadap perkembangan pembangunan dalam aspek ekonomi, sosial dan tentu saja lingkungan hidup.

USAHA YANG BISA DILAKUKAN PEMERINTAH

Pemerintah memang telah melakukan sesuatu, Foresthint memberitakan bahwa Presiden Jokowi telah melakukan pengarahan untuk melakukan moratorium sawit dan tambang di Aceh, yang dinyatakan siap oleh Wali Nanggroe Malik Mahmud dan Gubernur Aceh Zaini Abdullah dalam pertemuan dengan menteri LHK, Siti Nurbaya di Jakarta. Namun perusahaan-perusahaan Kelapa Sawit di 16 kabupaten di Aceh telah mendapatkan izin jauh sebelum moratorium itu dilakukan. Kita butuh upaya yang lebih serius dan nyata (sumber mataaceh.org)

Apa yang bisa dilakukan pemerintah?

1. Secara transparan bekerja sama dengan lembaga-lembaga non pemerintahan untuk pengawasan dan melakukan Review Izin Untuk Penataan Perizinan Hak Guna Usaha Kelapa Sawit. Lembaga non pemerintah yang terpercaya akan memberi sinergi positif dan dapat menumbuhkan kepercayaan publik.

2. Bersama polisi hutan dan masyarakat luas memantau dan mencegah illegal logging yang terkadang terjadi akibat ketidak taatan perusahaan terhadap batasan wilayah pembukaan lahan oleh pengusaha pemegang Hak Guna Usaha atau pihak lain.

3. Menindak lanjuti secara berani, adil dan transparan terhadap pemegang Hak Guna Usaha yang melanggar aturan dan terbukti melakukan tindakan yang mengancam lingkungan.

4. Cegah praktik Korupsi, Kolusi dan Nepotisme dalam penerbitan izin Hak Guna Usaha Kelapa Sawit.

5. Sosialisasi ke masyarakat sekitar kawasan, untuk mengedukasi juga menumbuhkan kesadaran dan kepedulian. Para pekebun tradisional juga butuh pengetahuan akan tata cara membuka lahan yang ramah lingkungan.

6. Sudah saatnya melibatkan perempuan untuk membenahi krisis ekologi.

DAMPAK YANG DIRASAKAN DAN PERAN YANG BISA DILAKUKAN KAUM PEREMPUAN

Perempuan adalah kelompok yang rentan akan dampak perubahan lingkungan. Krisis Ekologi yang terjadi mempengaruhi kehidupan mereka. Praktik pembukaan lahan telah mempersemppit bahkan merebut lahan dan ruang produktivitas kaum perempuan dan masyarakat lokal. Perusahana tak bertanggung jawab telah menyingkirkan mereka ke garis kemiskinan dan keterbatasan.

Di dusun ku, dulunya banyak wanita bekerja sebagai pemetik kapas, petani cokelat dan penderes getah. Ada juga yang menanam tanaman pangan untuk kebutuhan harian di atas lahan-lahan pinggiran hutan. Namun ketika lahan itu dipakai untuk perkebunan sawit mereka tersingkir. Pembebasan lahan membuat petani tradisional kehilangan sumber penghasilan dan membawa mereka menjadi pihak yang tak diuntungkan.

Secara kodrat, kaum perempuan dan alam memiliki ikatan. Naluri melindungi diri dan generasi yang ada pada wanita bisa diarahkan untuk melindungi alam dan lingkungan hayati. Karena alam tempat kita hidup harus bisa kembali melahirkan kehidupan, serupa perempuan.

Perempuan bisa memegaruhi komunitas di sekitar mereka untuk melakukan gerakan perbaikan hutan dan pengelolaan lahan. Menanamkan kesadaran kepada para pemuda dan anak-anak akan pentingnya menjaga ekosistem.

SAWIT BUKAN SOLUSI

Benarkah sawit secara signifikan meningkatkan pendapatan daerah yang secara otomatis mensejahterakan masyarakat? Mitos yang kita percaya seakan sawit harus diperjuangkan demi angka-angka pertumbuhan perekonomian. Nyatanya kesejahteraan itu sering kali terhenti pada pemilik dan pengusaha saja. Para pekerja, buruh kelapa sawit dan keluarganya juga petani tradisional masih hidup dalam keterbatasan ekonomi.

Sebaliknya, buruknya dampak lingkungan yang terjadi lebih faktual terlihat mata kita. Apa kita rela, sekelompok orang menggerogoti hasil alam demi kesejahteraan mereka sendiri dan menyisakan kerusakan bagi kita dan anak cucu kita? Jadi, mari desak pemerintah untuk melakukan Review Izin untuk Penataan Perizinan Kelapa Sawit, karena sawit bukan solusi.

Referensi :

mataaceh.org

www.mongabay.co.id



11 komentar :

Posting Komentar

Datang ya ke rumah kami!

5 komentar

"Datang ya ke rumah kami!"
Seminggu menjelang Idul Fitri, undangan serupa itu telah berkali-kali aku terima. Teman-teman sesama Warga Negara Indonesia di Antananarivo memang memiliki kebiasaan melakukan acara open house keliling dari rumah ke rumah setiap Idul Fitri tiba. Tujuannya jelas untuk memeriahkan lebaran di negeri orang juga ajang kumpul dan mengakrabkan diri. Rata-rata makanan yang dihidangkan adalah masakan nusantara yang memang selalu lidah kami rindukan. Dan kemarin aku juga latah mengucap kalimat yang sama.
'Datang ya ke rumah kami, Idul Fitri ke-tiga jam 11 siang sampai selesai!"
Kalimatku mantap tak hanya kepada teman Indonesia namun teman-teman muslim dari India, Algeria dan Malagasy yang sering bertemu pada acara sholat teraweh bersama di musalla Kedutaan Besar Republik Indonesia di Antananarivo. Meski hati deg-degan juga, mau masak apa?

Maka sejak undangan itu aku lontarkan, aku sering membolak-balik tumpukan majalah 'resep' yang selalu aku titipkan ketika suami atau teman ke Indonesia, melihat-lihat resep yang ada disana sambil mencari ide. Aku juga menelusuri aneka resep di internet, hingga lalu memutuskan untuk menyajikan nasi kuning komplit dengan pelengkapnya : sambal goreng hati, ayam bakar, telur rawis, tomat timun, kering tempe dan perkedel untuk para tamu. Kalau sambal goreng hati, telur rawis dan ayam bakar tentu tak masalah, aku sudah pernah memasaknya beberapa kali. Perkedel dan kering tempe, kebetulan seorang teman bisa dimintai tolong untuk menyiapkan. Nah masalahnya adalah nasi kuning yang menjadi menu utamanya, aku sama-sekali belum pernah membuatnya karena di Aceh Pidie, kampung kelahiranku, nasi kuning tak terlalu populer dibanding nasi lemak dan nasi gurih khas Aceh.

Untungnya mudah sekali menemukan resep nasi kuning yang cocok di internet , resep itu lalu aku tulis di buku catatan khusus kumpulan resep lalu aku uji dulu dalam porsi kecil keesokan paginya. Tentu setelah semua bahan tersedia. Dan ternyata, berhasil!. Suami dan anak-anak yang mencoba untuk kali pertama mengacungkan dua jempol. Jelas menambah rasa percaya diri.

Idul Fitri pun tiba. Malam idul fitri ketiga aku bergadang mengerjakan semua hidangan. Memanggang ayam di oven, merebus dan memotong-motong hati, menggoreng kentang dan mencampurnya dengan sambal goreng juga menyiapkan jus natural dari buah asli. Khusus nasi kuning, langkah-langkahnya benar-benar aku perhatikan dengan teliti, agar tekstur dan rasa nasinya pas. Untunglah aku masih memiliki daun salam kiriman teman, juga pohon daun jeruk yang masih tumbuh subur di pot halaman rumah. Pohon jeruk ini adalah pemberian teman yang kembali ke tanah air tahun lalu, terasa penting untuk kelengkapan anekan hidangan nusantara. Malagasy tak biasa memakai daun jeruk dalam masakan mereka. Bumbu-bumbu yang lain tak masalah karena bisa kubeli di pasar sini. Tak apa lelah, asal semua berjalan lancar dan memuaskan.

Dan ketika para tamu berdatangan, ketika hidangan telah terhidang aku deg-degan lagi menunggu respon mereka yang biasanya memang sering riuh dan apa adanya. Namun tak ada yang berespon, mereka makan dengan lahap seolah sengaja membuatku tegang. Hingga seorang teman berkata. “Tegang amat sih? Nasinya enak kok, semuanya pas di lidah!.” Senyumku pun melebar, selebar daun pintu yang terbuka bagi para tamu. Ini adalah berkah Idul Fitri di tanah rantau, berkah silaturrahmi!. Oo tentu juga berkat resep oke dari internet!


5 komentar :

Posting Komentar