The Girl on the Train, Novel Thriller Pertama Paula hawkins

4 komentar

Judul            : The Girl on the Train
Penulis         : Paula Hawkins
Penerjemah  : Ingrid Nimpoeno
Penerbit       : Noura Books
Kode/Label : DEWASA

Ini novel, sampulnya aja udah menarik. Segala keistimewaannya bisa ditampilkan dengan lugas dan sangat menggoda disana. Coba lihat, kalimat ‘Kau tak mengenalnya, tapi dia tahu siapa dirimu’ benar-benar pas diksinya untuk memancing rasa penasaran para penikmat fiksi thriller psikologis serupaku. Ditambah percikan darah di huruf L dari kata Girl, menggambarkan rasa-rasa ‘kemisteriusan yang kejam’ #Halah ini lebai! 

Lalu, testimoni dari Stephen King yang berbunyi "Membuatku tak bisa tidur hampir sepanjang malam”, stiker hitam bertulis ‘Segera difilmkan oleh DreamWorks Studios dan tulisan Instan #1 New York Times Bestseller, telah terjual lebih dari 4 juta eksemplar di Amerika dan Inggris, telah diterbitkan dalam 60 edisi rasa-rasanya membuat mulut spontan berdecak dan tangan gatal untuk membawa novel ini ke kasir. 

Bukan itu saja, narasi singkat di halaman awalnya juga adalah jalinan kata yang tak hanya indah namun juga mampu menyapa panca indera pembaca.

Dia terkubur di bawah pohon birkin perak, di dekat rel kereta tua, kuburannya ditandai dengan tumpukan batu. Sesungguhnya hanya setumpuk kecil batu. Aku tidak ingin tempat peristirahatannya tampak mencolok, tapi aku tak bisa meninggalkannya tanpa kenangan. Dia akan tidur dengan damai disana, tak seorangpun mengusiknya, tidak ada suara kecuali kicau burung dan gemuruh kereta yang melintas.

Dan, begitu jalinan kisah itu hadir halaman ke halaman, susah untuk berhenti. Beruntunglah aku yang punya sangat banyak waktu di rumah… Ketika anak-anak ke sekolah, suami ke kantor, hanya ada aku dan novel. Err ada tumpukan kain kusut minta disetrika juga sih... ada ikan yang perlu digoreng dan sayur yang mau dilodeh... tapi urusan domestik itu bisa menunggu ^^

Tentang apa?
Novel ini bergenre thriller dengan mengambil sudut penceritaan yang berganti-ganti antara Rachel, Megan dan Anna.

Rachel, wanita pecandu alkohol yang baru saja bercerai. Ia selalu menaiki kereta komuter yang sama setiap pagi dan sore hari. Meski ia sudah dipecat ia bertindak seakan masih dalam rutinitas kantor agar temannya tak mengusirnya dari rumah sewa mereka. Kehidupannya kacau dan ia hilang kendali untuk memperbaikinya. Kereta yang dinaikinya selalu berhenti di sinyal lampu merah,kawasan rumah-rumah bergaya Victoria. Dari jendela kereta situlah ia menjadi serupa pengintai kehidupan sepasang suami istri yang awalnya tampak mesra. Ia membayangkan mereka adalah pasangan sempurna serupa kehidupan yang pernah dimilikinya, apalagi rumah itu hanya berseling beberapa rumah dari rumah yang dulu adalah milikinya. Namun semua khayalannya buyar ketika ia menyaksikan salah seorang dari mereka berkhiaat. Dan ia merasa sangat marah.

Megan, penghuni rumah nomor lima belas yang haus petualangan. Ia sering membayangkan dirinya berada bebas di Spanyol, Italia, Cinque Terre atau tempat jauh lainnya. Namun nyatanya ia hanya memiliki kehidupan rutin yang membosankan dengan menikahi Scott, laki-laki setia yang mencintainya dan sangat menginginkan seorang anak. Ia juga mencintai Scott namun tak bisa meredam sikap pembangkangnya. Lagipula ia punya rahasia besar yang ia sembunyikan dari semua orang. Masa lalunya tak mudah. Ia takut jika Scott tahu, suaminya itu tak akan pernah memaafkannya. Kegundahannya itu membuatnya rutin menemui seorang terapis… juga seorang kekasih gelap. Ia terus melakukan kesalahan hingga tak lagi ada waktu untuk memperbaikinya.

Anna, istri kedua Tom, mantan suami Rachel. Ia dinikahi setelah Tom bercerai dengan Rachel. Anna  digambarkan sebagai wanita ‘abu-abu’. Ia merasa Rachel adalah ancaman baginya dan Cathy, sang putri. Ia ketakutan setiap Rachel nekat datang ke rumah mereka dengan ancaman dan tingkah gilanya karena mabuk…. Beberapa kali ia menelpon polisi untuk menghentikan Rachel, namun telepon-telepon berisik setiap malam tak juga berhenti.

Lalu, terjadilah pembunuhan itu. Pembunuhan yang sulit dipecahkan oleh para polisi. Pembunuhan yang membuat koran dan stasiun televisi setempat memberitakannya. Pembunuhan yang pada akhirnya mengantarkan ketiga wanita ini pada nasib yang sama. Nasib serupa apa? Nasib 'abu-abu'!

Tentang Penulis
Paula Hawkins bekerja sebagai jurnalis selama lima belas tahun, sebelum mulai menulis fiksi. Lahir dan dibesarkan di Zimbabwe, Paula pindah ke London pada 1989 dan tinggal di sana semenjak itu. The Girl on the Train adalah novel thriller pertamanya.

Sulit menemukan kekurangan novel ini. Taburan testimoni dari ragam harian populer juga penulis lain malah membuat kilau novel ini lebih disetujui. Tapi karena ini novel urban dewasa, ada beberapa hal yang tak sesuai dengan budaya kita.  Jadi, kalau kamu belum dewasa, jangan baca novel iya ya... ^^d

Udah, gitu aja.
Happy reading, happy blogging!

4 komentar :

  1. waduh gajiku bulan ini kayaknya dialokasikan buat buku deh hahaha...baca buku yang mba review uda jelas bikin penasaran dan juga sampai saat ini aku belum pernah baca genre thriller :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, selamatkan gajimu mbak... tahan sampai bulan depan ^^. Makasih ya mbak Herva

      Hapus
  2. Saya suka novel Thriller walaupun bikin deg-degan bacanya :D

    BalasHapus