Pantan Terong, Aceh Tengah, Bukit Indah untuk Melihat Danau Lot Tawar

7 komentar

Pagi-pagi sekali, setelah berendam di pemandian air panas Simpang Balek, kami berkemas menuju Takengon, Aceh Tengah. Melalui jalur umum, kami hanya butuh sekitar tiga puluh menit untuk ke sana. Namun untuk apa terburu-buru....Perjalanan itu tak hanya tentang tempat yang dituju, cerita pada setiap kelokan jalan yang kita ambil dan hal-hal tak terduga yang kita temukan juga penting sebagai kenangan. Jadi, kami meninggalkan jalur umun, mengambil jalan menanjak, melintasi jalan-jalan kecil berkelok, melewati perumahan sederhana berseling perkebunan kopi milik warga.

AC mobil si adek bungsu sedang bermasalah, tapi siapa yang butuh AC di daerah dataran tinggi Aceh Tengah? Buka saja jendela dan nikmati udara segar perbukitan yang menyapa kulit.

Saat roda berguling, aku merasa  bebas... Perbukitan hijau terasa lebih nikmat di mata dibanding jalanan besar dipadati kendaraan dan asap-asap polusi. Riuhnya anak-anak berlari di jalan atau mengayuh sepeda lebih menyenangkan dibanding suara raungan motor anak-anak di bawah umur di jalan-jalan kota. 

Puncak bukit Pantan Terong.

Banyak yang bilang bukit Pantan Terong yang berada pada ketinggian 1.830 meter dari permukaan air laut adalah titik terbaik untuk melihat keindahan Danau Lot Tawar dan keramaian Kota Takengon.  Jadi kesanalah kami menuju...


 

Tak hanya perbukitan, kebun dan ladang pun tampak berseling dengan rumah-rumah sederhana milik masyarakat lokal. Wajah-wajah petani kemerahan yang berpapasan pun tampak ramah dan bersahaja.

Aceh Tengah diberkahi dengan tanah subur.. Tak hanya tanaman kopi namun juga ragam jenis sayuran dan buah yang akan dijual hingga ke kabupaten-kabupaten lain. 

Jadi teringat sewaktu sekolah pesantren dulu. Di asrama kami, santrinya berasal dari Takengon seringkali membawa banyak hasil kebun sekembali dari liburan... Satu kotak jeruk Takengon yang rasanya manis, segar khas mampu kami habiskan dalam sekali duduk. Begitu pula alpukat yang legit-legit lembut itu. Anugerah banget kalau di kamar ada yang dari Takengon.

Pemandangan biji kopi sedang dijemur di perjalanan kami

Kami juga melewati berhektar perkebunan kopi dengan pohon-pohonnya yang rendah dan buah-buah yang masih mengkal.Kabarnya bila musim petik tiba banyak yang mendadak menjadi pemetik kopi musiman. Harganya lumayan banget untuk mereka.

Dan setelah kelokan ke sekian, sampailah kami di puncak bukit Pantan Terong.... Ada sebuah plang nama dan bangunan bercat kuning yang tampaknya digunakan sebagai warung bagi pengunjung. Dan ketika kami berdiri di pinggir tebing, tampaklah kota Takengon di bawah sana. Sekitar kami angin dingin bertiup namun matahari mampu menghangatkan..

Terletak di kecamatan Bebesan, kawasan ini kerap dikunjungi wisatawan lokal atau dari luar Aceh.

Sayangnya kabut masih menyelimuti pandangan kami... Beberapa kali aku mengambil foto namun tak terlalu puas dengan hasilnya. Kabut membentuk serupa selaput di lensa kamera... Atau aku saja yang tak pintar teknik memoto ya.

Dari sini kami bisa melihat Danau Laut Tawar, berputar ke arah lain, ada sebidang tanah lapang yang adalah tempat pacuan kuda belang Bebangka...juga bandar udara Rembele.

Setelah puas melihat-lihat, dari Bukit Pantan Terong mobil membawa kami menuruni bukit. Jalanan yang sempit ditambah adanya  perbaikan jalan membuat perjalanan kami tersendat sebentar. Tak apa, toh kami akhirnya terus melaju menuju pusat keramaian di kota Takengon, mengunjungi Gua Putri Pukes dan juga Danau Laut Tawar.. 

Tunggu cerita selanjutnya #halah!

7 komentar :

Posting Komentar

Ikut Asma Nadia National Writing Workshop Ahhh!

16 komentar

~~Malam-malam tak bisa tidur itu menyiksa~~

Rumah sepi ; anak-anak muda penghuni kontrakan seberang jalan tak lagi terdengar, jarum jam sudah melangkahi angka dua belas, namun sisa kafein masih mengalir di darah, menahan pikiran untuk lelap. Pundak yang kaku, jari jemari yang rasanya keram sangat tidak nyaman, membuatku bangkit dan meninggalkan kasur.

Di benakku, semua pikiran berputar-putar : revisi naskah lama yang ditolak dua penerbit, draft novel tentang Tamiang yang tak kunjung menemukan ending, ide-ide untuk meningkatkan traffic blog, cerpen untuk dikirim ke media cetak… Datang berganti-ganti, meneror, menimbulkan mual dan rasa tak mampu. Banyak maunya kamu Haya!

Menghidupkan kembali laptop yang masih panas bukan pilihan baik sebenarnya, tapi mau apa lagi? Bukannya mencoba kembali untuk mengetik, aku malah tergoda mengecek akun-akun media sosial. Jreng gojreng! mataku menubruk sesuatu yang menarik Asma Nadia National Writing Training. Foto para pemateri dalam bulatan kecil dan tulisan Peluang Naskah Diterbitkan terekam di manik mataku, menggoda. Mereka itu orang-orang terkenal dan berguru kepada mereka adalah yang aku butuhkan. Lagi pula, bertemu dan berkumpul dengan orang-orang yang memiliki mimpi yang sama bisa memompa semangat. Iya kan?


 




Tahun 2012, aku sempat bertemu Asma Nadia dalam acara Inagurasi Angkatan ke-16 Forum Lingkar Pena Jakarta. Yang kuingat jelas adalah gaya bicara dan sikap tubuhnya ketika mengisi workshop serupa motivator yang menghipnotis… Dan saat ini aku butuh mantra-mantra yang kerap Mbak Asma Nadia tebar itu!

Maka, jadilah... 

Hari Minggu tanggal 2 Oktober, aku sudah sampai di Gedung Jakarta Design Center, sepuluh menit kurang dari jam sembilan. Kaget juga melihat ke dalam ruang Lotus yang bangku-bangkunya sudah ramai. Tadinya aku pikir, tak akan seramai ini. Untungnya masih ada sisa bangku untukku di deretan pertama. 

Sesi Pertama adalah duet mesra antara ayah Isa Alamsyah dan bunda Asma Nadia. Materi tentang kenapa harus menulis, bagaimana untuk menjadi penulis, mencari dan mengembangkan ide cerpen, novel dan non fiksi disajikan dengan hidup. Yakinlah tak ada dari kami yang mengantuk.

Sedikit bocoran materi untuk kamu :

IDE, temukan yang unik, beda, tidak lazim, kontroversi, diluar batas kewajaran, tidak klise, hal-hal yang sedang digandrungi, ada unsur-unsur pembaharuan yang orisinil yang membuat karya kita tak akan membekas. Bebaskan saja imajinasi kita untuk membuat cerita dengan kegilaan ide yang ada di kepala kita.

JUDUL, haruslah punya kekuatan untuk memancing dan menarik minat pembaca, jangan terlalu panjang atau terlalu pendek namun pas dan menggambarkan isi cerita. Carilah judul terbaik dan benar-benar terdengar megah.

OPENING, Buka cerita dengan kalimat-kalimat/ide menggebrak yang menarik, tidak bertele-tele, namun tidak membocorkan cerita dan mampu membangun rasa penasaran pembaca.

KONFLIK, adalah nyawanya cerita. Jadi harus ditampilkan dengan kuat. Konflik yang sering muncul berkisar pada masalah cinta, misteri, komedi atau tragedi. Namun ingat, solusi konflik nantinya harus memuaskan dan rasional. 

ENDING, ending yang baik adalah ending yang meninggalkan kesan mendalam, membuat pembaca marah atau sedih atau gembira. Ending tak harus berada di bagian paling akhir cerita, bisa disisipkan bagai bagian 'tersembunyi' hingga pembaca tak bisa menebak di awal.

Tuh, cetar kan materinya? Itu cuma secuil bocoran, yang kami dapat lagiiiii banyak... lagiiiii bombastis!


Setelah sholat dzuhur dan makan siang, SESI KEDUA tak kalah seru. Mas Guntur Soehardjanto telah siap dengan obrolan tentang serba-serbi  SKENARIO. Beliau adalah penulis skenario film Assalamualaikum Beijing, Love Spark in Korea, 99 Cahaya di Langit Eropa dan yang sebentar lagi akan dirilis, Cinta Lelaki Biasa dan Pinky Promise.

Sebagai penyuka film sejak kecil, mas Guntur memiliki ketertarikan kuat dan rasa penasaran akan semua film-film yang beliau tonton sewaktu kecil.  'Ini ceritanya benar nggak sih? pertanyaan itu kerap datang selesai ia menonton.

Lalu, apa saja hal yang mas Guntur perhatikan ketika akan membuat sebuah film?

"Cerita yang dekat dengan kehidupan kita agar penonton bisa mencintai karakter-karakter yang dihadirkan, masalah dan penyelesaikan yang bisa diterima logika, konflik menarik, ide-ide yang sesuai momentum ketika film itu dibuat dan yang penting adanya pesan-pesan inspiratif di dalamnya yang mampu menyadarkan secara halus," ujar pria asal Tumenggung ini.

Tak cukup tiga pemateri, setelah sholat Ashar pemateri selanjutnya datang , Mas Agung Pribadi, penulis buku Gara-Gara Indonesia yang dijuluki Historivator pertama di Indonesia. Mas Agung memberi tips bagaimana menulis karya non fiksi dengan aroma dan gaya fiksi yang menghibur. Bagaimana menulis hal-hal yang tak terpikirkan oleh kita dengan gaya dan bahasa yang menggelitik. Hingga pembaca secara perlahan dibawa pada 'kesadaran' akan suatu hal. Begitulah lebih kurang... ^^ Kalau kamu penasaran, sana ke toko buku dan cari bukunya mas Agung Pribadi yess?

Sesungguhnya foto bareng itu adalah keharusan demi kenangan

Sepuluh menit sebelum pukul lima sore, Mbak Asma Nadia pamit karena harus ke Budapest untuk urusan syuting film baru yang diangkat dari novel beliau. Iya, MAU ADA FILM BARU LAGI! Judulnya Surga yang Tak dirindukan II yang akan tayang 15 Desember 2016. Selain itu akan ada film baru juga Cinta Laki-laki Biasa. Produktivitas Asma Nadia benar-benar bikin iri ya..

Kalau mau tahu lebih lanjut tentang karya-karya beliau, kepoin aja akun-akun media sosialnya mbak Asma Nadia. Akun media sosial beliau selalu aktif dan update, asyik buat diintip.

Dan begitulah, dalam satu hari kemarin, kepala rasanya penuh, semangat rasanya terpompa. Asiknya masih ada sesi-sesi selanjutnya minggu depan 9 Oktober 2016 dengan pemateri tak kalah keren Helvy Tiana Rosa, Hilman Hariwijaya dan Alim Sudio. Tak sabarrr.... ^^

Happy writing, happy blogging!

Haya Nufus

16 komentar :

Posting Komentar