Novel Lelaki Tua dan Laut karya Ernest Hemingway

7 komentar

Judul : Lelaki Tua dan Laut
Penulis : Ernest Hemingway
Penerjemah : Sapardi Djoko Damono
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia, Seri Sastra Dunia
Tahun Terbit : Mei, 2016
Harga : Rp.50.000

Ernest Hemingway sebagai pengarang dan Sapardi Djoko Damono sebagai penerjemah.  Dua nama besar di sampul depan buku inilah yang membuat aku tertarik untuk mengulurkan tangan, meraih buku ini dari rak, membolak-balik halamannya secara acak dan lalu membawanya ke meja kasir. Dua nama besar ini membuatku tak hanya ingin mengetahui kisah cerita tentang Lelaki Tua dan Laut namun juga ingin belajar bagaimana cara mereka berkisah.

Untuk sebuah novel, buku ini tidak tebal, hanya 102 halaman. Namun kisah seorang pelaut tua di Teluk Meksiko yang ditulis tahun 1951 silam ini punya sesuatu hingga layak meraih penghargaan Pulitzer Prize for Fiction dua tahun kemudian (1953) juga Nobel Prize in Literature di tahun 1954. 'Sesuatu itu bernama kekuatan untuk mempengaruhi pembaca. Perjuangan lelaki tua menghadapi ganasnya laut seorang diri mampu teranalogikan dengan kerasnya keinginan meraih mimpi dalam kehidupan. Semangat dan keinginan kuat karakter utamanya membuat pembaca terbawa gairah dan merasa malu untuk menyerah.

Novel ini berkisah tentang seorang nelayan tua bernama Santiago yang genap 84 hari lamanya tidak berhasil menangkap ikan seekor pun. Orang-orang menganggap ia 'salao', orang paling sial di antara yang sial. Karenanya seorang anak laki-laki yang biasa menemaninya melaut pun dilarang orang tuanya untuk kembali melaut bersamanya. Namun Santiago meyakini bahwa 85 adalah angka keberuntungannya.

Maka pada hari ke-85, ketika langit masih gelap, berlayarlah ia sendirian ke laut yang lebih jauh dengan keyakinan bahwa ia akan menangkap ikan besar, lebih besar dari yang biasa ditangkap nelayan lain.. 

Dari halaman 17 hingga 96, pembaca dibawa ikut ke lautan, merasai asinnya air laut yang menampar perahu, mendengar desis sayap-sayap kaku sekelompok ikan terbang yang melesat dari air ke udara, menerka-nerka pergerakan ikan-ikan di dalam air gelap, ikut takjub dengan kelompok lumba-lumba, penyu, ubur-ubur juga burung-burung pemberi pertanda di langit.

Kenyataannya, keberuntungan yang ia yakini tidak datang dengan mudah. Butuh pertarungan sengit bersama matahari yang muncul tenggelam, berhari-hari. Ketika ia telah mendapat peruntungan itu, sekawanan hiu mengejarnya dengan ganas, tak hanya sekali, terhitung sampai lima kali! Ia harus bertahan untuk tetap hidup di laut, memakan ikan mentah untuk sumber tenaga, menghemat air tak seberepa di botol bekalnya,mengobati tangannya yang terluka dan mencoba beristirahat sementara sekitarnya mengancam nyawanya.

Kekuatan itu muncul dari monolog-monolog Santiago, 
Kita beruntung bahwa tidak harus mencoba membunuh matahari atau bulan atau bintang-bintang. Cukuplah hidup di laut dan membunuh saudara-saudara kita yang sejati (ikan-ikan). Halaman 57
Apapun yang terjadi, aku harus membuang isi perut lumba-lumba itu supaya tidak membusuk dan kemudian memakannya sebagian agar tenagaku bertambah. Halaman 58
Mestinya tadi kubawa macam-macam perlengkapan, pikirnya. Tetapi kau tidak membawanya, lelaki tua. Sekarang bukan saatnya untuk berpikir tentang segala yang tak kau miliki. Pikirkan tentang segala yang kau miliki. Halaman 87
"Tetapi lelaki tidak diciptakan untuk dikalahkan,"
"Seorang lelaki bisa dihancurkan tetapi tidak dikalahkan." Sayang sekali aku telah membunuh ikan-ikan itu. Sekarang saat-saat berbahaya akan tiba dan aku bahkan tak memiliki kait. Dentuso itu kejam dan gesit dan perkasa dan cerdik. Tetapi aku lebih cerdik darinya... Halaman 81
Dan banyak kalimat pemompa semangat lainnya yang menyuruhnya tetap berpikir jernih betebaran halaman ke halaman. 

Dan pertanyaannya adalah, apakah orang-orang akan mencarinya atau bahkan tak ada yang menyadari kalau ia hilang di laut? Lalu apakah ia akan berhasil sampai ke darat membawa pulang ikan besar kebanggaannya atau kalah oleh hiu-hiu pemangsa itu?

Cari tahu sendiri ya kawan... Nggak asik kalau endingnya dibocorin disini ^^ Lebih asik kalau kita baca sedikit biografinya yang tertulis di bagian pengantar buku ini.

Ernest Hemingway, pengarang roman dan cerita pendek Amerika yang termasyhur ini dilahirkan tahun 1899 di Oak Park, Illinois. Ia dianggap pengarang berbahasa Inggris terbaik pada zamannya. Karya-karyanya yang berjudul The Old Man and the Sea, A Farewell to Arms, The Sun Also rises, For Whom the Bell Tolls, Across the River and Into the Trees, dan lain-lain, besar sekali pengaruhnya terhadap sastra dunia. 

Selama hidupnya, ia senang bepergian,  memancing atau berburu, bahkan pernah lama mengembara di Afrika. Ia meninggal pada tahun 1961.

Selain novel Lelaki Tua dan Laut, roman lainnya juga telah diterjemahkan oleh Toto Sudarto Bachtiar berjudul Pertempuran Penghabisan.Sayangnya aku belum nemu roman yang itu. Mudah-mudahan lain kali bisa baca dan membandingkannya.

Happy reading, happy blogging!

7 komentar :

  1. Makasi mba reviewnya, masuk list bacaan saya ^^

    BalasHapus
  2. Saya baca buku ini waktu SMA Mbak, bagus sekali, dan terkenang. Pengen juga bisa menghasilkan buku yang tetap bermanfaat berabad-abad :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah duluan aja nih Mbak Nurin, memang sudah beberapa kali diterjemahkan ya mbak

      Hapus
  3. Saya baca buku ini waktu SMA Mbak, bagus sekali, dan terkenang. Pengen juga bisa menghasilkan buku yang tetap bermanfaat berabad-abad :)

    BalasHapus
  4. Kalau buku yang gak terlalu tebal kayaknya saya tertarik untuk baca. Sekarang agak susah baca yang tebal-tebal. Cepat ngantuk :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha iya mbak ini nggak tebal.
      AKu juga gitu.. buku tebal kalau menarik sih oke tapi ada juga yang mutar2 jalan ceritanya dan itu bikin ngantuk :D

      Hapus