Datang ya ke rumah kami!

5 komentar

"Datang ya ke rumah kami!"
Seminggu menjelang Idul Fitri, undangan serupa itu telah berkali-kali aku terima. Teman-teman sesama Warga Negara Indonesia di Antananarivo memang memiliki kebiasaan melakukan acara open house keliling dari rumah ke rumah setiap Idul Fitri tiba. Tujuannya jelas untuk memeriahkan lebaran di negeri orang juga ajang kumpul dan mengakrabkan diri. Rata-rata makanan yang dihidangkan adalah masakan nusantara yang memang selalu lidah kami rindukan. Dan kemarin aku juga latah mengucap kalimat yang sama.
'Datang ya ke rumah kami, Idul Fitri ke-tiga jam 11 siang sampai selesai!"
Kalimatku mantap tak hanya kepada teman Indonesia namun teman-teman muslim dari India, Algeria dan Malagasy yang sering bertemu pada acara sholat teraweh bersama di musalla Kedutaan Besar Republik Indonesia di Antananarivo. Meski hati deg-degan juga, mau masak apa?

Maka sejak undangan itu aku lontarkan, aku sering membolak-balik tumpukan majalah 'resep' yang selalu aku titipkan ketika suami atau teman ke Indonesia, melihat-lihat resep yang ada disana sambil mencari ide. Aku juga menelusuri aneka resep di internet, hingga lalu memutuskan untuk menyajikan nasi kuning komplit dengan pelengkapnya : sambal goreng hati, ayam bakar, telur rawis, tomat timun, kering tempe dan perkedel untuk para tamu. Kalau sambal goreng hati, telur rawis dan ayam bakar tentu tak masalah, aku sudah pernah memasaknya beberapa kali. Perkedel dan kering tempe, kebetulan seorang teman bisa dimintai tolong untuk menyiapkan. Nah masalahnya adalah nasi kuning yang menjadi menu utamanya, aku sama-sekali belum pernah membuatnya karena di Aceh Pidie, kampung kelahiranku, nasi kuning tak terlalu populer dibanding nasi lemak dan nasi gurih khas Aceh.

Untungnya mudah sekali menemukan resep nasi kuning yang cocok di internet , resep itu lalu aku tulis di buku catatan khusus kumpulan resep lalu aku uji dulu dalam porsi kecil keesokan paginya. Tentu setelah semua bahan tersedia. Dan ternyata, berhasil!. Suami dan anak-anak yang mencoba untuk kali pertama mengacungkan dua jempol. Jelas menambah rasa percaya diri.

Idul Fitri pun tiba. Malam idul fitri ketiga aku bergadang mengerjakan semua hidangan. Memanggang ayam di oven, merebus dan memotong-motong hati, menggoreng kentang dan mencampurnya dengan sambal goreng juga menyiapkan jus natural dari buah asli. Khusus nasi kuning, langkah-langkahnya benar-benar aku perhatikan dengan teliti, agar tekstur dan rasa nasinya pas. Untunglah aku masih memiliki daun salam kiriman teman, juga pohon daun jeruk yang masih tumbuh subur di pot halaman rumah. Pohon jeruk ini adalah pemberian teman yang kembali ke tanah air tahun lalu, terasa penting untuk kelengkapan anekan hidangan nusantara. Malagasy tak biasa memakai daun jeruk dalam masakan mereka. Bumbu-bumbu yang lain tak masalah karena bisa kubeli di pasar sini. Tak apa lelah, asal semua berjalan lancar dan memuaskan.

Dan ketika para tamu berdatangan, ketika hidangan telah terhidang aku deg-degan lagi menunggu respon mereka yang biasanya memang sering riuh dan apa adanya. Namun tak ada yang berespon, mereka makan dengan lahap seolah sengaja membuatku tegang. Hingga seorang teman berkata. “Tegang amat sih? Nasinya enak kok, semuanya pas di lidah!.” Senyumku pun melebar, selebar daun pintu yang terbuka bagi para tamu. Ini adalah berkah Idul Fitri di tanah rantau, berkah silaturrahmi!. Oo tentu juga berkat resep oke dari internet!


5 komentar :

  1. kalo open house gitu mesti nyocokin jadwal juga dong sama sesama teman2 yang ngadain open house juga?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mila, diomongin dulu memng biar nggak barengan sm teman.

      Hapus
  2. Kita, perempuan, memang ciptaan Allah yang unik. Rela begadang untuk mengesankan tamu keluarga. :))

    BalasHapus
  3. saya juga cari resep sekarang di internet,dulu awal nikah buka buku lagi buka buku lagi sampe dibeliin suami buku masak yang tebeeeeel banget tp akhinrya ga kebaca semua dan ga semua dipraktekkan hehe

    BalasHapus
  4. Tinggal di negeri orang emang ada pengalaman unik tersendiri ya.
    Suamiku pulang2 jadi pinter masak gara2 musti mandiri di negeri orang :)

    BalasHapus