Razia Dini Hari

1 komentar

Tahun 2003, aku dan ketiga saudariku memilih untuk indekos di daerah Lamreung, sebuah meunasah atau kampung di pinggir sungai Lamnyoung di Jalan Makam T. Nyak Arief. Meski dekat sekali dengan kampus kami di Darussalam, Banda Aceh, Lamreung telah masuk dalam kawasan Aceh Besar dan kabarnya termasuk daerah rawan konflik. Titik merah, mereka menyebutnya. Artinya sering terjadi baku tembak antara pihak yang bertikai di sekitar sini. Memang tahun-tahun itu kesepakatan damai Aceh belum lagi mencapai titik mufakat.
Kami tahu itu namun kami mengabaikannya karena kami pikir tak mungkin hal buruk terjadi pada kami. Kami bukan siapa-siapa, bukan orang penting, tak pernah bersuara lantang, tak punya ikatan ataupun persilisihan dengan kedua pihak yang bertikai dan bahkan tak pernah ikut demonstrasi. Tepatnya kami ini tipe mahasiswa pengejar IPK bukan tipe aktivis organisasi. Lagipula, ramai juga mahasiswi lain kos disini. 
Namun alasan kami yang sebenarnya adalah karena biaya sewa yang murah. Untuk rumah dua kamar, kami hanya membayar setara satu kamar sempit di area kota Banda Aceh. Juga letak yang tak jauh dari kampus membuat kami bisa menghemat ongkos transportasi bulanan. Bahkan jika kami mau kami bisa berjalan kaki saja ke kampus, hanya menyeberangi jembatan Lamnyoung, melewati deretan pertokoan di Simpang Tugu dan masuk ke gerbang kampus. Kami empat bersaudari kuliah bersamaan dan jauh dari orang tua, jadi harus pintar-pintar menghemat uang bulanan. Bagi aku sendiri sisa uang bulanan bisa digunakan untuk membeli novel baru.
Hingga suatu malam, nyali kami diuji. Malam itu aku terlambat tidur, karena menghafal diktat mata kuliah yang beberapa hari lagi akan diujikan. Hingga pukul 00.30 baru aku menutup diktat kuliah dan memejamkan mata. Entah berapa lama aku tertidur, rasa-rasanya hampir masuk ke tahap REM, ketika suara-sura keras dan guncangan di badan membuat aku terbangun. Saudari-saudariku juga sudah bangun. Suara pintu yang digedor cukup keras sangat mengganggu. Adik bungsuku yang membukakan pintu, dan betapa terkejut kami ketika melihat di depan pintu telah berdiri para tentara berseragam loreng dengan raut wajah tegang. Mereka memegang senjata laras panjang, mungkin sejenis AK 47? Entahlah! Tak hanya di pintu kami saja, mereka menggedor semua rumah. Ada sekitar dua belas rumah dengan dua kamar di komplek kos kami ini.
“Ini kos putri pak, semua yang tinggal disini mahasiswi. Tak ada yang macam-macam, semua anak baik-baik.“ Terdengar suara bapak kos yang menjelaskan pada beberapa tentara yang berjaga di halaman depan.
Para tetara itu tetap merasa harus melakukan pemeriksaan. Dengan sigap mereka memeriksa lemari baju, komputer, rak-rak buku, hingga ke dapur dan kamar mandi. Mereka juga memeriksa semua celah kamar hingga ke kolong tempat tidur dan  belakang pintu.
Untungnya mereka bekerja rapi dan tenang, barang kami tak dibikin berantakan. Dan untungnya lagi mereka tak menemukan apapun yang mencurigakan, kecuali tumpukan cucian kotor beraroma tak sedap tersembunyi di kamar mandi. 
Setelah memeriksa semua rumah mereka pergi, meninggalkan kami yang masih terpana. Kami berkumpul di depan rumah bapak kos dengan debaran jantung yang masih berdetak cepat namun perasaan yang lega. Bapak kos menenangkan kami dan menyuruh kembali istirahat.
Anehnya tak ada yang berniat pindah, kejadian itu malah menjadi obrolan seru kami hingga berhari-hari kemudian. Ada saja kejadian kecil yang kami tertawakan bersama-sama. 
“Aku tertembaklah malam itu,” ujar seorang kawan yang rumahnya berselang satu rumah dari  kami. Kami diam tidak percaya.
“Tertembak asmara! Ganteng-ganteng juga ya tentara yang datang itu” sambungnya dengan nada genit yang kami balas dengan sorakan dan tawa keras.
“Sekarang aja centil, semalam gemetaran.” sambung yang lain.
Ternyata malam itu sebelum mereka ke kos kami, terjadi baku tembak dan kejar-kejaran antara pasukan TNI dan Anggota Gerakan Aceh Merdeka. Posisi kos kami yang dekat tempat kejadian namun tersembunyi  dan sepi membuat mereka curiga dijadikan tempat persembunyian oleh GAM.
Kami tetap di rumah kos itu setidaknya sampai setahun kemudian. Karena tahun 2004 rumah kos kami termasuk dalam kawasan yang diterjang gempa bumi dan tsunami. Rumah rusak parah bersama barang-barang kami yang tertimbun lumpur hitam namun semua penghuninya selamat. Hal-hal buruk memang terjadi dalam hidup, namun kita harus menjaga semangat dan terus hidup dengan pikiran positif kan? 

1 komentar :